
Bab 27
"Penyesalan Zaidan"
"Maaf Vin, aku belum bisa memberikan jawaban, tapi yang pasti pernikahan kami hanya sementara.."Zaidan berkata, sambil menatap dalam Devina.
"Tapi, aku tidak mau jika pernikahan kita hanya pernikahan siri.."Ucap Devina lirih, terdengar kesedihan di dalam suara nya.
"Tidak ada pernikahan siri, Amanda pasti merestui hubungan kita, sayang.."Zaidan, membelai lembut wajah Devina, menatap penuh cinta.
"Amanda, nama yang sangat bagus, pasti dia wanita yang cantik dan istimewa.."Terdengar, kecemburuan di suara Devina.
"Dia, hanya wanita sederhana yang tidak ada istimewa nya, aku juga tidak mengerti, kenapa kakek menjodohkan aku dengan nya."Zaidan, menarik napas kasar.
"Sudah lah, mungkin almarhum tuan Radthya, mempunyai alasan kenapa dia memilih seorang Amanda menjadi istri mu.."Ucap Baskoro.
"Tapi, apa pun alasan nya, kamu harus menikahi putri saya secara resmi.."Ucap Baskoro lagi, ucapan nya ibarat perintah yang tidak bisa di bantah.
"Iya om, kami akan menikah resmi.."Zaidan, semakin yakin, jika kebahagiaan nya hanya lah bersama Devina.
"Kami mempercayai mu Zaidan, tidak masalah buat kami, jika kamu sudah menikah."Ucap Baskoro.
"Baik lah om, lusa kita akan pulang ke Indonesia, sekaligus mempersiapkan pernikahan kami."Jawab Zaidan, dengan penuh keyakinan.
Baskoro dan Irma, mengangguk dan tersenyum.
Devina tersenyum bahagia, dan langsung memeluk erat Zaidan.
Zaidan membalas pelukan Devina, sambil mencium puncak kepala Devina penuh cinta.
***************
[ Hari ini, kami tiba di Indonesia ]
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Amanda.
Amanda, mengerut kan kening membaca pesan itu.
"Kami..??"Siapa yang dia maksud..??"Tanya Amanda, dengan jantung berdegup kencang.
Dia melirik jam pergelangan tangannya, dua jam lagi tugas mengajar nya selesai.
Kembali pesan masuk ke dalam ponsel nya.
[Jam 12, mungkin kami tiba, kita akan makan siang bersama, ada hal yang penting yang akan di bicarakan.]
Amanda kembali melirik jam di pergelangan tangan nya.
"Sekarang, sudah pukul 10, tidak mungkin menunggu jam mengajar selesai.."Amanda berkata dalam hati.
"Padahal, hari ini aku sudah berjanji dengan bunda, setelah pulang mengajar mau ke panti.."Ucap Amanda lagi dalam hati, sambil menghela napas.
Amanda pun, segera bangkit dari duduk nya, menuju ruangan kantor menemui ketua yayasan untuk ijin pulang lebih awal.
*********
__ADS_1
Jam 11 Amanda sampai di rumah mewah keluarga Radthya, dia pun bergegas menuju dapur menemui pelayan, untuk memasak makan siang spesial, dengan porsi lebih, karena Zaidan akan membawa beberapa rekan kerja dari Singapura untuk makan siang di rumah.
( Itu lah, yang di pikir kan Amanda ).
Amanda pun bergegas ke kamar nya, untuk mempersiapkan diri, menyambut kedatangan Zaidan dan kawan-kawan nya.
Tepat jam 12 siang, Zaidan tiba di kediaman nya di sambut beberapa pelayan.
"Dimana, Amanda..??"Tanya Zaidan, kepada salah satu pelayan.
"Nyonya Amanda, sudah menunggu di meja makan tuan.."Jawab salah satu pelayan, dengan wajah menunduk, tanpa berani menatap Zaidan.
Sambil menggenggam jemari Devina, Zaidan melangkah masuk ke ruang makan di ikuti oleh Baskoro dan Irma.
Saat Zaidan memasuki ruang makan, tampak Amanda sudah menunggu nya yang di temani oleh bi Darmi dan dua pelayan.
Amanda segera berdiri dan tersenyum, menyambut kedatangan Zaidan.
Hati nya begitu bahagia, melihat Zaidan yang kini sudah berjalan normal.
Selama 3 bulan, Amanda tidak berani dan tidak punya hak untuk bertanya keadaan Zaidan.
Begitu juga Zaidan, dia tidak pernah mengirim pesan kepada Amanda, baru hari ini dia mengirim pesan, jika diri nya akan kembali ke Indonesia.
