Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kembali dan menikahlah denganku


__ADS_3

Bab 49


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Zaidan menunggu dengan gelisah, tampak kekhawatiran di wajahnya. Sesekali dia menghela napas, mengusap kasar wajah dan rambutnya.


Zaidan tidak membawa Amanda ke rumah sakit, tempat di mana dokter Arya praktek. Karena dia tidak mau, jika dokter Arya yang memberikan pengobatan kepada Amanda.


"Bagaimana keadaan Amanda, nak..??"Suara lembut, terdengar di telinga Zaidan.


Suara yang mampu menggetarkan hatinya, tapi dia selalu berusaha untuk menepisnya.


"Amanda tidak ada urusan dengan kalian."Lebih baik kalian pergi dari sini.!!"Ucap Zaidan penuh penekanan, dengan sorot mata tajamnya.


"Kamu tidak berhak untuk mengusir kami, karena Amanda bukan lagi tanggung jawabmu..!!"Jawab dokter Arya sambil tersenyum sinis, dengan tatapan yang tak kalah tajam.


Zaidan yang sedang duduk, langsung berdiri mendengar jawaban dokter Arya. Terlihat emosi sudah menguasai dirinya.


"Tolong jangan bertengkar lagi, ini rumah sakit."Pinta Mira, dengan wajah yang mulai cemas.


"Apa kalian tidak sadar, karena perbuatan kalianlah yang membuat Amanda harus berada di sini.."Mira berkata, dengan suara yang mulai bergetar. Tampak air mata sudah kembali membasahi wajahnya.


Zaidan dan dokter Arya diam membisu. dokter Arya segera meraih tubuh Mira ke dalam pelukannya,. sedangkan Zaidan hanya menatap ke arah Mira.


Ada kesedihan di hatinya, ingin sekali dia memeluk wanita yang berada di hadapannya. Tapi rasa sakit di masa lalu mengalahkan keinginannya.


"Sebelum aku menemukan bukti jika dia tidak bersalah, aku akan tetap menjaga jarak dengan nya."Janji Zaidan dalam hati, dengan terus mencoba mengingkari hati kecilnya.


Di tengah kegalauan Zaidan, pintu ruang pengobatan Amanda pun terbuka.


"Dengan keluarga Amanda.??"Sebuah suara dari seorang lelaki berjas putih, mengejutkan mereka.


"Iya dok, saya suaminya."Zaidan langsung menghampiri sang dokter.


"Istri anda sudah sadar tuan, hanya sedikit syock dengan kejadian yang baru saja di alaminya. Dan untuk luka memar di wajahnya, membutuhkan beberapa waktu untuk mengobatinya."Dokter memberikan penjelasan.


Zaidan mengangguk dan bernapas lega.


"Apa saya bisa menemuinya sekarang, dok.?"Tanya Zaidan, dengan wajah tidak sabar, ingin segera masuk menemui Amanda.


"Silahkan tuan."Ucap dokter, sambil tersenyum.


Zaidan tersenyum bahagia, dia pun segera melangkah masuk. Tapi langkahnya terhenti, saat suara lirih dengan isakan tangis, terdengar meminta sesuatu.


"Zaidan..Boleh kami ikut melihat Amanda.?"Suara Mira lirih, sambil menahan Isak tangisnya.


Zaidan menghela napas.


Dia tidak menjawab apa pun, tapi ekspresi wajahnya tidak menunjukkan keberatan untuk Mira dan dokter Arya ikut masuk ke dalam.


Seketika, senyum bahagia mengembang di bibir Mira.

__ADS_1


"Amanda, semoga kehadiranmu bisa menyatukan aku dan putra yang puluhan tahun sangat aku rindukan."Harapan Mira di hatinya.


Mira dan dokter Arya, mengikuti langkah Zaidan.


"Amanda.!!"Teriak Zaidan. Bertepatan dengan suster, yang baru saja mengoleskan krim pelembab di kedua wajah Amanda, yang tampak bengkak dan membiru.


"Amanda, maafkan aku.."Zaidan berkata, dengan wajah dan sorot mata penuh penyesalan.


Zaidan menatap nanar wajah Amanda, hatinya bagaikan teriris sembilu melihat keadaan kedua pipi Amanda. Dia membayangkan, betapa sakitnya yang di rasakan Amanda, saat bogem kencangnya dan dokter Arya mendarat di kedua wajah Amanda.


"Syukur, pukulan itu tidak merusak kedua rahang wajahnya."Ucap dokter, sambil tersenyum.


Zaidan tersenyum lega.


"Nyonya Amanda sudah bisa pulang, cukup dengan berobat jalan saja."Ucap dokter lagi.


"Baik dok, terimakasih banyak dok."Ucap Zaidan, sambil tersenyum.


Dokter menjawab dengan anggukan, ke arah Zaidan, Amanda, dokter Arya dan Mira. Di balas mereka dengan anggukkan dan senyuman.


Dokter dan perawat pun, melangkah keluar.


