Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Bandara


__ADS_3

Bab 66


"Penyesalan Zaidan"


Zaidan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli dengan kendaraan lain yang mengklaksonnya, bahkan sampai ada yang marah-marah. Bahkan beberapa kali dia nekat menerobos lampu merah.


Hampir dua jam, akhirnya Zaidan sampai di bandara, setelah memarkirkan mobilnya, dia segera berlari ke lobby bandara dengan harapan jika mereka belum melakukan boarding.


Zaidan terus mencari di mana keberadaan Amanda, sampai dia melihat keberadaan anak-anak panti bersama bunda dan mba Narti.


Zaidan langsung mendekati mereka.


"Bunda."Panggil Zaidan dengan napas yang terengah-engah.


Semua terkejut dengan kehadiran Zaidan.


"Amanda di mana bunda.??"Zaidan langsung bertanya, sambil menatap bunda, dengan mata yang terus mencari keberadaan Amanda.


"Itu kak Amanda."Jawab salah satu anak panti yang bernama Aisyah.


Zaidan langsung melihat ke arah yang di tunjuk Aisyah. Tampak Amanda, Doni dan Dion yang sedang melakukan chek-in tiket, tanpa bicara lagi Zaidan langsung berlari ke arah boarding gate staff.


Namun terlambat, Amanda, Doni dan Dion sudah memasuki boarding lounge.


Zaidan segera berbicara dengan pihak Bandara, dengan memberikan identitasnya sebagai Radthya Zaidan, yang mempunyai saham di perusahaan yang menaungi Maskapai Penerbangan tersebut.


Tanpa membuang waktu, Zaidan langsung berlari ke dalam boarding lounge.


"Amandaaaa."Panggil Zaidan, saat jarak mereka tinggal beberapa langkah.


Seketika Amanda, Doni dan Dion menghentikan langkah mereka, dan menoleh ke arah Zaidan.


Hati Zaidan begitu sakit, tubuhnya terasa lemas. Tampak mereka seperti keluarga kecil yang sangat bahagia, Dion berada di antara Amanda dan Doni, dengan tangan Dion, berada di masing-masing genggaman tangan Amanda dan Doni.


"M..mas Zaidan."Panggil Amanda dengan tatapan tak percaya, jika sekarang Zaidan berada di hadapannya.


Seketika, lidah Zaidan terasa kelu. Dia tidak mampu berkata-kata, hanya bisa menatap mereka dengan tatapan nanar.


"Om Zaidan, mau berangkat dan tinggal di Kanada juga, bersama kami.??"Tanya Dion antusias, dengan wajah polosnya.


Pertanyaan Dion, membuat hati Zaidan semakin pedih. Dadanya terasa sesak, apalagi saat mengetahui jika mereka tinggal bersama di Kanada.


"Amanda, sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara. Pikirkan yang terbaik untuk masa depanmu, aku tidak akan memaksamu, turuti kata hatimu." Bisik Doni, sambil membawa Dion untuk duduk di kursi tunggu.


Amanda hanya terdiam, dia mencoba menenangkan hatinya. Jantungnya berdegup kencang, saat netra mereka bertemu.


Zaidan melangkah mendekati Amanda.


"Amanda, Apa benar kamu akan menetap di Kanada.??"Tanya Zaidan, saat jarak mereka sudah sangat dekat.


Amanda hanya bisa mengangguk dan menunduk.


"Apa kalian sudah menikah.??"Tanya Zaidan, penuh selidik.


Amanda tersentak, dan mengangkat wajahnya menatap Zaidan.


"Kalian tidak bisa menikah, karena kamu masih dalam masa Iddah Amanda.!!"Ucap Zaidan dengan wajah yang mulai gusar.


"Aku tahu itu mas, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak sebod*h apa yang kamu pikirkan.!!" Amanda berkata pelan, tapi penuh penekanan. Menatap tidak suka ke arah Zaidan.

__ADS_1


"M..maksud aku.."


"Mas mau berangkat ke Kanada juga.??"Tanya Amanda ketus.


Zaidan menarik napas kasar.


"Batalkan keberangkatanmu ke Kanada.!!"


Perkataan Zaidan membuat Amanda tersentak.


Amanda tersenyum miring, menatap tajam Zaidan.


"Aku bukan siapa-siapamu, kamu tidak punya hak apapun untuk melarangku mas.!!"Amanda berkata, sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih masa Iddah, aku masih punya hak atas dirimu.!"Ucap Zaidan dengan penuh percaya diri.


"Tuan Radthya Zaidan, tidak akan terjadi apa-apa dengan masa Iddah, jadi tidak ada masalah. Aku tidak akan meminta apapun darimu.!!"Amanda berkata, sambil membalikkan tubuhnya.


Zaidan segera meraih lengan Amanda, mencegah Amanda yang ingin melangkah pergi.


"Lepaskan tanganmu tuan Zaidan, kita bukan suami istri lagi.!!"Tegas Amanda, mencoba melepaskan lengannya. Tetapi, terasa cengkeraman Zaidan semakin kuat.


Doni yang sedang memeluk Dion, berusaha sekuat tenaga menahan amarah yang membuncah di dadanya, saat melihat cengkeraman tangan Zaidan di lengan Amanda.


"Kamu melarangku memegang lenganmu, tapi apa pantas perempuan dalam masa Iddah, pergi dengan laki-laki yang bukan Mahramnya ke luar negeri, bahkan ingin menetap di sana.!!'Bisik Zaidan tepat di telinga Amanda.


Telinga dan wajah Amanda terasa memanas mendengar perkataan Zaidan.


Amandapun membalikkan tubuhnya menghadap Zaidan, tatapannya begitu tajam. Tampak kemarahan dan kesedihan di matanya.