Tapi, senyum nya sempat memudar, saat Zaidan datang dengan seorang wanita cantik di samping nya.
Dengan jemari tangan yang di genggam Zaidan, dan di belakang mereka sepasang wanita dan laki-laki setengah baya, yang di yakini Amanda jika mereka pasangan suami istri.
"Mereka, pasti saudara mas Zaidan yang berada di Singapura.."Batin Amanda, mencoba berpikir positif.
Bi Darmi melirik ke arah Amanda, tapi terlihat wajah Amanda tetap tenang, dengan senyum yang menghiasi bibir nya.
"Alhamdulilah mas, kamu sudah sembuh.."Ucap Amanda, sambil tersenyum.
Ingin sekali, dia mencium punggung tangan Zaidan, sebagaimana seorang istri yang mencium tangan suami nya, tapi urung di lakukan nya, karena tangan suami nya sedang menggenggam tangan wanita lain.
"Kenal kan ini Devina Deswira.."Ucap Zaidan, menatap mesra Devina.
Deg..
Amanda menelan saliva nya, terasa kering sekali di tenggorokan nya
"Ada apa dengan ku, ternyata sesakit ini?"Tidak Amanda, ayo jangan main kan perasan mu, ingat tujuan utama mu menikah dengan Zaidan.."Ucap Amanda, dalam hati.
"Hai Devina, kenal kan, aku Amanda Maheswari"Amanda, mengulurkan tangan nya ke Devina.
Devina pun melepas kan genggaman tangan Zaidan, dan meraih uluran tangan Devina.
"Devina Deswira.."Balas Devina, sambil tersenyum.
Mereka saling senyum, netra mereka pun saling menatap, dengan pikiran masing-masing.
"Kenal kan juga, ini orang tua ku."Devina mengenalkan , Baskoro dan Irma.
Amanda tersenyum.
__ADS_1
"Salam kenal om, tante."Amanda berkata, sambil mencium punggung tangan Baskoro dan Irma.
Perlakuan Amanda, membuat semua terhenyak.
Baskoro dan Irma saling tatap, ada kehangatan di hati mereka saat Amanda mencium punggung tangan mereka.
Devina menatap Amanda.
"Apa, wanita ini tahu, jika aku adalah calon istri suami nya ?"Tanya Amanda dalam hati.
"Ayo, kita makan sekarang, aku sudah lapar."Ucap Zaidan, sambil menarik lembut tangan Devina.
Dia pun, menarik kursi untuk Devina, Baskoro dan Irma, sebuah perlakuan yang benar-benar istimewa dari seorang Zaidan Radthya
Devina, melirik sekilas ke arah Amanda, tapi tampak tidak ada perubahan di wajah Amanda, senyum nya tetap mengembang di senyum nya.
Dengan penuh perhatian, dia menyendok kan nasi dan lauk ke piring Devina. Dengan tatapan hangat dan mesra, mereka saling melempar senyum.
Entah kenapa, Baskoro dan Irma, merasa tidak enak dengan Amanda melihat tingkah Zaidan dan Devina, mereka hanya saling melempar pandang.
Mereka melirik ke arah Amanda, mereka tidak percaya, wajah Amanda yang tampak begitu tenang.
Mereka pun makan dalam diam, tapi berbeda dengan Zaidan dan Devina, acara makan siang terlihat begitu hangat dan romantis.
Mereka saling menyuapi, dengan tatapan mesra.
20 menit, makan malam pun selesai.
Bi Darmi, dan dua pelayan langsung membereskan meja makan.
Zaidan mengajak mereka semua, untuk ke ruang keluarga.
Saat sudah sampai di ruang keluarga, mereka pun segera duduk, dengan posisi Devina di samping nya, Baskoro dan Irma bersebelahan, sedang kan Amanda duduk di hadapan Zaidan dan Devina.
Zaidan, menatap tajam Amanda.
"Amanda, kamu tahu siapa Devina inj..??"Tanya Zaidan, dengan sorot mata tajam nya.
Amanda menatap bergantian Zaidan dan Amanda.
"Kapan, kalian akan meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan..??"
Pertanyaan Amanda, membuat semua terhenyak.
****************
Jika kalian menjadi Amanda, bagaimana perasaan kalian..??
Sakit ga sieðŸ˜ðŸ˜
Tunggu ya kelanjutan nya..
Sambil menunggu up lagi, mampir yuk ke novel teman author yang cerita nya benar-benar keren dan bikin penasaran 👇👇
__ADS_1