Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Koma


__ADS_3

Bab 8


"Penyesalan Zaidan"


Devina menggigit kencang handuk yang sengaja dia sumpal ke mulut nya, agar saat dia berteriak kesakitan tidak terdengar sama sekali.


Akhh...


Terdengar teriakan tertahan dari bibir Devina, darah pun mengucur deras dari pergelangan tangan nya yang baru saja di sayat nya.


Devina mencoba menahan sakit yang teramat sangat, sampai akhir nya, dia merasakan tubuh nya seperti melayang, pandangan nya kabur, dan berlahan semua menjadi gelap, Devina pun kehilangan kesadaran nya.


**************


Sementara di rumah sakit, Zaidan memaksa untuk pulang, dia ingin rawat jalan saja.


Awal nya pihak rumah sakit tidak mengijin kan nya, melihat kondisi Zaidan yang masih sangat membutuh kan perawatan.


Tapi sikap keras Zaidan, membuat rumah sakit menyerah, dengan pak Handoko yang bertindak sebagai penanggung jawab jika terjadi apa-apa pada pasien.


Zaidan segera meminta pak Handoko membawa nya ke rumah mewah Radthya, yang sebentar lagi menjadi milik nya, tapi Zaidan sangat pusing dengan syarat yang di buat oleh almarhum kakek nya.


Zaidan pun menyewa seorang perawat laki-laki yang bernama Adam, untuk merawat dan membantu penyembuhan nya.


Saat Zaidan, Adam dan pak Handoko keluar dari ruang perawatan, dan sedang ber jalan di lorong rumah sakit.


Tiba-tiba sebuah brankar dorong pasien di dorong begitu cepat, dengan beberapa perawat, dan dua orang setengah baya, yang terlihat kepanikan di wajah mereka, tampak wanita setengah baya itu sedang menangis di pelukan lelaki setengah baya.


Saat brankar dorong pasien itu melewati mereka bertiga, Zaidan yang biasa nya cuek dengan apa yang terjadi di sekitar nya, tiba-tiba dia merasa ingin sekali tahu apa yang terjadi dengan wanita di atas brankar dorong itu.


Saat mata nya melihat sesosok wanita yang tergolek lemah tak sadar kan diri dengan wajah yang memucat.


Deg...


"Devina ."Gumam Zaidan.


Apa lagi saat melihat pasangan setengah baya itu, Zaidan yakin jika pasien itu adalah Devina.


Karena Zaidan masih sangat mengenali kedua orang tua Devina, apa lagi saat mereka masih pacaran jarak dekat, orang tua Devina sudah menganggap Zaidan sebagai putra nya sendiri.


"Adam, kita ikuti pasien itu.."Perintah Zaidan.


Adam menatap pak Handoko.


Pak Handoko sedikit menganggukkan kepala nya.


"Yang menbayar mu aku, bukan pak Handoko, jadi kata-kata atau perintah yang kamu dengar hanya dari aku..!!"Perintah Zaidan.


"Baik tuan.."Jawab Adam yang merasa bersalah, belum sampai 1 jam jadi perawat Zaidan, diri nya sudah membuat kesalahan.


Pak Handoko hanya tersenyum, sambil menggeleng kan kepala nya, mendengar perkataan Zaidan.


Adam pun segera memutar kursi roda Zaidan, menuju lorong yang mengarah ruangan operasi.


"Apa yang terjadi pada Devina..??"Apa terjadi sesuatu pada janin nya..??"Tanya Zaidan dalam hati, tampak sangat terlihat kekhawatiran di wajah nya.


Walau pun Zaidan, mengeluar kan sumpah sarapah dan sangat benci kepada Devina, tapi jauh di relung hati nya yang paling dalam, nama Devina masih bertahta di hati Zaidan.

__ADS_1


Benar pepatah yang mengatakan, jika rasa benci dan cinta sangat lah tipis.


"Kalau benar Devina keguguran, berarti janin si bo**h itu sudah lenyap dari rahim wanita yang sangat aku cintai.."Ucap Zaidan dalam hati, sambil tersenyum smirk.


Mereka pun sampai di depan ruang operasi,.tampak kedua orang tua Devina sedang duduk di bangku tunggu, terlihat ketegangan di wajah sang lelaki, sedang kan sang wanita masih terus menangis di pelukan suami nya.


Zaidan pun menghampiri kedua orang tua Devina, tentu saja di ikuti Adam dan pak Handoko di belakang nya.


"Om, tante..."Sapa Zaidan.


Mereka pun menoleh ke arah Zaidan.


"Zaidan..!!"Panggil papa Devina.


Terlihat mereka sangat terkejut dengan keadaan Zaidan yang duduk di kursi roda, sampai kepala dan kaki di perban.


.


Zaidan pun mencium punggung tangan orang tua Devina.


"Sejak kapan kamu datang ke Jakarta nak.."Tanya mamah Devina, menatap sendu wajah Zaidan.


