Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 11 : Mengalahkan Goblin


__ADS_3

Melalui sihir es, dalam waktu sekejap Cosetta telah menumbangkan 5 goblin, tak hanya itu dia juga menumbangkan sebuah perkampungan goblin seorang diri.


Bongkahan es menyembur ke udara sebelum hancur menjadi serpihan bubuk kristal.


Jelas sekali dengan kemampuan seperti itu dia tidak perlu sebuah anggota party, untuk hal yang aku bicarakan beberapa lalu di kota, aku menganggapnya tak pernah terjadi


Cosetta lebih cocok sebagai petualang solo, terlebih jika dengan sebuah party ada kemungkinan itu akan memperlambatnya yang dia butuhkan lebih ke arah orang yang bisa dipekerjakannya.


"Serius, aku lebih cocok seorang diri."


"Aah, lagipula kemungkinan besar kau tidak akan cocok dengan orang lain."


"Itu melukai hatiku loh."


Aku rasa tidak.


"Lalu bagaimana soal budak?"


"Akan lebih bagus jika kau menjadi dulu seorang bangsawan hingga memiliki wilayah saat itu barulah kau bisa memikirkan hal-hal seperti itu."


Cosetta mengangguk kecil, dia jelas memiliki pemahaman lebih baik dari seumurannya. Tanpa ragu ia memotong telinga goblin untuk diserahkan nanti sebagai bukti penyelesaian quest.


Rika terkejut bagaimana 10 kantong besar berisi telinga goblin diserahkan padanya.


"Tolong tunggu sebentar."


Ia bahkan mengerahkan resepsionis yang lain untuk membantunya, aku tidak heran bahwa itu menjadi sebuah kegemparan nantinya, seorang gadis yang bahkan harus berjalan dengan sebuah tongkat mampu mengalahkan goblin sebanyak itu seorang diri, jelas sekali akan menarik banyak perhatian.

__ADS_1


Ini awal yang bagus untuk membuatnya jadi seorang bangsawan ke depannya.


Aku duduk di kursi saat Cosetta di interogasi oleh staf guild menggunakan kristal kejujuran, sama seperti namanya jika kristal itu bercahaya maka itu bisa disebut kebohongan.


"Biar aku bertanya, apa kamu benar-benar mengalahkan semua goblin tersebut seorang diri?"


"Benar."


"Lalu apa pria itu turut membantu."


Dia menunjuk padaku dan aku hanya membalas dengan gelengan kepala.


"Semuanya memang aku yang melakukannya, pria di sana itu pengangguran dia hanya menggunakanku sebagai dompet dan pemuas nafsunya."


Mendengar perkataan itu semua orang tiba-tiba mundur dariku.


Saat aku mengatakan itu kristalnya bercahaya.


Jelas sekali Cosetta begitu pintar, dompet adalah hal benar sedangkan pemuas nafsu salah, jika aku menolaknya jelas sekali bahwa kristal akan lebih bereaksi pada kebohongan.


Aku terjebak.


"Kalau begitu, aku akan langsung menaikan peringkatmu ke E."


"Terima kasih."


Aku mengikuti Cosetta pulang dengan wajah menangis, tak hanya dia mendapatkan nama baik aku kini akan dikenal sebagai lolicon yang brengsek.

__ADS_1


"Jangan bersedih begitu, aku sengaja melakukannya agar tidak ada wanita yang mendekatimu, dengan begitu kita akan terus bersama ke depannya, soal pemuas nafsu aku tidak keberatan loh."


Dia memang vulgar dan juga licik, mungkin garis keturunan bangsawan memang seperti ini.


Sesampainya di rumah Cosetta mengenakan celemek dan mulai memasak, atas permintaanku aku ingin memakai sup dan ia dengan senang menyajikannya untukku.


"Bagaimana rasanya?"


"Enak."


"Kerja kerasku terbayarkan."


"Kini kamu punya uang bisakah kau memperbaiki rumah ini atau apalah itu?"


"Memperbaiki tidak masalah tapi jika membuat rumah bagus di wilayah kumuh mungkin itu akan sedikit mengundang rasa cemburu para tetangga jadi hal itu tidak bisa dilakukan."


"Apa mau pindah?"


"Tidak, singkatnya aku ingin mengubah dulu wilayah kumuh ini jadi lebih baik."


Aku tanpa sadar tertawa.


"Apa ada lucu?"


"Tidak, gadis kecil tidak akan berfikiran sampai seperti itu, yah.. kau memang menarik Cosetta, lakukan apa pun yang kau inginkan."


Cosetta tersenyum senang.

__ADS_1


Aku kira aku tidak akan pernah bosan dengannya.


__ADS_2