
Bab 85
"Penyesalan Zaidan"
Zaidan menatap geramnsebuah video yang memperlihatkan rekaman kegiatan Dokter Arya bersama Mamahnya, Amanda, Raza dan Dion. Tampak sekali kebahagiaan di wajah Dokter Arya.
"Jadi inilah dirimu, kita akan mulai permainan ini dan kita lihat siapa yang akan menjadi pemenangnya!" geram Zaidan, dengan kilatan amarah. Dia pun mengirimkan pesan ke anak buahnya.
{ Pantau terus jangan luput dari pandangan kalian, pastikan jika mereka baik-baik saja }.
{ Siap Tuan }
"Kalian memakai cara yang licik, aku pun bisa melakukannya" ucap Zaidan lagi, dengan wajah penuh amarah.
************
Dokter Arya, yang baru saja keluar dari ruang operasi menerima notifikasi di ponselnya.
{ Aku menunggumu di tempat biasa}
"Si*l!" umpat Dokter Arya, segera masuk ke dalam ruang prakteknya, membuka jasnya, merapikan diri dan barang-barangnya, dia pun segera bergegas meninggalkan ruang prakteknya, namun, saat hendak keluar seorang suster masuk menemuinya.
"Maaf Dok, saya hanya mau mengingatkan jika dua jam lagi ada jadwal operasi" ucap suster yang sekaligus merupakan asisten pribadi Dokter Arya.
"Sebelum waktu operasi, aku sudah kembali" Bisik Dokter Arya, tepat di telinga sang suster, yang membuat suster itu tertunduk malu dengan wajah memerah.
"Aku ada urusan penting, jadi kita tidak bisa bersenang-senang hari ini" bisik Dokter Arya lagi, sambil menggigit pelan daun telinga sang suster, yang membuat mata suster itu terpejam dan menggigit bibirnya.
Dokter Arya tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya, melangkahkan kakinya meninggalkan sang suster.
"Kenapa wanita itu sangat gampang di dapatkan?" gumam Dokter Arya, sambil terus melangkah ke arah di mana mobilnya terparkir.
Tak lama, Dokter Arya sampai di sebuah rumah minimalis, dia pun segera turun dan masuk ke dalam rumah itu. Tampak, di dalam sudah ada empat orang yang menunggunya. Dengan santai, dia langsung duduk di sofa bersama mereka.
"Bagaimana Dokter? kapan rencana kalian menikah?" tanya laki-laki setengah baya, aura dingin terpancar dari wajah dan matanya.
"Dia meminta waktu" jawab Dokter Arya, sambil meraih segelas wine yang di berikan oleh seorang wanita yang berada di antara mereka.
"Thank baby" Arya tersenyum penuh arti ke arah wanita itu, yang di balas dengan sikap manja.
"Sudah ku bilang, kalian bebas melakukan apa saja, tetapi jangan di depanku!" bentak lelaki setengah baya itu, dengan kilatan amarah di matanya.
Wanita itu mendengus kesal, sambil bangkit dari pangkuan Dokter Arya, dan beranjak duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Aku ingin membuat Zaidan sial*n itu hancur sehancurnya!" geram lelaki muda yang duduk tepat di hadapan Dokter Arya, terlihat dendam di matanya.
"Di mana keberadaan Zaidan?" tanya lelaki dengan tubuh yang penuh tato.
"Harus aku katakan berapa kali, jika aku tidak mengetahuinya, bahkan perusahaan Radthya akan aku ambil alih" jawab Dokter Arya sambil menyesap wine nya.
"Aku akan membantumu mengambil alih perusahaan itu, tetapi aku minta 50% bagianku" ucap lelaki setengah baya itu.
"Rumah mewah dan aset berharga lainnya itu milik aku dan Baron" ucap wanita itu, yang tak lain adalah Wina.
__ADS_1
"Aku tidak meminta apapun, yang aku inginkan hanya satu membuat hidup Zaidan menderita, menyesal dan hancur!" tegas lelaki itu, yang tak lain adalah Dave, terlihat sorot mata yang penuh dendam.
"Pembagian hasil, bagi aku tidak masalah, karena salah satu tujuanku sama seperti kalian, yaitu menghancurkannya, dan membuat hidupnya terpuruk dengan penyesalan." Terlihat senyum licik dari bibir Dokter Arya.
"Bukankah kamu sudah jatuh cinta kepadanya, honey?" tanya Wina, dengan wajah gusar.
"Tentu saja aku sudah jatuh cinta kepadanya, namun perasaan benciku kepada Zaidan, melebihi rasa cintaku kepada Amanda" jawab Dokter Arya, sambil meletakkan gelas wine nya.