"Sudah tiga hari tante, hari di mana kakek menghembus kan napas terakhir nya.."Jawab Zaidan, dengan menahan kabut di mata nya.


"Om dan tante ikut berduka cita dengan kematian kakek Radthya Purnama, maaf kami tidak datang saat pemakaman.."Papah Devina berkata, dengan wajah sendu dan menyesal.


Kemudian, dia menatap lekat Zaidan.


"Apa yang terjadi pada mu nak..??"Apa kamu sudah mengetahui keadaan Devina..??"Tanya papah Devina.


Papah Devina menarik napas dalam-dalam dan membuang nya kasar.


"Maaf kan Devina nak.."Papah Devina yang bernama Baskoro itu, langsung memeluk tubuh Zaidan.


Baskoro tidak bisa menahan buliran hangat dari sudut mata nya, begitu juga Zaidan yang sudah berusaha menahan kabut di mata nya.


Mamah Devina pun kembali terisak.


Pak Handoko dan Adam yang dari tadi diam mematung, sangat heran melihat seorang Zaidan kini terlihat sangat rapuh, bahkan menetes kan air mata.


Benar pepatah mengatakan, jika salah satu kehancuran seorang laki-laki adalah wanita.


Di saat suasana haru di antara mereka, lampu ruang operasi padam, kemudian pintu pun terbuka.


Tampak dokter yang menangani Devina keluar, mereka pun segera menghampiri sang dokter.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya..??"Tanya Irma mamah dari Devina, dengan penuh kecemasan dan air mata.


Melihat ekspresi dokter, Zaidan merasakan detak jantung nya begitu cepat, dan dada nya berdebar kencang.


Perasaan nya mengatakan jika Devina tidak baik-baik saja.


"Bisa kita bicara di ruangan saya.."Pinta dokter menatap Baskoro, Irma dan Zaidan.


Baskoro mengangguk, sedang kan Irma kembali menangis di pelukan Baskoro.


"Apa saya boleh ikut dok..??"Saya ini calon suami nya pasien.."Tanya Zaidan, menatap nanar sang dokter.

__ADS_1


Perkataan Zaidan membuat Baskoro dan Irma kaget, dengan apa yang sudah terjadi pada Devina, ternyata Zaidan masih mencintai putri mereka, bahkan saat Devina berada di titik terendah.


Sedang kan pak Handoko dan Adam saling melempar pandang.


"Silah kan tuan.."Jawab dokter sambil tersenyum, dan melangkah menuju ruangan nya, di ikuti oleh Zaidan, Baskoro dan Irma.


Sedang kan pak Handoko dan Adam menunggu Zaidan di luar ruangan.


"Mohon maaf sebelum nya kami sudah berusaha semaksimal mungkin.."Dokter berkata, saat mereka sudah duduk, kecuali Zaidan yang duduk di kursi roda.


"Maksud dokter...??"Tanya Irma, tampak kegelisahan di wajah nya yang sembab.


"Tenang dulu mah.."Baskoro berkata, sambil mengelus lembut pundak istri nya.


"Gimana mau tenang, kita belum tahu bagaimana keadaan putri kita pah.."Jawab Irma ketus.


"Iya mah, sabar.."Baskoro terus mengelus lembut, pundak Irma.


"Maaf kan istri saya dok.."Ucap Baskoro merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa pak, saya mengerti.."Ucap dokter sambil tersenyum.


"Sebenar nya, apa yang terjadi dengan calon istri saya dok..??"Tanya Zaidan, sambil menatap dokter.


Dokter itu memindai penampilan Zaidan, dia sangat tahu siapa, jika Zaidan adalah pewaris dari keluarga besar Radthya.


"Mohon maaf nama bapak pasti tuan Zaidan..??"Tanya dokter.


Zaidan hanya tersenyum dan mengangguk,.


"Begini, sebenar nya pencobaan bunuh diri yang di lakukan nona Devina itu, tidak mengakibatkan fatal, karena pasien sigap di bawa ke rumah sakit.."Ucap dokter dengan hati-hati.


.


Dokter kembali menghela napas.


"Seperti nya sebelum menyayat nadi nya, nona Ana sudh melakukan benturan yang kuat di perut nya, sehingga terjadi pengumpulan darah di rahim nya.


"M..maksud nya dok.?? tanya Zaidan penasaran.


Karena penggumpalan darah ini lah, salah satu pemicu nona Devina koma.."


Deg ...


Apa..??


***********


Mohon maaf ya, jika setiap author membuat novel, cerita nya selalu membuat kepo dan pusing, karena itu lah cerita yang ingin author sajikan.


Selain ingin membuat para reader masuk ke dalam cerita, di setiap author menulis, ide-ide cerita itu langsung muncul seketika, jadi mohon maaf jika ada cerita yang menurut kalian ruwet 😁😁🀭.


Jangan lupa mampir ke novel di bawah iniπŸ‘‡



__ADS_1


__ADS_2