"Amanda, aku mohon maaf sekali lagi."Zaidan berkata, menatap lekat netra Amanda, sambil meraih jemarinya , kemudian membawa ke bibirnya, dan mencium hangat punggung tangannya.


Dokter Arya yang melihat itu, tampak sekali terbakar api cemburu.


Mira memegang lengan Arya, dan menggelengkan kepalanya, saat dokter Arya ingin menghampiri Zaidan, yang sedang mencium lembut punggung tangan Amanda.


"Berapa kali aku bilang, jika kita bukan suami istri lagi.!!"Teriak Amanda kesal.


"Aku menceraikanmu hanya lewat kata-kata, belum ada ketuk palu dari pengadilan agama..!!"Sergah Zaidan, semakin lekat menatap netra Amanda.


"Talak yang kamu jatuhkan, sangat sah di hukum agama."Ucap Amanda, yang berusaha menatap sinis ke mata Zaidan.


Zaidan kembali menghela napas, dan mengusap kasar wajahnya.


"Aku akan menikahimu, jadilah istriku lagi,.."Pinta Zaidan, dengan tatapan penuh harap. Dia kembali meraih jemari tangan Amanda. Tetapi, Amanda segera menarik tangannya.


"Aku butuh waktu untuk berpikir."Ucap Amanda, sambil memalingkan wajahnya. Dia tidak mau menatap netra Zaidan, yang sudah membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


"Baiklah, aku akan memberimu waktu, tapi aku berharap mendapat jawaban yang terbaik darimu."Ucap Zaidan, tampak tatapan penuh harap di mata Zaidan.


"Apa pun jawabannya nanti, tergantung bagaimana kamu menyikapinya tuan."Jawab Amanda, dengan senyum getir yang terulas di bibirnya.


Zaidan kembali merasakan kepedihannya, saat Amanda memanggilnya dengan sebutan tuan.


Zaidan menarik dan membuang napasnya kasar.


"Apa pun keputusanmu nanti, aku akan menghargainya, seperti kamu yang menghargai dan menuruti semua keputusanku.." Jawab Zaidan.


"Walaupun kamu merasa berat dan terluka.."Tolong maafkan aku.."Zaidan berkata sangat lirih, sambil menunduk.

__ADS_1


Suasana hening sesaat, mereka sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing.


Tiba-tiba, di saat keheningan. ponsel Zaidan berdering. Dengan gugup, Zaidan sedikit menjauh dari mereka untuk menerima panggilan telpon.


Dokter Arya tersenyum smirk ke arah Zaidan.


"Hallo.."


"Apa, kamu sudah berada di lobby rumah sakit.??


"Baiklah, aku akan segera kesana.."


Zaidan menutup ponselnya, menatap geram ke arah dokter Arya, yang membalas tatapannya dengan penuh kemenangan.


Zaidan, segera melangkah menghampiri Amanda yang masih duduk di ranjang.


"Amanda, aku minta maaf tidak bisa mengantarkanmu."Zaidan berkata, dengan tatapan penuh penyesalan.


Hatinya kini berkecamuk. Devina, wanita yang setiap saat selalu membuatnya jatuh cinta, yang kini sudah menjadi miliknya seutuhnya.


Sedangkan Amanda, wanita yang tidak pernah di sangka menjadi istrinya. Wanita yang kemarin baru saja di jatuhkan talak olehnya, ternyata bisa menempati sebagian relung hatinya. Padahal, baru beberapa bulan mereka hidup bersama.


Zaidan menyadari semua itu, saat dia meminta haknya sebagai suami dengan paksa. Dan saat semua sudah terlambat, karena kata talak sudah keluar dari bibirnya.


"Untuk apa kamu mengantar Amanda.??"Bukankah, istri yang sangat kamu cintai itu sudah menunggumu di lobby..??"Pertanyaan dokter Arya membuat mereka terperanjat.


Amanda yang berusaha menghindari kontak mata dengan Zaidan, kini menatap nanar ke arah Zaidan.


Mira yang mengerti perasaan Amanda, langsung mengelus lembut pundak Amanda.


Sementara itu, tampak Zaidan semakin geram, wajahnya merah padam, urat-urat leher yang sudah menegang, sampai terdengar gemeretak di giginya, dan kedua telapak tangan yang mengepal keras.


Zaidan menatap nyalang dokter Arya, dan langsung menarik kasar kerah kemejanya.


"Hentikan..!!"Teriak Amanda, menatap tajam Zaidan dan dokter Arya.


"Keluar kalian berdua..!!"Amanda kembali berteriak.


****************


Sebelum memutuskan sesuatu, berpikirlah dulu, mainkan logika, dan kesampingkan emosi dan ego.


Jangan sampai, kalian merasakan apa yang Zaidan rasakan 😁.


Maaf ya baru up, lagi sibuk di kejar laporan 2022


Jangan lupa karya author yang lainnya👇



__ADS_1


__ADS_2