"Kalian yakin, jika Zaidan benar-benar pergi begitu saja?" tanya laki-laki bertato yang tak lain adalah Baron.
"Zaidan itu seorang yang cerdik, apa lagi dengan kekuasaannya, tidak mungkin dia sebodoh itu!" ucap Baron lagi, menatap bergantian Dokter Arya, Dave, Wina dan lelaki setengah baya yang tidak lain adalah Lion.
"Kita harus hati-hati dalam bertindak, anak sial*n itu tidak bisa kita remehkan" Lion mendengus kesal, jika mengingat wajah Zaidan.
Akibat ulah Zaidan hidupnya menjadi susah dan menderita, untung ada Baron yang bersedia membantunya, dan Dokter Arya yang mau bekerjasama dengan mereka.
"Polisi juga masih melakukan penyelidikan kasus terbakarnya panti dan kecelakaan yang mobil di kendarai oleh Amanda dan Doni, kita harus lebih hati-hati, terlebih lagi Baron dan Dave adalah seorang buronan!" Lion berkata, sambil menyulut sebatang rokok, dan menghisapnya dalam-dalam.
"Ruang gerak kami terbatas, dan semua kami serahkan kepadamu" Lion berkata lagi, menatap tajam Dokter Arya.
"Tenanglah, aku akan bermain cantik, kalian tidak perlu khawatir" Dokter Arya mengambil sebatang rokok, ikut menyulut dan menghisapnya dalam-dalam.
Mereka semua tertawa. Tujuan mereka semua sama yaitu menghancurkan Zaidan, membuatnya menderita dan menyesal.
Sementara itu, di tempat tersembunyi tampak sepasang mata sedang mengintai rumah minimalis itu.
Sampai akhirnya, setelah hampir satu jam Dokter Arya keluar dari rumah minimalis itu.
**********
Pesan pertama.
{ Kami sudah mengikuti Dokter itu Nyonya, ternyata dia menemui seseorang di sebuah rumah yang mencurigakan}
Pesan kedua.
{ Jangan gegabah Amanda, akan membahayakan keselamatanmu dan anak-anak}.
Pesan ketiga.
{ Hidupmu tidak akan pernah bahagia, jangan pernah berharap akan mendapatkan Zaidan kembali }.
Pesan keempat
{ Hallo sayang, sedang apa? jangan lupa makan siang😘 }.
Amanda mengerutkan keningnya. Pesan pertama dan ke empat dia sangat mengetahui pengirimnya. akan tetapi, untuk pesan kedua dan ketiga, dia benar-benar tidak mengetahui siapa pengirimnya.
"Apa pesan kedua ini dari Mas Zaidan?"
"Kalau benar yang mengirim pesan ini Mas Zaidan, itu berarti Mas Zaidan..??"
Tiba-tiba Amanda merasakan dadanya begitu sesak.
__ADS_1
"Di mana kamu Mas? kenapa kamu bersembunyi dari kami? apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?"
Amanda mulai terisak.
"Siapa yang mengirim pesan ketiga ini?"
"Apakah ini ada hubungannya dengan kebakaran dan kecelakaan itu?"
Pertanyaan-pertanyaan berputar di kepala Amanda. Sehingga sakit kepala yang hebat kembali menyerangnya.
"Akh..."
"Sakit sekali"
Amanda berteriak sambil memegangi kepalanya. Rasa sakitnya terasa lebih dasyat dari sakit kepala sebelumnya. Amanda pun terjatuh, sambil merangkak, dia berusaha mencari kotak obat. Dengan susah payah dia mengambil obat itu, dan dengan sekuat tenaga dia berusaha meraih gelas yang berada di atas meja, dan...
Prank..
Gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping. dan tak bisa di hindari lagi, karena Amanda berjalan sambil merangkak, membuat telepak tangannya pun terkena pecahan gelas, dar*h segar langsung mengucur deras dari telapak tangannya.
Amanda merintih sambil menangis, sakit kepala yang semakin menjadi-jadi dan perih di telapak tangannya, membuat pandangannya kabur dan menjadi gelap.
************
Kenapa Dave bisa lari dari tahanan?
Kenapa Wina bisa menjadi jahat, padahal dia mencintai Zaidan?
Apakah rencana jahat mereka akan berhasil ?
Apa yang akan di lakukan Zaidan untuk menghentikan mereka ?
Apa yang sebenarnya yang terjadi pada kepala Amanda, yang terus kesakitan ?
Ikuti terus kisahnya, yang semakin seru untuk menuju ending cerita🥰🙏
Radthya Zaidan 👇
Amanda Maheswari 👇
Dokter Arya👇
Devina Maheswari👇
Doni Anggara👇
__ADS_1