
Bab 78
"Penyesalan Zaidan"
"Ada apa bang?" tanya Zaidan panik, melihat wajah dokter Arya yang memucat, sambil menelan kasar salivanya.
"Arya, ada apa nak?" Mira bertanya, sambil memeluk tubuh Raza.
"Amanda dan Doni kecelakaan, sekarang mereka berada di rumah sakit XX." Jawab dokter Arya, dengan tatapan nanar.
"Apaaa...??" Teriak mereka serempak, dengan wajah terkejut.
"Ayo, cepat kita kesana.!" Seru Zaidan, langsung membawa Raza dalam gendongannya, dan menggandeng tangan Dion.
Dokter Arya langsung menggandeng tangan Mira, mereka pun segera meninggalkan restoran dan bergegas menuju rumah sakit XX.
Setibanya di rumah sakit, dengan keadaan panik mereka langsung mencari keberadaan Amanda dan Doni.
Amanda dan Doni sedang di tangani di ruang IGD, dokter Arya berbicara dengan pihak rumah sakit, sehingga Dion dan Raza di ijinkan untuk masuk.
Saat mereka masuk, tampak dokter dan perawat sedang memasang banyak alat medis pada tubuh Doni, dan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
Dokter dan perawat juga tampak sedang menggunakan alat pacu jantung atau pacemaker, dengan layar monitor di samping Doni.
Dokter Arya memeluk erat Dion, mengelus punggungnya, memberikan kekuatan kepada anak laki-laki itu. Begitu juga Zaidan yang memeluk tubuh Raza dalam gendongannya. Sedangkan Mira, wanita setengah baya itu sudah menangis sesenggukan.
Di tengah kesedihan dan kekhawatiran mereka, tiba-tiba layar monitor yang berada di samping ranjang Doni mengeluarkan bunyi yang membuat semua orang pasti tidak ingin mendengarnya.
Dokter dan perawat masih terus berusaha melakukan pertolongan, sampai akhirnya layar monitor itu menunjukkan kembali ritme jantung Doni, yang membuat mereka semua bernapas lega.
"Bagaimana keadaan saudara saya dokter Hans ?" tanya dokter Arya. kepada dokter yang menangani Doni.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya dok, tapi untuk sementara ini pasien masih dalam keadaan koma, dan pasien akan segera kami di pindahkan ke ruang ICU" jawab dokter yang bernama Hans, yang merupakan sahabat dokter Arya.
"Syukurlah" Dokter Arya menarik napas lega.
"Papah" panggil Dion lirih.
Dion melepaskan diri dari pelukan dokter Arya, langsung memeluk tubuh Doni yang tak berdaya. Tampak punggung Dion yang terguncang.
"Dion, papah Doni harus segera di bawa ruang ICU, kita do'akan ya untuk kesembuhannya" Dokter Arya mengelus lembut punggung Dion, dan kembali membawa Dion ke dalam pelukannya.
"Raza juga ingin peluk papah Doni" rengek Raza, berusaha turun dari gendongan Zaidan.
Zaidan tidak menurunkan Raza, dia membawanya mendekati ranjang Doni.
"Papah" Raza menggenggam tangan Doni, memanggil dan mencoba membangunkannya.
Sesak yang di rasakan mereka, melihat Dion dam Raza yang meratapi keadaan Doni.
"Sayang, papah Doni mau di pindahkan dulu ya, biar papahnya cepat sadar" ucap Mira lembut.
Zaidan tersentak, dia teringat Amanda.
"Kemana pasien wanita yang bersamanya dok, atas nama Amanda Maheswari ?" Zaidan bertanya, dengan kekhawatiran teramat sangat di wajahnya.
"Nyonya Amanda Maheswari, sudah di bawa ke ruang perawatan tuan, karena lukanya tidak terlalu parah, hanya lecet dan mengalami benturan di kepalanya" jawab salah satu perawat.
"Bang, tolong urus Doni, gw mau lihat Amanda.!" Pinta Zaidan.
"Pergilah Zay, nanti setelah urusan Doni sudah beres, gw akan melihat keadaan Amanda" jawab dokter Arya sambil mengangguk.
"Mamah mau lihat keadaan Amanda, atau menunggu di sini?" tanya dokter Arya.
