
Bab 88
"Penyesalan Zaidan"
Zaidan merasakan kesedihan dan perih di hatinya, menatap dua bocah laki-laki yang sedang terlelap dalam tidurnya. Setelah menyelimuti dan mencium kening mereka, Zaidan melangkah keluar dari kamar Dion. Terlihat di ruang keluarga pak Handoko yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Pak Handoko" Zaidan duduk di hadapan pak Handoko.
"Iya Tuan Zaidan" pak Handoko langsung menutup laptopnya.
"Aku ingin semua harta kekayaan dan saham perusahaan Group Radthya Zaiman yang berada di sini, di hibahkan kepada panti-panti asuhan, Masjid-Masjid, dan Yayasan-yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan,"
Pak Handoko terdiam menatap Zaidan.
"Anda yakin Tuan?"
Zaidan mengangguk.
"Semua sudah aku pikirkan matang-matang, mereka semua mengincar harta kekayaan Radthya, selain rasa benci dan dendam mereka kepadaku" Zaidan mengusap kasar wajahnya.
"Apa yang sedang Tuan rencanakan?"
Zaidan menghela napas.
"Aku ingin fokus dengan pengobatan Amanda, aku akan membawa mereka pindah ke negara lain. Memulai kehidupan baru yang penuh kedamaian tanpa ada benci dan dendam."
"Tabungan dan deposito yang aku punya di luar negeri, itu nominal yang cukup untuk pengobatan Amanda dan kehidupan kami"
Zaidan memejamkan mata sesaat, ingin melepas segala penat dan masalah yang sudah menumpuk di dalam kepalanya.
"Harta yang berlimpah, hidup yang mewah, ketenaran dan kekuasaan kenyataannya tidak memberikan sebuah kebahagiaan, hidupku selalu di landa masalah. Bahkan, orang-orang di sekitarku harus menerima imbas dari dendam dan kebencian orang-orang yang tidak menyukaiku."
"Tujuanku sekarang, ingin memberikan kebahagiaan dan kenyataan kepada orang-orang yang aku sayangi."
Suara Zaidan terdengar bergetar, dia berusaha untuk menahan air mata yang siap melewati sudut matanya.
"Semoga keputusan yang Tuan Zaidan ambil, adalah keputusan yang tepat untuk kebaikan kalian semua"
"Aamiin Pak, tolong bantu aku untuk mengurus semua, dan keberangkatan kami jangan sampai ada yang mengetahuinya"
"Tuan tidak perlu khawatir, saya akan melakukan apa pun demi keluarga Radthya. Karena itulah lah janji saya kepada almarhum Tuan Radthya Purnama saat beliau memilih saya untuk menjadi Pengacaranya."
"Saya juga sangat menyayangi Amanda seperti anak sendiri, saya tidak mau jika terjadi sesuatu terhadap dia"
"Amanda anak yang sangat baik, dari bayi dia sudah yatim piatu, dia berhak untuk mendapatkan kebahagiaan"
Terdengar suara Pak Handoko yang parau, dia menahan kesedihannya jika mengingat nasib Amanda.
"Tuan Zaidan tolong berikan pengobatan yang terbaik untuknya, saya mohon tolong bahagiakan dia" pinta Pak Handoko, menatap Zaidan penuh permohonan.
"Bukan saja Amanda yang akan aku bahagiakan, Raza dan Dion mereka juga yang menjadi prioritas tujuan hidupku sekarang" tegas Zaidan.
__ADS_1
Pak Handoko mengangguk, dia berdo'a semoga kejadian dan semua masalah yang menyakitkan segera berlalu.
************
Dokter Arya membuka matanya perlahan, setelah tiga hari tak sadarkan diri. Dia menatap langit-langit dan keadaan sekitar, mencoba mengumpulkan ingatannya. Dia merasakan genggaman hangat di tangannya.
Sepasang tangan yang selalu memberikannya sebuah kehangatan, menjaga dan merawatnya dari sejak dia bayi. Tampak si pemilik tangan itu sedang terlelap dengan posisi duduk di kursi di samping ranjangnya.
Buliran beningpun menerobos keluar dari sudut matanya. Ada penyesalan dan kesedihan yang menyeruak di hatinya, dia tidak menyangka jika rasa iri terhadap adik kandungnya justru menjerumuskannya pada kebencian. Dan kebencian itulah yang membawanya kepada orang-orang yang memperalatnya sebagai alat balas dendam.
Pikiran Dokter Arya menerawang kepada sosok Amanda, dia memejamkan matanya menahan rasa pedih di hatinya, mengingat apa yang sudah di lakukannya terhadap Amanda. Bahkan, dengan tega dia sudah menyingkirkan Zaidan dan membunuh Doni untuk mendapatkan Amanda. Namun, kenyataannya justru dia sudah berbuat jahat terhadap Amanda.
Dokter Arya tidak mampu menyembunyikan isak tangisnya, sambil menggenggam erat tangan Mira, membuat sang Mamah tersadar dari tidurnya.
