
Bab 51
"Penyesalan Zaidan"
Semua mata menoleh ke arah asal suara.
"Zay.!" Devina terperangah, menatap tidak percaya ke arah Zaidan.
Begitu juga dengan Amanda, dokter Arya dan Mira, yang ikut terperanjat dengan kedatangan Zaidan secara tiba-tiba.
"Aku bilang, lepaskan Devina.!!"Bentak Zaidan, dengan sorot mata nyalang penuh amarah.
Dengan kasar, Devina melepaskan cengkeramannya di wajah Amanda. Dia menatap tajam Zaidan, dan berlahan melangkah ke arahnya.
Plak..
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Zaidan, membuat semua terkejut dengan perlakuannya.
Zaidan memegang pipinya yang sangat memerah karena amarah dan tamparan.
"Kalau kamu memilih dia dan sudah jatuh cinta kepadanya, kenapa kamu merebut aku dari Dave, hah..!??"Devina bertanya, sambil mendorong kencang tubuh Zaidan. Tetapi, Zaidan dengan sigap menahan tubuhnya, sehingga tidak mundur ke belakang.
"Aku benci kamu Zay..!!"Teriak Devina histeris.
Dokter Arya langsung menghampiri Devina.
"Devina, tenanglah."Ucap dokter Arya, sambil merangkul pundak Devina.
"Kamu benar-benar jahat Zay, ternyata kamu lebih bajingan dari Dave."Devina kembali berkata, dengan air mata yang sudah tumpah membasahi wajahnya.
Punggungnya sampai terguncang, karena isakannya.
Mira menahan lengan Amanda, yang berniat menghampiri Devina.
"Ini masalah mereka, biarkan mereka yang menyelesaikannya nak.."Bisik Mira lembut, sambil mengelus lengan Amanda.
Amanda hanya menghela napas, dia menatap nanar ke arah mereka.
"Mengertilah Vin, tolong berikan aku waktu untuk berpikir ", jangan main kekerasan gunakan akal sehatmu."Ucap Zaidan, melepaskan tangan dokter Arya dari punggung Devina, kemudian, meraih wajah Devina dan mengusap air matanya.
Devina menatap tajam Zaidan, tiba-tiba tatapannya menjadi redup, sampai akhirnya, dia terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Vina.."
****************
"Selamat tuan, istri anda positif hamil, dan usia kandungannya sudah jalan enam minggu."Ucap dokter perempuan, dengan nama Anita yang tertera di jas putihnya.
Zaidan terperangah mendengar pernyataan dokter Anita. Dia bingung, kenapa perasaannya bercampur aduk, seharusnya dia merasa sangat bahagia dengan kehamilan Devina, wanita yang sangat di cintai dan di impikannya.
"Mempunyai anak adalah impianku bersamamu Vina." Tapi, kenapa justru yang ada dalam pikiranku Amanda."Zaidan berkata dalam hati.
"Tuan Zaidan."Panggil dokter Anita, menyadarkan Zaidan dari lamunannya.
__ADS_1
"I.. iya dok, bagaimana keadaan janin dalam kandungan istri saya.??"Tanya Zaidan, mencoba menenangkan dirinya.
"Janinnya baik dan sehat tuan, hanya keadaan ibunya yang sedikit kurang baik. Tapi, tuan tidak perlu khawatir, nyonya Devina hanya memerlukan banyak istirahat, dan jangan terlalu banyak berpikir. Karena jika ibu nya terlalu banyak pikiran atau stress, akan mempengaruhi tumbuh kembang janinnya."Jelas dokter Anita.
Zaidan menarik napas kasar.
"Baiklah dok, sebisa mungkin saya akan menjaga istri dan calon anak kami. Apa saya bisa menemuinya sekarang..??"Tanya Zaidan, dengan perasaan dan pikiran yang bercampur aduk.
"Silahkan tuan."Ucap dokter Anita, sambil tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih dok."Zaidan bangkit dari duduknya. Dan langsung menemui Devina.
Dokter Anita, menatap nanar punggung Zaidan yang menghilang di balik pintu.
"Arya, apa kamu masih mencintainya.??"Gumam dokter Anita, sambil menghela napas. Dia pun segera bergegas menuju ruang prakteknya.
Zaidan menatap lekat wajah Devina, yang masih tak sadarkan diri. Berlahan dia mengelus lembut wajah Devina. Kemudian, tatapannya beralih ke perut Devina, dengan hati-hati dia mengusap perut rata itu.
Devina berlahan membuka matanya, dia menatap Zaidan yang sedang sibuk mengelus perutnya yang masih rata.
"Zay.."Panggil Devina lirih.
"Vina, kemu sudah sadar sayang.??"Tanya Zaidan yang langsung menangkup wajah Devina.
