Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Namaku Radthya Razama


__ADS_3

Bab 73


"Penyesalan Zaidan"


Pagi sekitar pukul 05.30, mobil Zaidan sudah standby di depan rumah Doni, karena menurut info dari anak buahnya, jika Amanda akan keluar pagi ini, bersama Doni dan kedua anak laki-lakinya.


Tampak wajah Zaidan yang sangat gusar. Dia tidak dapat tidur dari semalam, saat membayangkan jika salah satu dari anak mereka adalah anak dari Doni. Walaupun, menurut informasi yang di terimnya jika di Kanada mereka tidak pernah tinggal bersama.


Tepat pukul 06.00, sebuah mobil Toyota Alphard berwarna silver, memasuki gerbang. Zaidan menyakini jika itu adalah mobil milik Doni. Wajahnya mulai geram, dan darahnya terasa berdesir membuat gemuruh di dadanya.


Zaidan berusaha menahan perasaannya yang penuh gejolak. Hampir satu jam dia menunggu dengan kegelisahan, akhirnya mobil Toyota Alphar berwarna silver pun terlihat keluar dari gerbang. Berlahan dan menjaga sedikit jarak, dia pun membuntuti mobil Doni.


Amanda yang duduk di kursi depan bersama Doni, mengerutkan keningnya. Saat mobil mereka keluar dari halaman, dia sempat melihat mobil yang sama dengan mobil yang di lihatnya semalam.


Tanpa sengaja atau karena di dorong rasa penasaran, Amanda melihat ke arah kaca spion. Benar saja, mobil Mercedes Benz warna hitam yang kemarin di lihatnya, tampak berada di belakang mobil mereka, walaupun tidak terlalu dekat.


"Kenapa Man.?"Tanya Doni sambil melirik ke arah Amanda.


"Oh, tidak apa-apa kok Kak."Jawab Amanda tersenyum.


"Sayang, jangan main game terus dong."Ucap Amanda lembut, sambil menoleh ke kursi belakang. Tampak Dion dan Raza sedang asyik dengan ponsel di tangan Dion.


"Sebentar Mah,"ucap Dion, dengan tatapan fokus ke layar hp. Begitu juga dengan Raza yang ikut serius di samping Dion.


"Dion, Raza, Mamah sedang berbicara dengan kalian.!"Tegas Doni, menatap tajam mereka dari rear-vision mirror ( kaca spion mobil dalam ).


Seketika Dion langsung menutup ponselnya, begitu juga dengan Raza, dengan wajah sedikit takut.


"Maaf Mah,"ucap Dion, dengan raut wajah menyesal.


"Raza juga minta maaf Mah."Raza langsung memeluk tubuh Amanda dari belakang dan mencium pipinya.


"Iya, Mamah maafkan kalian, tapi jangan di ulangi lagi ya,"Ucap Amanda lembut, membalas pelukan Raza.


"Dion, persiapkan dirimu ya nak. Kamu hanya membutuhkan adaptasi sedikit saja."Amanda berkata, dengan tatapan teduhnya.


"Iya, Mamah tenang saja, Dion pasti bisa,"Dion berkata, dengan gaya sombongnya, sambil menaikkan alisnya.


"Ingat pesan Papah, jangan sombong dan bergaya tinggi hanya karena kamu berasal dari sekolah di Kanada.!"Kembali Doni berkata tegas, sambil menatap Dion.


"Siap, Papahku."Jawab Dion, sambil tersenyum dan membalas tatapan Doni.


Cup..


Sebuah ciuman dari Raza mendarat di pipi Doni.


"Raza sayang Papah Doni."Raza memeluk dari samping tubuh Doni yang sedang menyetir.


"Dion juga sayang banget sama Aisyah."Dion berkata dengan santai, dan senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Amanda dan Doni saling tatap. Doni menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Dion. Dia tidak habis pikir, putranya yang baru berusia sebelas tahun, dan belum lulus Sekolah Dasar, sudah mempunyai rasa suka kepada lawan jenisnya. Sedangkan Amanda, hanya senyum-senyum mendengar perkataan Dion.


"Kak Dion tidak boleh pacaran, belum cukup umur.!!"Celetuk Raza, yang membuat Amanda dan Doni tertawa.


"Awas ya Raza, Kakak tidak akan ajak main game seru lagi."Dion berkata dengan wajah cemberut.


"Biarin, Raza mainnya sama Papah Doni saja."Raza berkata sambil bergelayut manja kepada Doni.


Doni tersenyum bahagia, sambil mengelus rambut Raza, Amanda yang ikut tersenyum, kembali mencuri pandang pada mobil Mercedes Benz yang membuatnya penasaran.


Doni yang mengetahuinya, ikut melirik ke arah kaca spion, dia juga agak curiga dengan mobil tersebut, karena saat dia sampai di rumah mereka, mobil itu sudah terparkir hampir mendekati rumahnya. Dan sekarang mobil itu jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka.


