
Bab 76
"Penyesalan Zaidan"
Hmmm...
Amanda dan Doni langsung melepaskan pelukan mereka. Seketika mereka terkejut, tampak Zaidan dan Dokter Arya sudah berada tepat di belakang mereka.
"Maaf jika mengganggu kalian, aku hanya ingin meminta ijin mau mengajak Raza makan malam bersama mamah Mira, omahnya Raza." Zaidan berkata dengan wajah yang terlihat gusar.
"Tidak ada yang mengganggu, kebetulan kami sedang bersantai, salah satu kebiasaan kami untuk melewati sore hari, jika tidak ada kesibukan." Jawab Doni, sambil tersenyum. Sedangkan Amanda memalingkan wajahnya, seperti enggan untuk menatap ke arah Zaidan dan dokter Arya.
"Bersantai sambil bermesraan, sampai melupakan keadaan sekitar." Dengus Zaidan, dengan senyum smirknya, melirik sinis ke arah Amanda.
Amanda langsung menoleh ke arah Zaidan, dengan wajah yang memerah. Doni langsung mengelus lembut punggung Amanda, mencoba menenangkannya.
"Zay," Dokter Arya menyenggol lengan Zaidan, lagi-lagi Zaidan mendengus kesal.
"Maaf Amanda, tuan Doni, kami bermaksud ingin mengajak Raza untuk makan malam bersama mamah kami," Dokter Arya mengulangi permintaan Zaidan.
Terlihat wajah Amanda yang gelisah, tampak ketakutan tiba-tiba menyerang hatinya. Bergegas dia ke arah kolam renang, dan menghampiri Raza dan Dion. Tentu saja tingkah Amanda membuat mereka semua terkejut.
"Raza, Dion, ayo naik, kalian berenang sudah terlalu lama.!!" Teriak Amanda, saat sudah berada di samping kolam renang dengan wajah gusar.
Teriakan Amanda membuat Dion dan Raza juga terkejut.
"Tapi mah." Jawab Dion, dengan wajah keheranan. Tidak biasanya sang mamah menyuruh mereka berhenti berenang, karena sekarang baru pukul 16.00, dan mereka baru tiga puluh menit berenang.
Dion segera mengajak Raza untuk naik, Amanda langsung memeluk Raza.
"Amanda, tolong jangan seperti ini." Zaidan berkata, dengan tatapan nanar.
"Seharusnya, sebelum mengambil keputusan kalian membicarakan semua dulu kepadaku,!! jangan datang dengan tiba-tiba seperti ini.!!" Bentak Amanda, dengan suara bergetar menahan sesak.
"Aku ayahnya, aku juga berhak atas Raza." Jawab Zaidan.
Amanda tertawa kecut mendengar pernyataan Zaidan.
"Apa kamu bilang,?? darahmu memang mengalir di tubuh Raza, tetapi kamu tidak mempunyai hak sama sekali atas anakku.!!" Jelas Amanda, dengan wajah memerah menatap penuh kebencian.
"Kenapa kalian selalu mengedepankan emosi, apa lagi di depan anak-anak karena tidak baik untuk perkembangan mereka.!!" Doni terlihat kesal menatap bergantian Amanda dan Zaidan.
__ADS_1
"Ayo Dion, Raza," Ajak Doni.
"Kalian selesaikan urusan kalian secara dewasa dan dengan kepala dingin." Tegas Doni, sebelum berlalu dari hadapan mereka.
"Aku ikut," Ucap dokter Arya, mengikuti langkah Doni yang menggendong Raza.
Zaidan hanya mampu menatap nanar ke arah Doni yang menggendong Raza, ada rasa iri di hatinya, karena Raza terlihat begitu nyaman di gendongan Doni.
"Aku tunggu di sana.!!" Amanda berkata, sambil melangkah menuju kursi santai tempat dia dan Doni duduk.
Zaidan tercekat, dia diam sesaat menatap punggung Amanda. Dan dia pun mengikuti langkah Amanda.
Mereka duduk berhadapan, tetapi Amanda membuang pandangannya, seolah-olah enggan untuk menatap Zaidan.
"Sebenci itukah dirimu kepadaku, Amanda.?" Zaidan menatap nanar Amanda.
Amanda yang merasakan degup jantungnya yang semakin cepat, mencoba menenangkan dirinya. Dia memejamkan matanya sesaat.
"Amanda" panggil Zaidan lirih, menyentuh lembut punggung tangan Amanda.
Sentuhan lembut Zaidan, membuat jantung Amanda tidak karuan.Tetapi, dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpengaruh.
"Apa maumu sekarang,?" tanya Amanda, menarik tangannya dari tangan Zaidan.
"Kenapa urusan hati wanita rumit sekali,?" tanya Zaidan tanpa sadar.
Amanda menatap tajam Zaidan, sehingga membuat Zaidan salah tingkah. Baru saja Zaidan akan membuka suara, Amanda langsung memotongnya.
