
Bab 37
"Penyesalan Zaidan "
Zaidan tersentak mendengar perkataan Doni. Dia menatap dengan sorot mata yang sangat tajam ke arah Doni.
"Mungkin, Amanda tidak ada arti nya untuk mu, tapi bagi ku Amanda adalah wanita istimewa, dan aku ingin sekali memiliki nya.."Ucap Doni lagi, membalas tatapan Zaidan, yang tak kalah tajam nya.
Seketika amarah memasuki hati Zaidan.
"Aku tidak pernah, dan tidak akan bisa mencintai nya, tapi untuk melepas nya, rasa nya terlalu cepat.."Zaidan menyunggingkan senyum smirk nya.
"Apa maksud mu, Radthya Zaidan..??"Tanya Doni, dengan wajah penuh amarah.
Zaidan tertawa kecil.
"Doni Anggara, seorang pengusaha sukses, yang sangat mapan, menginginkan seorang wanita yang bersuami.."Zaidan berkata dengan tertawa mengejek.
"Aku sudah mengenal Amanda dari kecil, perasaan sayang ku sebagai seorang kakak, ternyata berubah menjadi cinta, ketika waktu semakin berjalan.."Doni berkata, dengan menatap lurus ke depan.
Ada senyuman yang tersungging di bibir nya, saat mengingat masa-masa kecil yang dia lalui bersama Amanda.
"Sampai sekarang, aku masih menganggap nya sebagai bidadari kecil ku.."Ucap Doni lagi, yang kembali menatap Zaidan.
Zaidan hanya tersenyum kecut, tampak kedua telapak tangan nya mulai mengepal.
"Anak ku langsung jatuh hati kepada Amanda, begitu juga dengan diri nya yang sangat menyayangi Dion, jadi lepaskanlah dia, berikan dia kepada ku.."Doni kembali, meminta Amanda kepada Zaidan.
Dengan wajah memerah, Zaidan menghembuskan napas nya kasar.
Zaidan, mendekatkan dirinya ke tubuh Doni, mata elang dan tatapan tajam mereka pun bertemu.
"Aku, tidak akan melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milik ku, sebelum aku yang membuang nya."Zaidan berkata, dengan penuh penekanan.
"Amanda, bukan barang yag seenaknya kau campakkan tuan Radthya Zaidan..!!"Suara Doni mulai meninggi, rahang nya mengeras, ingin sekali dia meninju wajah lelaki di hadapannya.
Zaidan kembali tertawa.
"Ternyata, kamu benar-benar mempunyai kelainan tuan Doni.."Ucap Zaidan, yang tiba-tiba menghentikan tawa nya, dan menatap penuh amarah.
"Apa, sudah habis stock wanita di luar sana, sampai kau terobsesi dengan istri orang, hah..??!!"Teriak Zaidan, sambil mencengkram kencang kerah kemeja Doni.
Doni pun, dengan kuat mendorong tubuh Zaidan, membuat tubuh Zaidan mundur beberapa langkah.
"Kur*ng ajar..!!"Zaidan pun maju, hendak melayangkan pukulan nya.
Dan baku hantam pun tak terjadi di antara mereka. Sampai akhir nya, petugas keamanan dan pekerja Zaidan datang memisahkan mereka.
__ADS_1
Devina, Amanda dan beserta Dion pun segera datang ke taman, saat mendengar keributan.
"Ya ampun Zay, kamu kenapa sayang.??"Tanya Devina khawatir, menghampiri Zaidan, memegang wajah Zaidan yang lebam, dan terlihat darah keluar dari sudut bibir nya.
Zaidan tidak menjawab, sambil menyeka kasar darah yang keluar dari sudut bibir nya, dia menatap tajam Amanda yang berada di samping Doni bersama Dion.
Amarah kembali menyelimuti hati nya, saat melihat kekhawatiran di wajah Amanda karena keadaan Doni.
Mereka bertiga, terlihat seperti keluarga kecil.
"Kak Anggara, ada apa ini.??"Tanya Amanda, dengan wajah tampak penuh kekhawatiran.
Terlihat Doni memegangi perut nya, sambil meringis kesakitan, dan tampak wajah dan pinggiran mata nya yang lebam juga.
"Papah, kenapa berkelahi..??"Tanya Dion, sambil terisak memeluk tubuh Doni.
"Sayang, papah tidak berkelahi, tadi sedang latihan ilmu bela diri.."Bohong Doni, sambil berjongkok dan mengelus punggung Dion, yang terlihat naik turun karena isakan tangis nya.
Dion melepaskan pelukan nya, menatap nanar wajah Doni, kemudian beralih ke wajah Zaidan.
"Tapi, papah dan om Zaidan terluka.??"Tanya Dion lirih.