"Mamah ikut Zaidan, mamah khawatir dengan keadaan Amanda" jawab Mira.
"Kamu mau di sini atau menemani papahmu Dion" tanya Zaidan.
"Aku di sini saja bersama om dokter" jawab Dion lirih.
"Baiklah, bang gw titip Dion sama kak Doni"
__ADS_1
"Oke Zay, semoga tidak ada luka yang membahayakan Amanda" jawab dokter Arya.
Zaidan mengangguk, dan segera beranjak pergi dari ruang IGD sambil menggendong kembali tubuh Raza, serta menggenggam jerami tangan sang mamah.
Dokter Arya menatap nanar punggung mereka yang menghilang di balik pintu, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Begitu juga dengan tatapannya kepada Dion dan Doni, menatap dengan wajah penuh penyesalan.
"Maafkan aku Doni" ucap dokter Arya, menatap tubuh Doni yang akan di bawa menuju ruang ICU.
**************
Zaidan, Raza dan Mira sudah sampai di ruang tempat Amanda di rawat. Tampak Amanda yang terbaring lemah, dengan perban mengelilingi kepalanya.
"Amanda" teriak Mira sambil memeluk tubuh Amanda yang lemah.
"Mamah Mira" panggil Amanda, membalas pelukan Mira.
Mereka pun berpelukan sesaat sambil menangis.
"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Mira, dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja Mah, hanya bagian kepala, badan, kaki dan tangan saja" jawab Amanda.
"Mamah" panggil Raza.
"Raza sayang" ucap Amanda, dengan perasaan bercampur aduk, melihat Raza yang berada di gendongan Zaidan.
Zaidan langsung menurunkan Raza, dan Raza langsung memeluk tubuh Amanda.
Amanda menangis penuh haru. Dia tidak menyangka masih di berikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya, jika mengingat kecelakaan naas yang baru saja menimpa dia bersama Doni.
"Papah Doni di mana sayang" Amanda melepaskan pelukannya, menatap Raza dengan kekhawatiran dan ketakutan di wajahnya. Terakhir dia melihat Doni dalam keadaan wajah berlumuran dar*h dan sudah tidak sadarkan diri.
"Doni sekarang sedang berada di ruang ICU, Amanda" jawab Mira.
"Tetapi keadaan kak Doni, bagaimana sekarang ?" tanya Amanda dengan buliran bening yang sudah mengalir deras di wajahnya.
"Kita berdo'a untuk kesembuhan kak Doni" Zaidan berkata, sambil menghampiri Amanda. Duduk di tepi ranjang di sebelah Raza.
"Mamah jangan sedih, Papah Doni pasti sembuh, ada om dokter Arya yang akan mengobati Papah Doni" Raza berkata, sambil mengusap lembut air mata Amanda.
Zaidan dan Mira terpaku menatap perlakuan Raza terhadap Amanda, tanpa di sadari, mereka ikut larut dalam suasana. Tampak Mira yang sudah mengusap kasar air matanya., sedangkan Zaidan sekuat mungkin menahan sesuatu yang memaksa ingin keluar dari sudut matanya.
"Mas, tolong berikan pengobatan yang terbaik untuk kak Doni" ucap Amanda memohon.
"Pasti Amanda, tanpa kamu minta kita akan melakukan yang terbaik untuk pengobatan kak Doni" Zaidan berkata dengan senyum yang mengembang, walaupun hatinya terasa sakit, karena Doni sangat berarti dalam hidup Amanda dan Raza.
Tiba-tiba Amanda teringat Dion.
"Kakakmu Dion di mana, sayang,?" Amanda bertanya, dengan wajah panik.
"Kak Dion bersama dokter Arya, menjaga Papah Doni" jawab Raza.
"Mas, aku ingin bertemu mereka" pinta Amanda, menatap lekat Zaidan.
Zaidan terdiam sesaat.
"Mas, aku mohon" Amanda memohon, dengan tatapan nanarnya, membuat Zaidan tidak mampu untuk menolak.
Zaidan menghela napas.
"Aku akan membicarakannya ke pihak rumah sakit" jawab Zaidan, menatap lekat wajah Amanda.
