Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Janji Zaidan


__ADS_3

Bab 14


"Penyesalan Zaidan"


Senyum kemenangan terukir di bibir Dave, dia tidak perlu mengkhawatirkan hubungan nya dengan Devina.


"Kasihan sekali nasib mu Zaidan, harus menikahi wanita yang tidak jelas, dan pasti nya tidak pernah kamu cintai.."Gumam Dave, dengan seringai licik nya.


Dave pun, langsung meminta perawat untuk mengantar nya ke ruang operasi.


*********


Beberapa jam lama nya, operasi pengangkatan rahim Devina di lakukan, tampak wajah Baskoro dan Dave yang gelisah dan tegang, sedang kan Irma masih terisak dalam pelukan Baskoro.


"Om, tante, apa pun yang terjadi dengan Devina, aku akan tetap bertanggung jawab.."Ucap Dave, di sela-sela kegelisahan nya.


Baskoro menatap Dave, dia tidak tahu harus berkata apa, jauh di lubuk hati nya yang paling dalam, dia tidak mengingin kan anak nya di nikahi oleh Dave.


"Kita tidak usah membicara kan ini dulu Dave, yang terpenting sekarang kesehatan Devina ."Baskoro berkata, sambil menghela napas menatap Dave.


Tanpa mereka sadari, Zaidan sedang memperhatikan mereka melalui rekaman yang di dapat nya, dari salah seorang petugas rumah sakit, yang di tugas kan oleh salah satu anak buah Zaidan, untuk memantau di setiap pergerakan Dave.


"Jangan kamu pikir, aku bod*h Dave.."Seringai Zaidan.


"Dan jangan pernah merasa menang dulu Dave.."Zaidan berkata lagi, dengan sebuah senyum smirk nya.


Dia meminta anak buah nya, untuk memberikan pesan kepada kedua orang tua Devina untuk bertemu di taman rumah sakit, setelah proses operasi Devina selesai.


*******


Akhir nya operasi pengangkatan rahim Devina pun selesai.


Devina segera di bawa ke ruang observasi, Dave dan Irma menemani Devina, sedang kan Baskoro pamit keluar dengan alasan ingin keluar mencari makan, padahal dia sudah ada janji dengan Zaidan di taman rumah sakit.


Saat Baskoro sudah sampai di taman rumah sakit, tampak Zaidan sudah menunggu,di dekat kursi besi yang tersedia di sana.


Sementara Adam terlihat menunggu, tidak jauh dari keberadaan mereka.


"Zaidan.."Panggil Baskoro saat sudah berada di dekat Zaidan.


"Om.."Sapa Zaidan, sambil mencium punggung tangan Baskoro.


Baskoro pun langsung duduk di kursi besi, di samping kursi roda Zaidan.


"Bagaimana keadaan mu .."Tanya Baskoro, sambil memindai keadaan Zaidan.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja om, mungkin saya akan melakukan serangkaian operasi dan therapy.."Jawab Zaidan.


"Bagaimana keadaan om dan tante.??"Tanya Zaidan balik.


Baskoro menghela napas.


"Kami baik-baik saja secara fisik Zaidan, tapi pikiran dan hati kami.."Baskoro, tidak menerus kan kata-kata nya.


Air muka Baskoro terlihat keruh, tampak sekali kesedihan di wajah nya.


Baskoro kembali menghela napas, seolah-olah ingin menghilang kan beban yang menghimpit dada nya.


"Devina, baru saja melakukan operasi pengangkatan rahim.."Ucap Baskoro, dengan tatapan lurus ke depan, tapi pikiran yang tertuju pada Devina.


"Iya om saya tahu, mohon maaf saya tidak bisa menemani Devina, karena.."Zaidan tidak menerus kan kata-kata nya.


"Om tahu alasan mu, karena di sana ada Dave.."Potong Baskoro.


"Iya om, saya tidak mau ada keributan saat Devina sedang berjuang antara hidup dan mati, begitu juga dengan om dan tante yang sedang bersedih.."Jawab Zaidan.


"Zaidan, boleh om tahu, bagaimana hubungan mu dengan Devina ke depan nya..??"Baskoro bertanya, dengan tatapan lekat ke wajah Zaidan.


Zaidan pun tersentak kaget, saat mereka bertemu mata, napas Zaidan terasa tercekat di tenggorokan.


"Pasti kamu akan mundur, seperti beberapa tahun yang lalu.."Ucap Baskoro, masih terus menatap lekat Zaidan.