Akhirnya, mereka sampai di salah satu sekolah Internasional yang berada di Ibukota. Mereka segera turun, dan masuk ke gedung sekolah. Sedangkan Zaidan menepikan mobilnya di tempat yang cukup aman dan tidak menimbulkan kecurigaan. Dia menyadari jika Doni dan Amanda sudah mulai curiga.


Zaidan segera meminta salah satu anak buahnya untuk datang menemuinya. Tidak membutuhkan waktu lama, anak buahnya datang dengan menggunakan motor Aerox, dan untuk menghindari kecurigaan dia bertukar tempat dengan anak buahnya. Dan Segera dia meminta anak buahnya, untuk membawa mobilnya pergi dari sana.


Zaidan terus mengawasi, sampai akhirnya Doni dan Amanda hanya keluar berdua, karena ini hari pertama Dion dan Raza bersekolah.


Zaidan menatap lekat Amanda, namun, dia menunda untuk mengikuti mereka. karena, dia ingin menemui Raza terlebih dahulu. Saat mobil Doni melaju, bergegas Zaidan masuk ke dalam sekolah. Tentunya dengan kekuasaan dan pengaruhnya sangat mudah baginya untuk memasuki gedung sekolah dan menuju ke kelas Raza.


Raza terlihat sedang berbaur dengan teman-temannya, belajar sambil bermain. Perasaan hangat menyelimuti hati Zaidan, sebuah senyum dan perasaan bahagia sangat terlihat di wajahnya. Dia terus menatap ke arah Raza, entah dorongan dari mana, dia memutuskan untuk menunggu Raza sampai waktu istirahat.


Waktu istirahat pun tiba.


"Hai.."Sapa Zaidan, saat melihat Raza sedang mengambil bola-bola kecil dari keranjang.


Deg..


"Tatapan mata anak ini, kenapa membuat hatiku bergetar hebat."Batin Zaidan, merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat melihat Raza.


"Om, panggil saya.?"Raza bertanya, sambil memindai Zaidan dari atas sampai bawah.


Kembali Zaidan merasakan getaran hebat di hatinya, terutama saat netra mereka bertemu.


"Ya Tuhan, kenapa tingkah anak ini persis denganku.?"Tanya Zaidan dalam hati, dia terus terdiam menatap lekat Raza.


"Om."Raza menyentuh lengan Zaidan.


Sentuhan Raza bagaikan sengatan listrik untuk Zaidan. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, saat tangannya ingin meneluk tubuh Raza, tiba-tiba..


"Razaaa.."Sebuah panggilan mengurungkan niat Zaidan, dengan cepat dia segera menghapus kasar air yang akan mengalir dari sudut matanya.


"Kak Dion."Jawab Raza, saat Dion sudah berada di sampingnya.


"Om ini siapa ya.?"Tanya Dion menatap tajam Zaidan, sambil memeluk bahu Raza, seolah-olah melindungi Raza dari orang asing.


"Hai.."Sapa Zaidan sambil tersenyum, mencoba menetralkan perasaannya.


Dion mengerutkan keningnya, menatap Zaidan.

__ADS_1


"Om ini..?"Dion mencoba mengingat siapa Zaidan.


"Teman Mamah dan Papahmu, kamu pasti Dion.?"Zaidan langsung memotong perkataan Dion.


"Iya benar, terakhir kita bertemu di Bandara."Ucap Dion membenarkan.


"Ingatan yang bagus."Jawab Zaidan.


"Apa Om kesini ingin menemui Mamah dan Papah.?"Tanya Dion penuh selidik.


"Tidak kok, Om hanya ingin mengurus sesuatu, dan kebetulan melihat adikmu sedang bermain sendiri."Jawab Zaidan.


"Apa, Kakak sudah sangat mengenal Om ini.?"Tanya Raza menatap Dion.


Belum sempat Dion menjawab, Zaidan langsung berjongkok di depan Raza, mensejajarkan tubuh mereka.


"Nama kamu siapa anak ganteng.?"Zaidan bertanya, sambil memegang tangan Raza.


"Namaku Razama tapi, biasa di panggil Raza."


Zaidan tersenyum, dan kembali bertanya dengan dada yang mulai berdegup kencang.


"Jadi nama panjangmu Razama.?"Tanya Zaidan lagi.


Saat Raza menggelengkan kepalanya, degupan di dada Zaidan semakin kencang.


"Nama panjangku Radthya Razama."


Deg....


****************


Alhamdulillah bisa up lagi.


Akankah Zaidan segera membuktikan, jika Raza adalah putranya.??


Dan Apakah Amanda, akan mengijinkan Zaidan untuk mengakui Raza ?


Bagaimana perasaan Doni ?


Terimakasih, yang sudah selalu menantikan kelanjutan ceritanya.


Sambil menunggu up yang kadang lama, mampir ya ke novel terbaru dan terlama Author👇




__ADS_1


__ADS_2