Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Maafkan Aku Ini Salahku


__ADS_3

Bab 80


"Penyesalan Zaidan"


Jantung Zaidan semakin berdetak kencang, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ketakutannya melihat Amanda menangis dan terluka, membuatnya di kuasai rasa bersalah tiada tara. Dia takut sekali jika rentetan musibah yang terjadi karena di sebabkan adanya dendam atau kebencian kepadanya.


Satu persatu data mayat di indentifikasi, di ruang jenazah sudah ada dari pihak kepolisian dan tim forensik, ternyata semua data nama dan jenazah terindentifikasi semuanya, termasuk jenazah yang bernama Winda Wulandari, yang lebih di kenal dengan sebutan bunda.


Zaidan menatap nanar jenazah wanita setengah baya, yang hampir enam puluh persen mengalami luka bakar. Dia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya kepada Amanda.


"Tolong makamkan mereka di lahan yang sama dan secara layak, biayanya saya yang menanggung" Zaidan berkata tegas, namun, jauh di hatinya begitu rapuh dan galau, terutama jika teringat wajah Amanda.


Prosesi pemakaman seluruh penghuni panti di lakukan hari itu juga, Zaidan hanya memberitahu dokter Arya. Saat prosesi pemakaman selesai, beberapa anggota polisi menghampiri Zaidan.


"Tuan Zaidan, ada yang ingin kami bicarakan mengenai kecelakaan yang menimpa nyonya Amanda dan tuan Doni, serta kebakaran yang terjadi di panti" ucap salah satu petugas.


Zaidan tersentak, anak buahnya juga baru memberikan beberapa informasi penting mengenai tragedi yang terjadi.


"Informasi apa yang bapak-bapak dapatkan,?" tanya Zaidan.


"Setelah kami selidiki, ternyata kosleting listrik di dalam panti, itu adalah kesengajaan, dan di jenazah penghuni panti di temukan zat yang mengandung obat tidur, di pastikan setelah mereka menyantap makanmalam yang sudah di bubuhi oleh obat tidur" jelas polisi yang membuat Zaidan ternganga tak percaya.


"Kami juga tidak percaya, jika ada orang yang sejahat dan setega itu" ucap polisi, sambil menggeleng kepalanya.


"Dan satu lagi hasil penyelidikan kami, tentang kecelakaan yang menimpa nyonya Amanda dan tuan Doni" pernyataan polisi membuat Zaidan tersentak.


"Ternyata kecelakaan mobil mereka di sebabkan, ada benturan keras di bagian kanan mobil, sehingga mobil yang di kendarai tuan Doni lepas kendali, dan membuat kerusakan paling parah pada posisi pengemudi, sedangkan, sisi kiri tidak terlalu parah" jelas polisi.


"Itulah penyebab kenapa tuan Doni mengalami luka yang sangat parah, di bandingkan nyonya Amanda" jelas polisi lagi, yang membuat Zaidan terdiam, mencoba mencerna perkataan polisi.


"Dalam arti, jika ada orang yang sengaja ingin melukai tuan Doni" Zaidan mencoba berspekulasi.


"Sepertinya begitu tuan Zaidan, dan kebakaran di panti ada hubungannya juga dengan tuan Doni, berdasarkan informasi yang di dapat, jika tuan Doni dan nyonya Amanda berasal dari panti yang sama" jawab petugas polisi yang bernama Anton.


Zaidan menghela napas, sambil memijat pelan keningnya. Dia yakin jika tujuan utama mereka bukanlah Amanda dan Doni, incaran mereka sebenarnya adalah dirinya. Amanda adalah target utama untuk membuatnya hancur.


Zaidan masih berpikir keras, kenapa justru Doni di buat terluka parah, dan penghuni panti yang di jadikan korban mereka, tiba-tiba Zaidan teringat sesuatu.

__ADS_1


"Razaaa" Zaidan teringat Raza, wajahnya langsung berubah pucat dan gelisah.


"Mohon maaf pak, sepertinya saya harus kembali ke rumah sakit" ucap Zaidan dengan wajah panik, sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Silahkan tuan Zaidan, kami akan memberikan informasi perkembangan penyelidikan kasus ini" ucap polisi.


"Terimakasih pak, saya permisi sekarang" Zaidan mengangguk hormat, dan bergegas meninggalkan area pemakaman.


Kembali Zaidan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak mau terjadi apa-apa dengan orang-orang yang di sayanginya. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya, seketika wajah Zaidan merah padam.


