
Sepuluh tahun sebelum kekalahan raja iblis.
"Jadi ini yang dinamakan kota suci," aku berkata demikian saat melihat bahwa kota itu berada di sebuah pulau melayang jauh di atas langit.
Di sampingku Armisa tidak terlalu terkejut lagi.
"Hebat kan, aku ingin sekali bisa tinggal di sana untuk mempelajari berbagi skill nantinya."
"Aku bisa mengerti itu."
Armisa adalah seorang anak kecil yang aku temui di kota Osiana, setelah berhasil menjual pedang aku memutuskan untuk mengantarnya kemari.
Armisa memiliki kenangan buruk sebelumnya jadi aku merasa senang jika dia bisa mendapat kebahagiaannya sendiri.
Aku melanjutkan dengan pertanyaan.
"Lalu bagaimana kita bisa pergi ke sana?"
Ia balik menatapku selagi memiringkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, mungkin jika kita berteriak ada seseorang yang mengangkut kita."
Dan kami pun melakukan seperti apa yang dia katakan.
"Auuuuooooo."
"Teriakan seperti itu hanya akan terdengar di hutan buat yang lebih keren lagi," tuntut Armisa sementara aku sudah lelah.
"Lupakan, jaraknya terlalu jauh bahkan aku yakin tidak akan terdengar ke sana."
"Ada kemungkinan seperti itu, mari tembak dengan sihir agar seseorang turun."
__ADS_1
"Aku akan digebukin kalau begitu," jawabku lelah.
Pada akhirnya kami memilih berkemah di tempat ini selagi menunggu orang lain bisa sampai ke sana. Keesokan paginya beberapa rombongan pedagang telah membangunkan kami yang tertidur lelap.
"Kalian bangunlah, apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini?"
Seorang penjaga bertanya demikian saat aku menguap lebar.
"Kami ingin pergi ke kota suci."
"Kalian telihat kucel dan lusuh, mungkin mereka akan mengusir kalian."
"Eh, benarkah?"
"Yah bukan berarti mereka mau menerimamu juga.. tidak ada siapapun yang diperbolehkan pergi ke sana."
"Lalu kalian di sini."
"Pedagang yang menyewa kami biasa hanya mengantarkan barang-barang pesanan mereka sampai sini, saat itu akan ada utusan yang datang kemari untuk mengambilnya, lihat itu."
Mereka memiliki sayap putih di punggungnya yang terlihat mengagumkan bagaimana pun kau melihatnya.
Armisa di sebelahku tampak terpesona.
Melihat bagaimana mereka berpenampilan itu wajar saja tidak ada yang boleh yang memasuki kota suci.
Salah satu wanita tegap dengan rambut pirang panjang dan mata biru mendekat pada pedagang.
"Senang bisa melihat Anda, nona Gabriella.. Anda secantik terakhir kali kita bertemu."
"Kamu terlalu memuji, bagaimana soal barang yang sekalian kami minta."
__ADS_1
"Kami sudah menyiapkan bibit pohon yang Anda minta, hanya menanamnya di kota suci aku yakin itu akan tumbuh dengan baik."
"Aku senang mendengarnya, ini bayarannya."
"Terima kasih."
Setelah barang bawaan mereka diturunkan para pedagang mulai pergi, tentu saja aku dan Armisa tidak melakukannya dan melihat dari pojokan.
"Udin mulutmu terbuka, cepat tutup itu."
"Ini pertama kalinya aku melihat wanita secantik mereka."
"Sebaiknya kamu hati-hati kudengar mereka tidak segan membunuh seorang pria yang suka menggoda."
Aku tidak mendengarkan Armisa dan langsung menghadap pemimpin mereka setelah menyapu rambutku ke belakang.
"Halo Nona, namaku Udin boleh berkenalan."
Pasukannya hendak mencoba menyerangku namun dihentikan oleh pemimpinnya.
"Manusia... kamu tahu apa yang sedang kamu katakan, kami tidak memiliki apapun emosi untuk manusia, jika kamu menyukaiku sebaiknya kamu menyerah saja."
"Dingin sekali."
"Tapi kurasa jabat tangan boleh."
Aku memang memegang tangannya, itu lembut, putih dan menenangkan. Malaikat hanya bergerak dengan keadilan kurasa.
"Jadi apa yang kalian mau manusia, aku pikir tadi kalian bergabung dengan para pedagang yang barusan."
"Tidak, tidak, anak ini ingin tinggal di kota suci aku hanya datang untuk mengantarnya."
__ADS_1
"Jika itu yang kalian mau maka pergilah, kami tidak membiarkan siapapun untuk masuk ke wilayah kami."
Jelas sekali bahwa kami diusir.