Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kepulangan


__ADS_3

Bab 69


"Penyesalan Zaidan"


Siang begitu cerah, tampak suasana Bandara yang begitu ramai.


Raza berlari kecil sambil memegang tangan Doni. Kebahagiaan tampak sekali di wajah tampannya, semua mata memandang takjub kepada Raza, banyak yang terpukau dengan ketampanannya. Walaupun baru berusia empat tahun, namun, auranya mampu menghipnotis semua mata yang memandang.


Sedangkan Amanda dan Dion berjalan di belakang mereka. Dengan gaya coolnya Dion berjalan dengan tangan yang berada di saku celananya, tampak Amanda menggandeng tangan Dion, yang sudah 5cm lebih tinggi dari Amanda.


"Mah, kita langsung ke Panti khan.??"Tanya Dion sambil mengulum senyum.


"Kamu sudah tidak sabar ya, ingin bertemu Aisyah.,??"Goda Amanda.


Dion menjawab dengan sebuah senyuman.


"Mah, coba lihat om yang memakai kemeja navy itu, aku seperti mengenalnya.!"Seru Dion tiba-tiba, sambil menunjuk ke arah laki-laki yang sedang mengobrol dengan pria asing keturunan Jepang.


Deg...


Seketika Amanda menghentikan langkahnya, tubuhnya diam membeku, kakinya seolah sulit untuk di gerakkan, lidahnya pun terasa kelu.


"Mah.."Panggil Dion, sambil menggoyangkan lengan Amanda.


"Oh iya Dion."Amanda tersadar dari lamunannya.


"Ayo, katanya kamu ingin cepat-cepat bertemu Aisyah, kita sudah ketinggalan jauh dengan papah dan Raza.!"Ajak Amanda, sambil menarik paksa lengan Dion.


Dion bingung dengan sikap Amanda, dia sempat menoleh ke arah lelaki berkemeja navy itu. Tidak sengaja netra mereka bertemu. Dia tersentak, dia ingat jika lelaki itu yang terakhir di lihatnya lima tahun yang lalu di Bandara ini, sebelum mereka menetap di Kanada.


"Wajah lelaki itu, kenapa mirip sekali dengan Raza ya??"Dion bertanya pada diri sendiri, sambil mengerutkan keningnya.


"Apa dia papahnya Raza.??"Tebak Dion dalam hati.


Dion menatap wajah Amanda, yang terus menarik lengannya.


Dion tidak berontak dan dia pun tidak mau bertanya, karena dari dulu dia kurang suka dengan hubungan orang dewasa, karena baginya itu adalah sesuatu yang sangat rumit, lebih rumit dari rumus matematika.


Mereka pun segera masuk kedalam mobil jemputan, yang sudah menunggu mereka, dan segera melesat menuju panti.


Tak lama waktu berselang, mereka tiba di Panti. Sambutan hangat, suasana bahagia dan haru menghiasai pertemuan mereka. Terutama Bunda, dia sangat bahagia berkali-kali dia menciumi Dion dan Razama, dua anak laki-laki itu biasanya paling enggan menerima dekapan dan ciuman dari orang dewasa, namun, dengan Bunda justru mereka terlihat senang.


Bunda menatap lekat Razama, dan menghela napas.


"Wajahnya persis sekali dengan Zaidan."Bunda berkata dalam hati, namun, dia tidak mau bertanya dulu.


"Bunda dan mba Narti sudah menyiapkan makan siang untuk kita semua."Ajak Bunda.


"Wah, sudah lima tahun tidak makan masakan Bunda, jadi lapar nie."Canda Doni.

__ADS_1


"Masakan eyang putri enakkah Papah.??"Tanya Raza, sambil menatap Doni.


"Bukan enak lagi, tetapi eunakkkk banget."Timpal Dion, sambil melirik anak perempuan seusianya. Membuat Amanda, Doni, Bunda dan mba Narti mengulum senyum. Sedangkan, anak perempuan itu tersipu malu.


"Wah, kalau begitu Raza mau makan sekarang eyang."Ajak Raza, langsung menggandeng tangan Bunda untuk segera menuju ruang makan.


Semua tertawa bahagia melihat kelakuan Raza. Makan siang sederhana pun di lewati dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan.


Setelah puas melepas kerinduan, mereka pun pamit untuk pulang.


"Terimakasih, kalian sudah lebih dulu mampir kesini."Ucap Bunda sambil mencium pipi Amanda, Doni, Dion dan Raza.


"Kami yang berterimakasih sama Bunda, karena sudah di sediakan makan siang yang sangat lezat."Amanda berkata, sambil memeluk Bunda.


"Kenapa, tidak menunggu sampai makan malam.??"Tanya mba Narti.


"Ada banyak harus di urus dulu mba, besok-besok kami bisa kesini lagi."Jawan Doni.