Zaidan baru menyadari jika Amanda adalah seorang wanita yang mempunyai daya tarik tesembunyi, pantas saja seorang Doni Anggara begitu mencintainya, dan melakukan apa pun untuk Amanda.
"Terimakasih mas" ucap Amanda, saat Zaidan ingin melangkah keluar.
Zaidan menoleh dan tersenyum, dan bergegas ke luar dari ruangan perawatan Amanda.
Setelah berbicara dengan pihak rumah sakit, Amanda pun di ijinkan untuk menemui Doni.
Tampak Zaidan mendorong kursi roda Amanda, dengan Raza yang berada di pundaknya. Mira dan seorang perawat yang di tugaskan menemani mereka terlihat saling melempar senyum.
__ADS_1
Orang-orang yang melihat mereka merasa iri dengan Amanda, karena mereka menganggap kalau Amanda wanita yang sangat beruntung, bisa mendapatkan suami yang super tampan dan penuh kasih sayang terhadap istri dan anaknya.
Amanda merasa jantungnya berdegup kencang, ada rasa bahagia yang menyeruak di hatinya. Namun, dia tidak mau egois, karena Doni sedang berjuang antara hidup dan mati. Sedangkan Zaidan, tampak senyum kebahagiaan terukir di bibirnya.
Tak lama, mereka sampai di depan ruang ICU, tampak dokter Arya yang sedang duduk di samping Dion.
"Dion" panggil Amanda.
Mereka pun menoleh.
"Mamah" Dion langsung menghampiri Amanda, dan menghambur ke pelukannya.
Dokter Arya kembali menatap mereka, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Papah, belum sadar Mah" ucap Dion lirih, dengan air mata yang mengalir.
"Iya sayang, jangan menangis. Kita berdo'a untuk kesembuhan Papah." Amanda berkata, sambil membelai penuh kasih kepala Dion.
"Ayo temani mamah menemui papah," ajak Amanda sambil menghapus air mata Dion.
Dion pun mengangguk. Zaidan segera mendorong kursi roda Amanda, tetapi, tiba-tiba ponsel Zaidan berdering, tampak nomor asing terpampang di layar ponselnya.
"Raza, sama om dokter yuk, Papah Zaidan mau angkat telepon dulu" Dokter Arya berkata, sambil mengangkat Dion dari punggung Zaidan.
"Tunggu sebentar Amanda, aku angkat telepon dulu" Zaidan berkata sambil menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
Amanda menjawab dengan anggukan.
"Hallo"
"Jangan main-main anda"
Tampak wajah Zaidan yang memerah dan terlihat tegang, membuat semua terkejut dan khawatir.
"Baik, kami akan segera kesana, terimakasih informasinya" jawab Zaidan dengan suara melemah.
"Ada apa Zay ??" tanya Mira, yang melihat perubahan di raut wajah puteranya.
Zaidan menghela napas dan menatap nanar Amanda, tentu saja membuat jantung Amanda berdegup semakin kencang, bukan karena tatapan Zaidan, tapi hal yang akan di sampaikan Zaidan. Perasaan Amanda mengatakan jika ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
"Amanda" panggil Zaidan ragu.
"Ada apa mas?" tanya Amanda dengan raut wajah gelisah dan cemas.
"Baru saja ada kabar, jika..."
Zaidan menjeda perkataannya. Dia menghela napas dan mengusap kasar wajahnya.
"Ada berita apa Zay ?" tanya dokter Arya.
"Iya mas, ada apa ? cepat katakan !!" tanya Amanda, dengan ekspresi penuh tanya.
"Panti kebakaran.."
Deg...
*******************
Apa yang di sembunyikan oleh dokter Arya ?
Apakah Doni akan sadar dari komanya ?
Apa yang menyebabkan mobil mereka mengalami kecelakaan ?
"Mengapa kecelakaan yang di alami Amanda dan Doni, bertepatan dengan kebakaran di Panti ??
Apakah ini suatu kebetulan atau di sengaja ?
Jawabannya, tunggu di up berikutnya 😁🤭
Jangan lupa, msmpir ke novel terbaru, tang ikut omba di "You Are A Writer Season 9" 👇👇
__ADS_1