"Arya" panggil Mira lembut.
"Mah" Arya semakin terisak, kala melihat mata sembab sang Mamah.
"Maafkan Arya, Mah"
Mira tidak menjawab, dia memberikan pelukan hangatnya untuk Dokter Arya.
"Bertobatlah Nak, minta ampun kepada Sang Pencipta dan meminta maaf kepada orang-orang yang kamu sakiti" ucap Mira lirih.
"Arya akan menyerahkan diri Mah, dan mengakui semua kejahatan yang sudah aku lakukan"
"Iya sayang, Mamah akan membantu kamu menuju jalan kebaikan dan Mamah akan selalu mendampingimu" ucap Mira di sela-sela isak tangisannya.
************
"Kenapa kalian memperlakukan Mamah seperti anak kecil?" tanya Amanda, menatap bergantian tiga pria di hadapannya.
"Karena Mamah adalah seorang Ratu yang harus kami jaga" jawab Raza santai, yang mengundang gelak tawa di antara mereka. Sedangkan, wajah Amanda tampak semakin merona.
"Kalau Ratu berarti harus ada Rajanya dong" ucap Zaidan, menatap lekat Amanda, membuat wajah Amanda yang merona merah semakin tidak karuan.
"Pastinya, kira-kira kapan dong sang Raja dan sang Ratu bersatu?" goda Dion, menatap bergantian Zaidan dan Amanda.
"Dion!" sergah Amanda, dia tidak berani sama sekali menatap Zaidan.
Gelak tawa mereka pun terdengar begitu bahagia, sampai terhenti saat melihat kedatangan seseorang.
Tampak Dokter Arya yang duduk di kursi roda, di bantu oleh seorang perawat, Mira yang berada di sampingnya, dan beberapa petugas kepolisian yang mengawalnya.
"Mamah" Zaidan langsung mencium punggung tangan Mira yang menghampiri mereka, di ikuti oleh Raza dan Dion.
Mira langsung mendekati Amanda dan memeluknya.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Mira mengelus lembut wajah Amanda.
"Aku sudah lebih baik, Mamah apa kabar?" Amanda menatap wajah Mira dengan lingkaran hitam di bawah matanya, menampakkan jika Mira kurang istirahat dan ada beban yang di pendamnya.
__ADS_1
"Mamah baik-baik saja sayang, maaf sudah mengganggu kebersamaan kalian" ucap Mira, dengan suara yang terdengar mulai parau.
"Hai, Mamah ini bicara apa? Mamah itu bagian dari keluarga kami" Zaidan berkata, sambil merangkul pundak Mira, yang membuat Mira menangis di pelukan Zaidan.
"Zaidan, Amanda ada yang ingin aku katakan" ucap Dokter Arya lirih.
Zaidan menghela napas.
"Dion, Raza ada pembicaraan orang dewasa yang tidak bisa kalian dengar, kalian tidak apa-apa khan jika keluar dulu bersama Suster" ucap Zaidan lembut.
"Iya pah, tidak apa-apa, ayo Raza" jawab Dion sambil menggandeng tangan Raza.
"Pintarnya jagoan-jagoan Papah, terimakasih ya sayang" Zaidan mengelus lembut kepala Dion dan Raza.
"Suster, tolong bawa dan di temani kedua anak kami dulu" pinta Zaidan.
"Baik Pak" Suster pun melangkah keluar bersama Raza dan Dion.
"Apa yang ingin kamu katakan kepada kami?" tanya Zaidan ketus, dengan tatapan tajamnya.
"Sebelumnya aku mau meminta maaf kepada kalian, dan aku juga sudah mengakui semua perbuatanku di hadapan Polisi" ucap Arya menatap nanar Zaidan, sedangkan dia takut untuk menatap Amanda.
"Langsung saja, tidak perlu bertele-tele!" sergah Zaidan tidak sabar.
"Ini semua berawal dari rasa iri ku kepadamu Zay, aku.."
Dokter Arya nenarik napas berlahan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dari kecil kamu mendapatkan kasih sayang yang berlimpah, walaupun, tidak hidup dengan Mamah.."
Dokter Arya kembali menjeda ucapannya. Mencoba mengumpulkan keberaniannya lagi untuk berkata jujur di depan adik kandung dan wanita yang sangat di cintainya.
***********
Gantung dulu ya biar tambah kepo😁
Maaf ya untuk bab ini tidak terlalu tegang, bab berikut pastinya akan menegangkan, jadi ikutin terus setiap Author up🤭
Apakah Amanda mengetahui penyakit yang di deritanya?
Jadikah Zaidan memboyong mereka pindah ke negara lain?
Bagaimana sikap Zaidan dan Amanda, saat mendengar kejujuran Dokter Arya?
Apakah Dokter Arya akan menjalani hari-harinya di penjara?
Bagaimana juga dengan dendam Lion, Dave dan Baron?
Kisah masih berlanjut, dan menuju detik-detik tamat.
__ADS_1