"Sudah ku duga ini perbuatan mereka, tetapi, siapa yang sudah membantu mereka dan apa tujuan mereka?" tanya Zaidan kepada diri sendiri, sambil mengusap kasar wajahnya.


"Akhh..akan ku bun*h kalian, jika berani menyentuh mereka..!!" Teriak Zaidan, sambil memukul setir mobil.


Tak lama mobil Zaidan pun memasuki area parkir rumah sakit, dia bergegas turun saat mobilnya sudah terparkir. Sambil berlari dia segera menuju ruang perawatan Amanda.


Dia menghentikan langkahnya saat sudah mendekati kamar Amanda, tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, tampak kamar perawatannya terlihat sangat sepi, saat dia membuka pintu, ternyata kamar itu sudah kosong dan terlihat sangat sunyi.


Jantung Zaidan semakin berdegup kencang, dia segera berlari ke ruang ICU mencari keberadaan Amanda, Raza, Dion dan mamahnya. Namun, di ruang ICU dia hanya menemukan Doni yang masih tak sadarkan diri di temani oleh dua orang perawat yang bertugas berjaga.


Zaidan terus mencari keberadaan Amanda. Berkali-kali dia menelepon ke ponsel dokter Arya dan Mira, namun tidak ada jawaban.


"Zaidan!" seru suara yang sangat di kenali Zaidan.


Zaidan menoleh ke arah asal suara, tampak dokter Arya yang sedang mendorong kursi roda Amanda.


"Amanda" panggil Zaidan, langsung menghampiri Amanda dengan wajah lega.


"Amanda kamu dari mana, kamu baik-baik saja?" tanya Zaidan, langsung bersimpuh di hadapan Amanda, dan memegang erat jemari Amanda, dengan tatapan takut kehilangan.


Amanda terpaku dengan sikap Zaidan, dia hanya msmpu menelan salivanya, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Zaidan.


"Aku habis membawa Amanda ke taman sebentar setelah dia sadar, Zay" ucap dokter Arya, setelah meminta maaf kepada dokter yang tadi ingin di pukul Zaidan.


"Raza dan Dion, pulang bersama mamah, kasihan mereka jika berlama-lama di rumah sakit".ujar dokter Arya, sambil memegang pundak Zaidan.


"Bagaimana keadaan panti Zay??" tanya dokter Arya, yang membuat Amanda menatap lekat Zaidan.

__ADS_1


Tatapan Amanda bagaikan pedang yang menusuk jantungnya, sepertinya dia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Katakan mas, apa bunda, mba Narti dan anak-anak panti baik-baik saja??" tanya Amanda yang terus menatap Zaidan.


Zaidan menelan saliva nya, dia hanya diam mematung. Amanda yang melihat Zaidan hanya diam saja, merasa sangat kesal.


"Dokter Arya, boleh saya pinjam ponselnya?" pinta Amanda.


"Untuk apa ?" tanya Zaidan.


"Itu bukan urusanmu,! boleh saya pinjam ponselnya dok?" jawab Amanda ketus.


"Aku akan memberitahu apa yang terjadi" ucap Zaidan, saat dokter Arya ingin memberikan ponselnya.


Zaidan menatap lekat Amanda, begitu juga sebaliknya. Sambil menarik napas kasar, Zaidan berkata..


"Panti sudah hangus terbakar tanpa sisa" Zaidan berkata dengan suara lirih.


"Lalu, bagaimana nasib bunda dan anak-anak panti??" tanya Amanda, dengan wajah panik dan mata yang sudah beranak sungai.


Susah payah Zaidan menelan salivanya, dan tiba-tiba dia langsung memeluk erat tubuh Amanda.


"Maafkan aku Amanda, ini semua kesalahanku, aku tidak pernah memberikan kebahagiaan untukmu, hanya luka dan kesedihan yang aku torehkan di hatimu" Zaidan berkata dengan suara bergetar, buliran hangat tanpa permisi keluar dari sudut matanya.


Amanda yang menyadari apa yang sedang terjadi, kembali merasa sesak di dadanya, semua terasa berputar, tubuhnya bagaikan melayang, sakit kepala yang hebat kembali menyerangnya. Tetapi, dia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya dengan tidak berteriak. Sehingga semua kembali menjadi gelap.


***************


Apa benar, yang di incar sebenarnya adalah Zaidan??


Apakah orang dari masa lalu, karena sakit hati datang kembali untuk membalas dendam?


Kalau benar, siapakah orang yang telah membantu memuluskan rencana mereka?


Jawabannya di up berikutnya.


Yuk kepoin "Belenggu dendam Alaska"

__ADS_1



__ADS_2