"Hati wanita itu lembut dan seluas samudra. Dan hati wanita itu ibarat kaca, saat kamu memecahkannya maka dia tidak bisa kembali utuh dan sempurna seperti semula" Amanda terus menatap Zaidan, membuat Zaidan semakin salah tingkah.
"Amanda, aku.."
"Kamu tidak akan pernah memahami mas, karena sifat egoismu sebagai lelaki yang sempurna dan punya segalanya.!" Amanda berkata, dengan suara bergetar.
Perkataan Amanda, membuat Zaidan terkesiap dan seperti tamparan untuknya. Dia merasa sebagai lelaki yang egois, yang tidak pernah mengerti tentang perasaan wanita yang di cintainya.
Zaidan merutuki kebodohan dan keegoisannya. Dia sudah kehilangan kakek dan Devina karena keegoisannya mengejar bea siswa dan karir di London, sampai kakeknya meninggal dan Devina harus hamil anak Dave, dan sampai akhirnya dia harus kehilangan Devina kedua kalinya, beserta bayi mereka.
Kehadiran Amanda karena sebuah persyaratan yang di buat di surat wasiat sang kakek, membuatnya harus menikahi Amanda, bersamaan saat dia kembali bersama Devina. Sampai akhirnya dia membuat Amanda terluka. Dan tanpa sepengetahuannya selain membawa luka, Amanda juga pergi dengan membawa benihnya.
"Amanda maafkan aku, tolong jangan siksa aku seperti ini, jangan membuat aku kembali hidup dalam penyesalan." Ucap Zaidan lirih, dengan wajah terlihat frustasi.
__ADS_1
Amanda terdiam, dia tidak percaya jika lelaki di depannya adalah Radthya Zaidan, lelaki yang sudah di kaguminya dari dia kecil, lelaki yang setiap waktu selalu mengisi relung hatinya. Sampai akhirnya impiannya menjadi nyata.
Menikah dengan Zaidan lelaki impiannya, namun, impiannya tidak semua nyata dan indah, Zaidan menikahinya hanya karena terpaksa. Bahkan, di hari pertama pernikahannya, Zaidan sudah pergi meninggalkannya untuk mengurus pengobatan wanita yang sangat di cintainya, bahkan memintanya untuk memberikan ijin dan restu untuk menikahi kekasihnya itu.
Amanda selalu memimpikan malam pertama yang begitu indah, tetapi, dia harus menyerahkan mahkotanya kepada suaminya sendiri dengan cara kasar dan penuh paksaan.
"Amanda, tolong maafkan aku." Amanda tercekat, dan saat Amanda tersadar, Zaidan sudah bersimpuh di hadapan Amanda. Ini adalah kedua kalinya Zaidan merendahkan dirinya di hadapan Amanda.
"Mas, apa yang sebenarnya kamu mau dariku.?" Tanya Amanda lirih, dia tidak bisa menahan air matanya yang langsung mengalir deras di pipinya.
"Aku sadar, jika perlakuanku telah meninggalkan luka yang mendalam, dan membuat kamu sangat membenciku. Bahkan kesempatan kedua pun tidak pernah ada, tetapi aku mohon, ijinkan aku membantumu membesarkan Raza." Jawab Zaidan, suaranya terdengar bergetar dan tampak air mata mengalir dari sudut matanya.
Amanda menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya berlahan.
"Aku tidak akan menghalangimu untuk menemui, bahkan bersama Raza. Tetapi, aku mohon jika kamu ingin mengambil suatu keputusan, tolong bicarakan dulu kepadaku." Jawab Amanda sambil menghapus air matanya.
"Benar Amanda?" Zaidan mengangkat wajahnya, menghapus kasar air matanya, tampak binar kebahagiaan di wajahnya.
Amanda mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih Amanda, aku berjanji tidak akan egois lagi, setiap aku ingin menemui dan mengajak Raza akan meminta persetujuanmu, tapi aku mohon jangan persulit kami." Zaidan tanpa sadar, menggenggam jemari Amanda.
"Bangunlah, jangan seperti ini" Amanda berkata, sambil melepas pelan tangan Zaidan yang sedang menggenggam tangannya.
"Maaf Amanda" Zaidan langsung berdiri dan melepaskan tangan Amanda. Mereka saling melempar pandang dan senyum.
Sementara di kejauhan, tampak sepasang mata yang sedang menatap mereka nanar, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, tetapi di matanya tampak kesedihan yang mendalam.
*************
Bagaimana kisah selanjutnya, dari perjalanan cinta Zaidan dan Amanda ??
Siapa sepasang mata penuh luka itu ??
Jawabannya masih jadi rahasia, biarkan jenari dan imaginasi Author yang berbicara😁🤭
Sambil menunggu up, yuk melimpir 👇👇
__ADS_1