"Papah sama om Zaidan itu latihan nya kasar sayang, jadi membuat mereka terluka, nanti kalau Dion sudah besar, jangan seperti mereka ya, kalau latihan pakai amarah dan emosi.."Amanda berkata, dengan suara lembut, sambil mengacak pelan puncak kepala Dion.
Tentu saja, perkataan Amanda membuat Zaidan dan Doni terperanjat kaget. Sebuah nasehat yang merupakan sebuah sindiran halus.
"Bi Darmi, tolong panggil kan dokter..!!"Perintah Zaidan, dengan suara dingin, dan sorot mata yang tak bisa di artikan.
Dan Zaidan pun melangkah masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh Devina sambil memapah tubuh Zaidan.
Tatapan Devina pun tak kalah tajam nya menatap Amanda.
Amanda menghela napas.
"Ayo, kita masuk kak Anggara, sebentar lagi dokter datang.."Ajak Amanda, sambil merangkul pundak Dion.
Langkah Amanda terhenti, saat tangan Doni menahan lengan nya.
"Amanda, pergilah bersama ku dengan Dion, aku berjanji akan memberikan rumah tangga dan masa depan yang indah dan bahagia.."Ucap Doni lirih, dengan penuh pengharapanan.
Amanda terhenyak.
"Kak, tolong jangan pernah membahas masalah ini lagi.."Pinta Amanda.
"Jika, kakak terus membahas masalah ini terus, lebih baik kita tidak usah bertemu lagi..!!"Pinta Amanda lagi, dengan suara mulai meninggi.
"Mamah, jangan berkata seperti itu, Dion ga mau kehilangan mamah.."Dion memeluk tubuh Amanda, isakan nya kini, berubah menjadi tangisan yang memilukan.
__ADS_1
"Mamah Dion sudah pergi jauh tidak kembali, Dion tidak mau kalau mamah Amanda juga meninggalkan Dion.."Suara dan tangisan Dion, terdengar sangat menyayat hati.
"Papah, cepat minta maaf sama mamah, Dion ga mau kehilangan mamah."Rengek Dion, sambil menggoyangkan lengan Doni.
Terlihat, guratan kesedihan yang teramat sangat di wajah Doni.
Wajah Amanda juga menjadi sendu, dia juga tidak kuasa jika tidak bertemu dengan Dion.
"Bertahun-tahun, aku merindukan mu kak Anggara, sampai hati ku tertambat oleh seorang Zaidan, dan takdir mempertemukan aku dan dia dalam ikatan pernikahan.."Amanda berkata dalam hati, menatap nanar Doni dan Dion.
"Amanda, maafkan atas keegoisan ku, karena sudah memaksakan kehendak ku kepada mu.."Doni berkata, dengan suara parau, terlihat sekali luka di bola mata nya.
"Walaupun, takdir tidak menyatukan kita, aku minta tolong sayangi terus Dion, dia sangat butuh sekali sosok seorang mamah seperti mu Manda.."Ucap Doni lagi, menatap lekat wajah Amanda.
"Biar lah takdir yang berbicara kak, sekarang, kita ikuti saja alur nya, entahlah kemana hati kita akan bermuara.."Amanda berkata, sambil tersenyum menatap bergantian Doni dan Dion.
"Aku, menyayangi Dion tulus dari lubuk hati ku, seperti dulu saat aku menyayangimu kak Anggara."Amanda berkata lagi, sambil melepas kan pelukan Dion.
Tampak, seulas senyum di bibir Doni.
Amanda berjongkok, menghapus lembut air mata Dion.
"Jangan menangis lagi sayang, lelaki itu harus kuat, karena di pundak nya akan ada tanggung jawab yang besar.."
"Maaf kan Dion mah, Dion janji mulai sekarang tidak akan cengeng lagi.."Ucap Dion, sambil menunjuk kan dua jari tangan kanan nya.
"Dion juga janji, akan selalu menjaga dan melindungi mamah dan papah.."Ucap Dion lagi, sambil memperlihatkan barisan gigi putih nya yang rapi.
"Mohon maaf nyonya Amanda, dokter Arya sudah datang, tuan Zaidan sudah menunggu di ruang keluarga.."Ucap pelayan, yang sudah berada di dekat mereka.
"Baik mba, terimakasih kami akan segera kesana.."Jawab Amanda, dengan sikap yang sangat ramah.
Pelayan pun, mengangguk hormat dan langsung melangkah kembali ke dalam rumah.
"Ayo sayang, kita ke dalam mengobati luka-luka papah.."
"Ayo kak.."
***************
Apa, alasan Zaidan yang sebenarnya tidak mau menceraikan Amanda..??
Apakah, Amanda tetap bertahan dengan Zaidan.??
Ikuti kisah selanjut nya, semakin seru dan banyak hal-hal yang tak terduga akan hadir di cerita ini.
Dukungan kalian adalah mood booster author.
__ADS_1
Like, komen dan vote jangan lewatkan untuk author🙏🙏🥰