Devina tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
"Terimakasih sayang."Bisik Zaidan lembut di telinga Devina, kemudian mencium mesra pipinya.
"Terimakasih, untuk apa Zay.?"Tanya Devina, mengerutkan keningnya.
"Maksudmu, aku hamil.?"Tanya Devina menatap Zaidan, mencoba mencari kebenaran di kedua matanya.
"Iya sayang, di perutmu sudah ada malaikat kecil kita."Zaidan menjawab, sambil tersenyum dan mengangguk. Tangannya terus mengelus perut rata Devina.
"Benarkah.??"Tanya Devina, dengan mata berkaca-kaca. Tampak senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya.
"Terimakasih sayang, aku akan segera menjadi seorang ayah."Ucap Zaidan sambil mengusap air mata Devina, mencium keningnya dengan hangat dan penuh kasih sayang.
"Berjanjilah Zay, jangan pernah ada nama lain di hatimu."Pinta Devina, sambil memegang tangan Zaidan.
Zaidan diam terpaku, mendengar permintaan Devina.
"Zay." Panggilan dan sentuhan lembut di wajahnya, seketika membuyarkan lamunannya.
"Apa kamu keberatan dengan permintaanku, Zay.??"Tanya Devina, dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak Vin, aku berjanji tidak akan membiarkan seseorang untuk masuk lagi dalam relung hati."Zaidan berkata, dengan sekuat tenaga mengingkari hatinya.
"Aku sudah menjatuhkan talak untuk Amanda, dan sekarang Amanda sedang mengandung anakku."Batin Zaidan, mencoba menyakinkan hatinya.
Devina tersenyum bahagia, dia juga berjanji untuk tidak membiarkan wanita lain untuk masuk dalam kehidupan mereka. Terutama Amanda, meskipun suatu saat kemungkinan untuk Amanda hamil sangat mungkin terjadi.
"Terimakasih banyak ya Zay, aku percaya dengan kekuatan cinta kita. Apalagi kita berdua adalah sama-sama cinta pertama."Amanda berkata, sambil mengelus dan membelai hangat wajah Zaidan.
__ADS_1
Zaidan membalas dengan senyuman hangat, dia juga membelai lembut wajah Devina, jari-jari nya juga menyentuh hangat bibir Devina, sehingga wajah mereka semakin mendekat, dan bibir mereka pun sudah menyatu, dengan binar kehangatan dan tatapan penuh cinta untuk keduanya.
Tanpa mereka ketahui, ternyata ada sepasang telinga yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
*************
Sementara itu, tampak Amanda, Mira dan dokter Arya kini sudah berada di dalam mobil.
"Apa tidak ada satupun yang ingin duduk disampingku..??"Tanya dokter Arya, sambil menepuk pelan kursi di sampingnya.
Amanda dan Mira hanya saling melempar senyum, mendengar pertanyaan dokter Arya.
"Lho, ngapain kalian senyum-senyum.??"Tanya Zaidan dengan wajah gusar.
"Kamu sudah dewasa Arya, tidak perlu manja seperti itu."Jawab Mira dengan wajah santai.
"Baiklah nyonya Mira."Ucap dokter Arya malas.
Tentu saja perkataan dokter Arya, membuat tawa Amanda dan Mira pecah.
Dokter Arya tertegun melihat tawa Amanda.
"Amanda.."Panggil dokter Arya, sambil menatap lekat wajah Amanda.
Amanda pun seketika menghentikan tawanya. Dia merasa sedikit aneh dengan tatapan dokter Arya.
"Apa kamu mencintai Zaidan.??"
Pertanyaan dokter Arya, membuat Amanda gugup, dia menelan salivanya, tenggorokannya tiba-tiba terasa sangat kering.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Arya.?"Ucap Mira, dengan tatapan tak suka.
Dokter Arya menghela napas.
"Maafkan aku Amanda, aku hanya ingin memastikan, karena.."Dokter Arya tidak meneruskan kata-katanya, dia menatap nanar Amanda.
"Karena apa dok.??"Tanya Amanda, dengan perasaan yang tiba-tiba tidak enak.
Mira yang mengerti dengan perubahan sikap Amanda, langsung mencoba menenangkannya.
"Zaidan tidak mungkin kembali bersamamu, karena Devina kini sedang mengandung dan usia kandungannya sekarang sudah enam minggu.'
Deg...
***********
Apa hubungan dokter Arya dengan dokter Anita??
Bisakah Zaidan menepati janjinya kepada Devina??
Apa rencana Amanda, saat mengetahui kehamilan Devina??
Sambil menunggu up, mampir yuk ke novel author yang sudah tamat๐๐
__ADS_1