"Iya Bunda dan mba Narti, kebetulan aku ingin mendirikan Resto kecil-kecilan, jadi harus banyak yang di urus, dan dua hari lagi, Dion dan Raza akan kembali bersekolah."Jelas Amanda.


"Semoga semua di berikan kelancaran dan kesuksesannya ya nak."Bunda menggenggam erat tangan Amanda.


"Bunda selalu berdo'a, semoga kebahagian selalu bersama kalian."Ucap Bunda lagi.


"Terimakasih atas do'a bunda selama ini untuk kami."Doni merangkul pundak Bunda.


"Bunda hanya punya do'a untuk kalian, hati-hatilah di jalan."Bunda memeluk bergantian mereka, dan tak lupa ciuman mendarat di pipi Dion dan Raza. Terutama Raza banyak mendapat ciuman gemas di pipinya dari anak-anak Panti.


"Apa mereka sudah menikah mba.??"Tanya mba Narti, menatap Bunda.


Bunda menarik napas kasar.


"Kita do'akan yang terbaik untuk mereka."Jawab bunda dengan suara lirih.


"Wajah Razama sangat mirip dengan.."


"Sudahlah Narti, biar waktu yang menjawab." Bunda berkata, sambil menepuk pelan pundak mba Narti, dan segera berlalu meninggalkan mba Narti. Tampak wajahnya yang penuh tanda tanya.


****************


Mobil yang di kendarai mereka melaju dengan kecepatan sedang. Tanpa mereka sadari, ternyata perjalanan mereka dari Bandara ke Panti, sampai sekarang ada yang membuntuti dengan memakai sebuah motor Kawasaki.


Hampir satu jam perjalanan, mereka sampai di rumah mewah yang tidak terlalu besar tapi dengan struktur bangunan yang estetik.


Mereka di sambut hangat, oleh para pekerja di rumah itu.


"Ini rumah papah Doni dan kak Dion.??"Tanya Raza menatap bergantian Doni dan Dion.


"Rumah Raza dan mamah juga."Bisik Doni di telinga Raza, yang membuat Raza tertawa geli, akibat ciuman Doni di telinganya.

__ADS_1


Amanda tersenyum bahagia.


"Apa kita akan tinggal bersama Pah.?"Tanya Dion menatap Doni.


Pertanyaan Dion, membuat senyum Amanda dan Doni menghilang.


Doni menghela napas, Amanda hanya mampu menatap nanar ke arah Doni.


"Sayang, papah akan tinggal di Apartemen."Jawab Doni sambil, memegang pundak Dion.


Dion tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam rumah yang sudah lima tahun di tinggalkannya.


Doni menarik napas kasar.


"Maafkan aku kak, belum bisa menjadikan kita sebagai keluarga yang sempurna."Ucap Amanda dengan suara yang terdengar parau.


"Tidak apa-apa Manda, jangan di pikirkan."Doni tersenyum, sambil mengelus lembut rambut Amanda.


"Aku akan bicara dengan Dion."Jawab Amanda lirih.


"Jangan di paksa, biarkan dia tenang dulu, nanti aku akan bicara juga dengannya."Tatapan dan kata-kata Doni selalu mampu menenangkan hati Amanda.


Rasa bersalah menyeruak di hatinya.


"Kak Dion, kenapa Pah.?"Tanya Raza polos.


"Kak Dion hanya kecapean sayang, sekarang jagoan Papah istirahat ya."Doni mengusap pelan puncak kepala Raza dan mencium pipinya dengan penuh kasih sayang.


"Aku mau ke kantor dulu, setelah semua selesai aku akan langsung ke Apartemen."Ucap Doni menatap Amanda.


"Apa kamu akan datang makan malam.??"Tanya Amanda.


"Sepertinya aku akan ikut sarapan saja besok."Doni berkata, sambil melihat jam branded di pergelangan tangannya dan tersenyum menatap Amanda.


"Baiklah kami akan menunggumu besok, dan aku akan membuat sarapan spesial buat kalian."Ucap Amanda dengan senyum manisnya.


Senyum yang selalu menggetarkan hati Doni.


Amanda dan Raza pun mencium punggung tangan Doni. Dan masih tanpa mereka sadari, jika pergerakan mereka dari tadi ada yang memperhatikan, bahkan beberapa kali mengambil gambar mereka.


****************


Siapakah pengendara motor Kawasaki itu.??


Ternyata Amanda dan Doni belum menikah, apakah ini berarti kesempatan untuk Zaidan kembali ???.


Masih perlu beberapa bab untuk menamatkan novel ini, jika ceritanya kurang menarik bisa di keep saja, tanpa memberikan komentar yang kasar atau tidak enak. Karena karya ini hanya fiktif belaka, imajinasi dari author sendiri.


Kalau masih kepo dengan karya author, bisa melimpir ke karya aku👇

__ADS_1



__ADS_2