Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 79 : Menuju Akhir


__ADS_3

Claudia bangkit dari dalam reruntuhan selagi menyeka darah dari mulutnya, dia memosisikan sabit di sampingnya, menyeretnya di tanah sebelum kembali berlari.


"Aku suka semangatmu bocah."


Wanita Yokai menahan tebasan yang datang dari depan, dia menyeringai dan ketika membalas serangan, Claudia menundukkan kepalanya.


Tongkat kembali berputar dari atas ke bawah, Claudia menghindarinya dengan gesit.


"Ya ampun, bagaimana kau bisa melewati seranganku, gurumu pasti sangat hebat."


"Dia memang begitu."


Claudia mengayunkan sabitnya dan itu memotong tubuh wanita Yokai dua bagian sebelum akhirnya menjadi debu, pada dasarnya sabit yang dia pegang selalu menyerap sihir cahaya dan kegelapan di waktu bersamaan. Membunuh bndead bukan sesuatu yang sulit untuknya


Tak lama kemudian Cosetta mendekat bersama tiga murid bermasalah lainnya yang babak belur.


"Kenapa mereka bertiga?" tanya Claudia.


"Maklum mereka masih pemula."


"Entah kenapa rasanya sakit sekali dibilang pemula," balas Jeniffer.


"Itu tergantung bagaimana kalian menerimanya."


Bertarung argumentasi melawan Cosetta sesuatu yang mustahil dilakukan. Semua orang bisa mengerti hal itu.


"Mari periksa tempat lainnya."

__ADS_1


"Masih lanjut toh, aku sudah lelah."


***


Wajah Frizt tampak memucat saat seluruh tebasan, serangannya di blokir baik hanya oleh sebuah bilah pedang hitam di tanganku.


"Mustahil, bagaimana bisa? Guakh."


Aku memukul wajahnya hingga dia menukik menembus bangunan. Secara harfiah aku tidak bisa langsung membunuhnya karena pada dasarnya musuh hanya menukar tubuh Frizt saja.


Jika dia mati dia akan langsung berpindah kembali, dan pada akhirnya Frizt yang tidak bersalah yang menjadi korbannya.


"Kenapa, kenapa? Kau tidak berani membunuhku, jika kau kuat itu tidak akan mengubah apapun."


Seperti yang dia katakan itulah kenyataannya tapi hal itu hanya berlaku pada orang lain, ketika Frizt lengah aku sudah menusuk pedangku di perutnya.


"Kau?"


Ekpresi Frizt memucat atau sejujurnya Estropedia di dalamnya.


Ketika aku mencabut pedang dari tubuhnya dia tumbang. Di detik terakhir saat Frizt kembali ke tubuhnya aku segera mengobatinya dengan skill penyembuhan tingkat atas.


Itu melegakan bahwa dia masih selamat.


"Siapa kau?"


"Hanya orang yang kebetulan lewat."

__ADS_1


"Kebetulan lewat, kenapa pakaianku terbuka?"


Aku beberapa kali menebasnya, lukanya berhasil kusembuhkan namun pakaiannya tidak.


"Dasar mesum."


Dia berteriak lalu memukul wajahku hingga aku terbang ke atas.


Padahal aku sama sekali tidak terangsang tetap saja dipukul.


Estropedia kemungkinan mati cukup tinggi namun jika ada seseorang di sebelahnya yang mampu mengatasinya aku yakin dia pasti selamat.


Salah satunya orang yang aku pernah temui, raja iblis saat ini.


Aku ingat saat pertama kalinya bertemu Veronica setelah mengantar Elina untuk bergabung dengan pihak militer, kata pertama yang dia ucapkan padaku.


"Aku menemukan makanan yang tercium sangat enak, aku akan memakanmu."


Dan entah bagaimana aku bisa meloloskan diri, aku bangkit selagi menepuk-nepuk pakaianku.


"Tunggu kemana kau pergi?"


Aku mengabaikan keluhan Frizt dan muncul di atas bangunan untuk menyaksikan pertarungan Fel melawan Pride. Fel menyelimuti dirinya dengan cahaya dari kekuatan pedang suci, di sisi lain Pride juga bertarung dengan seluruh kemampuannya


Pride mengeluarkan pedang dan secara terus menerus berbenturan tanpa henti, itu mengejutkan saat Pride menggunakan berbagai sihir dengan masing-masing elemen berbeda.


Tubuh Fel terbanting ke sana kemari namun semuanya terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku sangatlah kuat di negara ini tidak ada yang dapat mengalahkanku, termasuk seorang pahlawan."


Aku tidak suka kesombongannya terlebih dia selalu lari saat berhadapan denganku. Paling tidak lawan aku dengan serius.


__ADS_2