"Tuan Radthya Zaidan yang terhormat, aku memang wanita miskin dan bod*h, tapi aku mampu untuk menjaga kehormatan dan mahkotaku, sampai akhirnya semua itu di ambil paksa oleh seorang laki-laki yang saat itu berstatus sebagai suamiku.!!'Amanda berkata dengan tatapan nyalang dan wajah memerah.


Zaidan tersentak, dan diam mematung menatap Amanda. Kejadian di kamar penyiksaan itu, kembali terbayang di pelupuk matanya. Dengan kasar dan kuat Amanda melepaskan cengkraman Zaidan di lengannya.


Tampak buliran bening, sudah menganak sungai di bola matanya.


"Amanda, sudah waktunya boarding pass, pesawat sebentar lagi akan take off."Ucap Doni menghampiri mereka, sedangkan Dion hanya diam. Dia tahu jika ada yang tidak beres dengan ketiga orang dewasa di hadapannya.


Zaidan menatap nyalang Doni, begitu juga sebaliknya.


Amanda tidak mau terjadi keributan.


"Iya kak." Ajak Amanda, sambil menggandeng tangan Dion.


"Amanda, tunggu.!!"Zaidan ingin kembali meraih lengan Amanda, tapi langsung dihalangi Doni.


"Tolong berlaku sopanlah tuan Zaidan yang terhormat."Doni berkata, sambil mendorong pelan dada Zaidan.


Zaidan pun menahan tangan Doni dan mencengkramnya.


"Aku tidak ada urusan denganmu.!!"Ucap Zaidan, dengan penuh amarah.


"Mulai sekarang, apa yang menjadi urusan Amanda adalah urusanku.!!"Ucap Doni, tak mau kalah.


"Papah, om, kenapa kalian selalu berkelahi.??"Tanya Dion, dengan wajah yang polos. Menatap bergantian Zaidan dan Doni.


"Mas Zaidan tolong, jangan halangi kebahagiaanku."Amanda berkata dengan lirih, tampak buliran bening sudah mengalir di wajahnya.


Zaidan menatap nanar Amanda.

__ADS_1


"Apa kamu begitu membenciku Amanda.??"Tanya Zaidan dengan suara parau.


"Lepaskan aku, seperti aku melepaskanmu untuk Devina."Ucap Amanda, yang mulai terisak.


"Mamah, jangan menangis."Rajuk Dion, sambil menggoyangkan tangan Amanda.


"Pergilah tuan Zaidan, kamu hanya membuatnya menderita."Doni berkata, sambil mencoba menenangkan Amanda dan Dion.


Deg...


Perkataan Doni, bagaikan batu karang yang menghantam dadanya.


"Benarkah, aku hanya bisa membuat Amanda menderita.??"Tanya Zaidan dalam hati.


"Kita berangkat sekarang."Amanda berkata, sambil menghapus air matanya.


Doni mengangguk.


Sambil merangkul pundak Dion, mereka melangkah menuju pesawat, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zaidan.


Zaidan hanya bisa menatap nanar punggung mereka. Tidak terasa, buliran bening menerobos keluar dari sudut matanya.


"Kamu benar Amanda, aku hanya bisa membuatmu menderita."Ucap Zaidan lirih, sambil mengusap air matanya.


"Jangan menoleh ke belakang Amanda, ini adalah kesempatanmu untuk meraih masa depan, membuktikan kepada Zaidan, jika kamu bukan wanita lemah, dan kamu wanita kuat yang bisa membesarkan anakmu sendiri, tanpa belas kasihan dari seorang Radthya Zaidan."Ucap Amanda dalam hati, sambil tersenyum dan melangkah pasti ke dalam pesawat.


********


Zaidan berjalan gontai, menuju parkiran mobil.


"Nak Zaidan."Suara lembut, menghentikan langkah Zaidan.


"Bunda."Ucap Zaidan, sambil mengerutkan keningnya.


Terlihat bunda tersenyum.


"Bunda tahu apa yang kamu rasakan, kadang seseorang itu berarti saat dia sudah pergi dan meninggalkan kita."


Zaidan membalas ucapan bunda dengan senyum terpaksa. Hatinya terasa sesak, mengingat dia harus kehilangan dua wanita yang di cintainya.


Devina cinta pertamanya, saat baru beberapa bulan merasakan rumah tangga, tapi harus terpisah dengan maut. Sedangkan, Amanda wanita yang baru di sadarinya begitu berarti, dan sudah menempati sebagian hatinya, baru saja pergi meninggalkannya.


"Jodoh tidak pernah ada yang tahu nak, jika suatu saat takdir mempertemukan kalian kembali, bunda berdo'a yang terbaik untuk kalian."Bunda berkata, sambil kembali mengulas senyum. Menatap sesaat wajah Zaidan yang tampak putus asa.


"Datanglah ke panti, jika ingin sedikit bercerita."Ucap bunda lagi, sambil berlalu dari hadapan Zaidan.


Zaidan terpaku, sambil menatap punggung bunda yang menjauh darinya.


Sambil menghela napas dan mengusap kasar wajahnya, Zaidan masuk ke dalam mobil, dan segera melaju membelah jalan raya.


************


Bagaimana kelanjutan cinta Zaidan dan Amanda.??


Apakah takdir bisa mempertemukan dan menyatukan mereka kembali.??


Untuk yang ingin Zaidan di berikan kesempatan kedua, mohon maaf jari sama pikiran author kalau sudah ngetik, suka melalang buana. Jadi ikuti terus ya kemana author akan membawa cerita ini😁🤭.


Ayo sebelum up lagi, ramaikan dong novel author yang dua ini👇, sudah tamat lho🤗

__ADS_1




__ADS_2