Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Pergilah Menjauh


__ADS_3

Bab 81


"Penyesalan Zaidan"


Zaidan duduk di samping ranjang Amanda, menggenggam erat jemarinya.


"Maafkan aku Amanda, aku hanya memberikan luka dan penderitaan untukmu"


"Bangunlah Amanda,!"


"Aku mencintaimu, maafkan aku"


Punggung Zaidan tampak berguncang, hatinya begitu terluka melihat keadaan Amanda. Perasaan bersalah semakin menghantuinya.


Tanpa di sadarinya, sepasang mata sedang mengintainya. Wajah sepasang mata itu memerah menahan amarah, saat melihat Zaidan menggenggam tangan Amanda, dan mengucapkan kata cinta.


"Sorry Zay, kali ini gw enggak akan mengalah, karena gw sudah jatuh cinta dari pertama melihatnya, kalau gw enggak bisa memilikinya, maka tidak ada satu orang pun yang bisa memilikinya, termasuk loe!" terlihat tangan orang itu mengepal kuat, dengan senyuman liciknya.


******


Sementara itu, di ruang ICU Doni masih dalam keadaan tidak sadar terlihat seorang diri, karena saat itu perawat yang sedang bertugas menjaganya, sedang pergi ke toilet.


seorang Pria memakai jas putih, bertubuh tinggi, berkulit putih dengan kacamata minus bertengger di hidungnya terlihat memasuki ruangan ICU. Dia menghampiri ranjang Doni, sebuah seringai jahat tampak di bibirnya.


"Kamu tidak akan bisa memiliki dia, kamu sudah membawanya selama lima tahun. Seharusnya dia bersamaku,!" Pria itu berkata, dengan mata dan wajah memerah.


Pria itu dengan cepat memakai sarung tangan karet, dan segera mengambil benda yang berupa sebuah jarum suntik yang berada di kantong jasnya. Perlahan tapi pasti, dia menyuntikkan cairan bening ke dalam botol infus. Dan senyum puas menghiasai wajahnya, saat semua cairan putih itu bercampur dengan air infus.


Setelah semua di rasa cukup, tanpa rasa bersalah, dia melangkah santai meninggalkan Doni. Perawat keluar dari toilet bertepatan dengan menghilangnya Pria itu dari balik pintu.


Perawat itu menghampiri Doni untuk mengecek keadaannya dan layar monitor, tampak semua terlihat baik-baik saja. Setengah jam berlalu, tiba-tiba tubuh Doni mengejang.


Terdengar suara teriakan tertahan di tenggorokan seperti suara orang mengorok kencang. Perawat itu pun panik, dia langsung menekan tombol darurat, sambil mengecek keadaan Doni, ritme jantung di layar monitor tiba-tiba bergerak sangat cepat melebihi batas normal.


Ritme jantung yang bergerak cepat itu, perlahan berubah menjadi garis lurus di iringi dengan bunyi sebuah nyaring yang menakutkan. Dokter dengan di bantu Perawat terus berusaha memompa jantung Doni, sampai akhirnya sang Dokter menyerah, sambil menggelengkan kepalanya dan mengusap keringat di dahinya.


Perawat mengangguk dan segera mencabut alat-alat medis yang di pasang di tubuh Doni, kemudian menutup seluruh wajah dan tubuhnya.


******

__ADS_1


Zaidan yang sedang menangis, merasakan pundak ada yang menyentuh. Saat dia menoleh, tampak Dokter Arya menatapnya dengan wajah yang pucat dan tatapan nanar. Zaidan segera mengusap kasar air matanya.


"Loe kenapa Bang?" tanya Zaidan heran.


Dokter Arya menarik napas kasar dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Zaidan lemas. Dia menatap nanar Amanda.


"Kenapa semua ini harus terjadi,? apa yang harus gw katakan kepadanya Bang?" Zaidan meremas rambutnya frustasi, dadanya sangat sesak. Seorang Radthya Zaidan kembali menumpahkan air matanya.


"Sepertinya, loe harus benar-benar pergi dari kehidupan Amanda, Zay" ucap Dokter Arya, membuat Zaidan menatap heran ke arahnya.


"Maksud loe apa bang?" Zaidan mengerutkan keningnya. Menatap tidak percaya ke arah Dokter Arya.


"Loe lihat sendiri, bagaimana kehidupan Amanda sebelum dan sesudah menjadi istri loe, keberhasilannya saat berada di Kanada, musibah dan ujian saat dia kembali bertemu dengan loe" ucap Dokter Arya, sambil membetulkan letak kacamatanya.


