Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Panggil Papah Dokter


__ADS_3

Bab 71


"Penyesalan Zaidan"


Amanda terdiam sesaat mendengar perkataan Dokter Arya, kegelisahan dan kegusaran sangat terlihat di wajahnya.


"Tenang Amanda, tidak perlu panik. Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku."Ucap Dokter Arya santai, sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap lekat Amanda.


"Maaf, ini sudah waktunya makan malam, bisakah anda pulang sekarang,!?! sepertinya tidak ads lagi yang harus kita bicarakan.!!"Amanda berkata, sambil berdiri, dengan tatapan tidak suka dan mengusir.


Dokter Arya tertawa kecil, menatap lekat Amanda. Lalu dia pun bangkit dari duduknya.


"Iya benar Manda, ini waktunya makan malam. Apa kamu tidak ingin mengajakku bergabung."Dokter Arya berkata, sambil melangkah ke arah Amanda.


Amanda terlihat panik dengan sikap Dokter Arya, saat kakinya akan melangkah mundur, tiba-tiba kakinya tersandung kaki sofa, yang membuat tubuhnya tidak seimbang.


Dokter Arya langsung menangkap tangan Amanda, menariknya, sehingga tubuh mereka nyaris tanpa jarak, dan spontan kedua tangan Amanda memegang pundak Dokter Arya.


Netra mereka pun bertemu, sesaat mereka saling tatap. Jantung Dokter Arya semakin berdegup kencang, karena hembusan napas Amanda begitu terasa menyapu wajahnya.


"Mamah.!"Suara Dion mengagetkan mereka. Sontak Amanda langsung melepaskan tangannya, dan mendorong tubuh Dokter Arya menjauh.


Dokter Arya yang terkejut, mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Tampak Dion yang sedang menatap tajam mereka, dan Raza yang berada dalam gendongan Bi Imah.


"Om, ini siapa Mah.?"Tanya Raza, menatap Dokter Arys dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Dokter Arya menelan salivanya, mendapat tatapan tajam dari Raza yang notabene nya seorang anak kecil.


"Aku yakin, Raza ini benar-benar anak Zaidan, wajah, postur tubuh, suara dan caranya menatap seseorang, apalagi orang asing yang baru di lihatnya."Ucap Dokter Arya dalam hati, sambil tersenyum.


"Om ini pasti om Dokter, yang dulu bertemu di rumah Mamah.?"Tanya Dion, sambil ikut memindai Dokter Arya, dari atas sampai bawah.


"Ish, gaya dua anak kecil ini, seperti detektif saja."Gerutu Dokter Arya dalam hati. Namun, dia memperhatikan wajah anak laki-laki di depannya, dan dia meyakini jika dia adalah Dion, anak dari Doni yang dari kecil memanggil Amanda, dengan sebutan Mamah.


"Dion, Raza ini teman Mamah dan Papah, namanya Dokter Arya."Ucap Amanda, yang merasa tidak enak melihat tingkah dan pertanyaan Dion dan Raza.


"Benar khan tebakanku."Ucap Dion dengan gaya coolnya, sambil mencium punggung tangan Dokter Arya.


Dokter Arya tersenyum, sambil mengusap puncak kepala Dion.


"Ayo Raza, salim sama Om Dokter."Ucap Amanda lembut, mengambil tubuh Raza dari gendongan Bi Imah. Dengan patuh Raza mencium punggung tangan Dokter Arya.

__ADS_1


Dokter Arya mengelus mengelus lembut kepala Raza.


"Zaidan seandainya loe tahu kehadiran Raza."Batin dokter Arya, sambil menghela napas.


Amanda yang khawatir dengan tatapan Dokter Arya ke arah Raza, yang sedang berada dalam gendongannya. Mencoba memutar otak untuk mengusir Dokter Arya secara tidak langsung.


"Sayang, kalian pasti sudah lapar. Ayo kita makan, karena jam makan malam hampir lewat."Ucap Amanda lembut, sambil menyentuh pundak Dion.


"Om Dokter, mau ikut makan bersama kami.? Soalnya, malam ini papah absen makan malam."Ajak Dion, yang membuat syock Amanda.


Wajah Dokter Arya pun langsung berbinar penuh kebahagiaan.


"Dengan senang hati, jika tidak merepotkan."Jawab Dokter Arya, sambil tersenyum penuh kemenangan menatap wajah Amanda yang terlihat gusar.


"Ayo mah, Dion sudah lapar."Ajak Dion sambil memegang lengan Amanda.


Amanda mengangguk dan berusaha tersenyum.


"Raza, biar om yang gendong ya."Dokter Arya berkata, sambil menghampiri Raza yang berada di gendongan Amanda.


Tanpa Amanda duga, Raza mengangguk dan langsung pindah ke dalam pelukan Dokter Arya.