"Apa kamu akan pergi ke luar negri lagi..??"Tanya Baskoro.


"Kemungkinan, saya akan berangkat ke Singapura om, untuk pengobatan dan pemulihan kaki saya.."Jawab Zaidan.


"Kalau hanya untuk pengobatan, Devina pasti bisa menunggu mu, sampai dia tersadar dari koma nya.."Ucap Baskoro, kali ini tatapan nya terlihat penuh harap.


Zaidan tersentak kaget, dengan perkataan Baskoro, ternyata orang tua Devina, masih tetap mengingin kan nya sebagai menantu.


"Soal Dave, kamu tidak perlu khawatir, om akan mengatur dan membicarakan kepada nya.."Ucap Baskoro lagi.


"Lion dan Dave, orang yang licik, mereka tidak akan semudah itu menyerah.."Kali ini Zaidan berkata, sambil membalas tatapan Baskoro.


"Orang licik, kita balas dengan kelicikan juga.."Baskoro berkata, dengan senyum penuh arti.


Zaidan hanya terdiam, selain karena kelicikan Lion dan Dave, dia juga sudah menyetujui dan menandatangani surat wasiat dari almarhum kakek nya.


Bagaimana pun, dia harus menyelamat kan warisan dan perusahaan keluarga Radthya.


Karena melihat harapan Baskoro yang sangat besar, Zaidan pun mengurung kan niat nya, untuk memberitahu tentang pernikahan yang sudah di rencanakan nya.

__ADS_1


Tiba-tiba Zaidan memikirkan sesuatu.


"Apa Devina tidak sebaik nya, ikut saya melakukan pengobatan ke Singapura om, biar bisa mendapat kan pengobatan yang lebih baik..??"Tanya Zaidan, dengan mata berbinar.


Baskoro pun tersenyum.


"Tapi ."Tiba-tiba senyum di wajah Baskoro pun memudar.


"Jangan khawatir om, semua biaya pengobatan Devina, saya yang menanggung.."Ucap Zaidan yang mengetahui kegundahan hati Baskoro.


Wajah Baskoro kembali tersenyum.


"Terimakasih Zaidan, dari pertama Devina mengenal kan mu kepada kami, saat itu kami sudah yakin jika kamu lelaki yang terbaik untuk putri kami.."Baskoro berkata, sambil memegang pundak Zaidan.


"Om, titip Devina, tolong jaga dia, jangan pernah tinggal kan dia dalam keadaan apa pun.."Baskoro berkata dengan suara parau.


"Iya om, saya janji akan selalu menjaga Devina, segenap jiwa raga saya, om tidak perlu khawatir.."Zaidan meyakinkan Baskoro.


"Terimakasih nak, om takut jika sudah tidak bisa menjaga nya.."Baskoro berkata, dengan suara yang semakin terdengar parau, terlihat mata nya berkaca-kaca.


Zaidan yang melihat itu, hati nya terasa terenyuh, dan untuk kesekian kali nya Zaidan berjanji dalam hati, untuk selalu menjaga Devina dalam keadaan apa pun.


"Sebelum menikah dan berangkat ke Singapura, aku akan menemui dan melakukan perjanjian dengan wanita itu.."Ucap Zaidan dalam hati.


"Sekarang om dan tante tidak perlu khawatir lagi, karena mulai saat ini Devina adalah tanggung jawab saya.."Zaidan berkata, dengan penuh keyakinan dan ketegasan.


"Tante pasti senang sekali mendengar ini nak.."Baskoro berkata sambil memeluk erat Zaidan.


Zaidan membalas pelukan Baskoro, dan memejam kan mata nya, berharap jika ini semua adalah keputusan yang terbaik dalam hidup nya.


********


Di kediaman keluarga besar Radthya, tampak Wina mrmbuka mata nya, dia meringis menangis sakit, sambil memegang kening nya.


"Sudah sadar kamu..!?"Tanya Lion, sambil membawa segelas air putih, dengan tatapan tajam nya menatap Wina.


Terlihat wajah Wina yang pucat menatap Lion, yang menyodor kan segelas air putih kepada nya.


"T.. terimakasih pah.."Ucap Wina dengan gugup, dan tangan bergetar.


"Seperti nya, kamu harus hamil Wina..!!"


*****************


Maaf ya baru up dan bab ini di gantung, biar kepo sama bab selanjut nya😁

__ADS_1


Semoga author ada waktu banyak untuk up ya.


Jangan lewat kan keseruan dua novel author ini👇


__ADS_2