Zaidan menatap lekat Dokter Arya, mencoba mencerna perkataannya. Kemudian dia menatap nanar Amanda. Kebakaran Panti dan meninggalnya Bunda dan anak-anak Panti membuatnya pingsan untuk kedua kali, apalagi jika dia mengetahui kalau Doni sudah tiada.


"Bagaimana dengan Raza, bang? Raza tanggung jawab gw, dia anak gw" Zaidan mengusap kasar wajahnya.


"Raza adalah sumber kebahagiaan Amanda, loe enggak boleh egois. Biarkan Raza tetap bersamanya"


"Di sini juga ada Mamah yang bisa membantu Amanda merawat Raza" jawab Dokter Arya, menatap wajah Amanda.


"Pikirkanlah yang terbaik, gw pergi dulu, mau mengurus jenazah Doni" Dokter Arya menepuk pelan pundak Zaidan sambil berlalu. Tanpa di sadari Zaidan, seulas senyum licik tersungging di bibirnya.


Zaidan mengelus lembut wajah Amanda.


"Maafkan aku"


"Aku mencintaimu"


"Tolong jaga jagoan kita"


Zaidan menghapus air matanya, dan mencium dalam kening Amanda, hatinya begitu berat untuk melepaskannya. Sekuat mungkin Zaidan bangkit dari duduknya, dan dengan langkah berat meninggalkan Amanda.


Sebuah senyum kemenangan mengiringi langkah Zaidan keluar.


********


Zaidan melajukan mobilnya menuju kediaman Mira, dia ingin bertemu dengan Raza untuk terakhir kalinya, sekaligus memberitahukan kabar duka meninggalnya Doni.

__ADS_1


Sesak, sakit dan rasa penyesalan yang dalam yang kini di rasakannya. Dia terpaksa meninggalkan kembali sang Putra yang tidak di ketahui keberadaannya selama lima tahun.


Saat mobilnya akan memasuki perkarangan rumah Mira, terdengar notifikasi pesan masuk dari Dokter Arya. Zaidan pun segera membaca pesan itu.


[ Zay, Amanda sudah sadar. Dia juga sudah mengetahui kematian Doni, dan dia sangat terpukul. Mamah, Raza dan Dion sudah menuju ke pemakaman bersama supir. Lebih baik sekarang loe pergi menjauh Zay, sepertinya mereka menyalahkan loe dengan musibah yang sudah terjadi}.


Pesan panjang Dokter Arya, membuat Zaidan mengerutkan keningnya. Dia mengetahui jika ini adalah sebuah permainan. Namun, situasi saat ini sulit baginya, untuk menyakinkan Amanda. Sambil menunggu waktu yang tepat, sementara ini, dia akan pergi menjauh.


*********


Di pemakaman Doni, suasana haru begitu terasa. Terlihat Raza dan Dion menangis di pelukan Dokter Arya, sedangkan Amanda menangis pilu di pelukan Mira.


Sampai akhirnya, proses pemakaman selesai. Dan para pelayat satu persatu meninggalkan area pemakaman. Tampak Dokter Arya berjalan sambil menggendong Raza, dan memeluk pundak Dion. Mira berjalan di samping Amanda, sambil terus memeluknya.


Zaidan hanya mampu menatap mereka dari kejauhan. Namun, kehadirannya di ketahui Dokter Arya. Senyum bahagia dan kemenangan terukir kembali di bibirnya.


*********


Amanda berada di sebuah tanah lapang yang luas, dengan hamparan rumput hijau yang sangat indah. Dia membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Tubuhnya terasa sangat ringan, dia menikmati tidurnya di alam bebas. Di saat dia hampir terlelap, dia merasakan sebuah tangan menyentuh dan mengelus lembut setiap inci wajahnya. Sampai dia merasakan jemari itu menyentuh lembut bibirnya.


Amanda merasakan, sentuhan itu terasa sangat nyata, sampai dia merasakan tangan itu mulai menyentuh lehernya. Tanpa di sadari, dia menahan tangan itu.


"Tangan ini sangat nyata, aku tidak sedang bermimpi,!" seketika Amanda langsung membuka kedua matanya, dan....


Deg...


**************


Alhamdulillah bisa up lagi.


Di bab ini, Author mau mengajak kalian untuk berspekulasi menurut imaginasi kalisn sendiri.


Mohon maaf untuk "Belenggu Dendam Alaska" Author masih revisi ya🙏.


Sambil menunggu up dan revisi, mampir ke novel tamat Author ya 👇👇


__ADS_1



__ADS_2