Ada perasaan hangat dan haru di hati Dokter Arya, saat menggendong tubuh gempal Raza. Seperti mimpi jika dia sedang memeluk keponakannya, dia tidak habis pikir, kenapa Amanda sampai menyembunyikan kehamilannya dari Zaidan.


Makan malam pun di lewati dengan kehangatan dan candaan, kecuali Amanda yang tersenyum dengan terpaksa.


Dokter Arya tanpa segan membantu Raza makan, dengan menyuapinya dengan penuh kasih sayang.


Dengan perasaan bercampur aduk, Amanda merasakan kesedihan yang teramat sangat. Tiba-tiba bayangan wajah Zaidan hadir di pelupuk matanya.


"Mungkin, dengan sepenuh hati kamu akan menerima keberadaan Raza, tapi tidak dengan keberadaanku, seorang gadis yatim piatu, yang di besarkan di Panti Asuhan, tanpa mempunyai kelebihan dan daya tarik sama sekali di matamu."Ucap Amanda di dalam hati, dengan menatap nanar ke arah Raza dan Dokter Arya yang terlihat sudah akrab.


Tanpa di sadari, mata bulat Amanda mulai berkabut.


"Mamah, kenapa.?"Pertanyaan Dion mengagetkan Amanda. Begitu juga dengan Dokter Arya, yang langsung menatap lekat Amanda.


"Tidak sayang, mamah tidak apa-apa. Mamah hanya teringat dengan Papah Doni Anggara saja, seharusnya dia makan malam bersama kita malam ini."Elak Amanda, yang mencoba menahan kabut di matanya.


Dokter Arya menyunggingkan senyumnya, mendengar jawaban Amanda.


"Besok Papah Doni janji, mau sarapan bersama kita."Ucap Raza di tengah mulutnya yang sedang mengunyah.


"Raza sayang sama Papah Doni ya.?"Tanya Dokter Arya, yang mendapatkan tatapan tajam dari Amanda. tetapi, Dokter Arya bersikap santai, sambil kembali tersenyum.

__ADS_1


"Sayang dong, Papah Doni Anggara adalah Papah terbaik."Jawab Raza polos.


"Oh ya,! Papah Dokter juga Papah yang terbaik, tidak kalah dengan papah Doni."Jawab Dokter Arya santai.


Amanda langsung tersedak, mendengar ucapan Dokter Arya. Dion segera menyodorkan segelas air putih ke hadapan Amanda.


"Terimakasih sayang."Ucap Amanda, langsung meminum air putih itu sampai tandas.


"Mamah tidak apa-apa.?"Tanya Raza.


"Tidak sayang, tadi Mamah makannya buru-buru. Ayo cepat habisksn makannya, setelah ini kita harus segera istirahat, karena besok kita akan melewati hari yang sibuk."Amanda berkata dengan lembut.


"Siap Mamah Cantik."Ucap Dion dan Raza bersamaan. Membuat Amanda tersenyum bahagia.


Kembali Dokter Arya, melihat pesona pada diri Amanda, Dia terus menatap lekat Amanda.


Saat netra mereka bertemu, Dokter Arya tersenyum hangat. Namun, di balas dengan tatapan tidak suka dari Amanda.


Makan malam selesai, Amanda terpaksa mengantar Dokter Arya sampai depan rumah menuju mobilnya, karena Raza memintanya. Sedangkan, Dion lebih memilih kembali ke kamarnya.


"Papah Dokter pulang dulu ya anak ganteng, nanti Papah datang lagi."Ucap Dokter Arya, sambil mencium pipi Raza yang berada dalam gendongannya.


"Hati-hati Papah Dokter."Jawab Raza, yang membalas mencium pipi Dokter Arya. Tentu saja, membuat hati Dokter Arya begitu bahagia. Sedangkan Amanda sendiri, menatap Dokter Arya dengan wajah kesal. Ingin sekali dia segera mengusir lelaki berkacamata itu.


Dokter Arya lagi-lagi menyunggingkan sebuah senyuman, karena dia sangat mengetahui kekesalan Amanda. Dia pun segera masuk ke dalam mobil, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Sambil tersenyum smirk, Dokter Arya mengambil ponselnya, dan mengetik pesan.


{ Aku baru saja makan malam, bersama orang-orang yang spesial }.


Sebuah senyum smirk, kembali tersungging di bibirnya.


**************


Apa yang sedang di rencanakan oleh Dokter Arya.?


Siapa yang di kirimi pesan oleh Dokter Arya?


Ceritanya masih memerlukan banyak bab, jadi tolong bersabar ya.


Author sedang berusaha untuk selalu menulis.


Jangan lewatkan setiap karya-karya Author👇

__ADS_1



__ADS_2