
Pride hanya bisa memasang senyum masam mengetahui bahwa pelariannya telah dihentikan oleh seorang wanita dengan pedang suci di tangannya.
"Pahlawan Felsia, sebuah kebetulan jika kamu berada di sini juga. Seharusnya kamu pensiun seperti rekanmu dan mati dengan damai."
"Sayang sekali demi semua orang aku tetap harus hidup dan menjaga kedamaian ini," balasnya mengacungkan pedang.
"Sesuai yang diharapkan dari pahlawan."
Fel menerjang ke depan, Pride yang tidak sempat menghindarinya menahan dengan telapak tangannya namun itu menembusnya hingga berhenti tepat di depan matanya.
"Kamu yakin ingin bertarung denganku, aku yakin seluruh anak-anak yang aku besarkan telah memasuki kota untuk membunuh siapapun yang mereka temui, digigit zombie itu menyakitkan loh."
"Soal itu sudah ada orang yang mengatasinya."
Tubuh Fel bercahaya yang membuat Pride segera mundur, dari tangannya menetes darah sebelum akhirnya berhenti.
"Menjadi pihak yang selalu diburu benar-benar merepotkan, mari selesaikan semua ini," ucap Pride yang dijawab tekad kuat.
"Itulah yang aku inginkan."
Pride mengulurkan tangannya dan sebuah Gun Machine muncul di sana, itu menyerupai sebuah musket yang menembakan bola cahaya berkecepatan tinggi.
__ADS_1
Fel menangkis beberapa selagi mempersempit jarak sementara Pride berlari ke samping dan terus menembakan senjatanya dari tempat aman.
"Itu buatan kerajaan Astrea, aku tidak habis pikir bahwa kau mau berkerja untuk mereka."
Pride duduk dan pilar di belakangnya terpotong rapih. Dia bersalto ke belakang sebelum menjawab.
"Mau bagaimana lagi, aku sekarang melayani raja iblis yang baru. Akan berbahaya jika aku menolaknya."
Fel berhenti bergerak dengan peluru yang menyibak sedikit pipinya.
"Raja iblis yang baru, satu-satunya yang masih hidup setelah raja iblis dikalahkan hanya Veronica, maka dia menguasai kerajaan Astrea."
"Tepat sekali, dia adalah ratu di sana."
Fel menancapkan pedangnya di tanah hingga meledak dahsyat, di bawah reruntuhan keduanya berdiri tanpa goyah.
"Necromancer bisa menggunakan sihir selain memanipulasi mayat?"
"Aku tidak seperti mereka, setiap orang yang aku ubah aku juga menyerap sihirnya, walaupun hanya sekali pakai jika orang-orang yang kuubah sangat banyak ini sangat berguna."
Pride mengarahkan senapannya.
__ADS_1
Dari moncong senjata lingkaran sihir tercipta.
"Dragon Roar."
Sekitar tiga ular naga terbuat dari api, air dan angin keluar. Fel mengayunkan pedangnya dan itu membelah kepala mereka seperti sebuah kertas termasuk senjatanya.
"Pedang suci yang mengerikan, pedang yang menerima berkah dewi memang tidak sembarangan, sayangnya kekuatan itu masih belum mampu untuk mengalahkanku yang merupakan inkarnasi dari kesombongan."
"Terserah apa yang kau katakan, matilah."
Pedang Fel bertambah besar 100 kali lipat, ia menaikannya ke atas lalu menjatuhkannya dari atas ke bawah sesuai gravitasi. Pride menahan dengan satu jari hingga pijakannya merebas dan hancur.
"Fiuh, sudah kukatakan harus lebih dari sekedar pedang suci untuk membunuhku."
Pride melemparkan pedang tersebut bersama Fel di dalamnya, ketika Fel hendak jatuh dia memukulnya yang mampu membuatnya terbanting-banting di tanah lalu menembus bangunan di luar area akademi sebelum tertahan di dinding salah satunya dengan retakan di punggungnya.
Dia jatuh selagi menahan batuk menyakitkan.
"Kekuatanmu tidak hanya ini kan, kamu sudah mengalahkan dosa mematikan yang lainnya, hanya aku seharusnya tidak sulit."
Fel mendecapkan lidahnya, pedang miliknya mengecil ke ukuran normal lalu terbang ke tangannya.
__ADS_1
"Barusan masih permulaan, pertarungan sesungguhnya baru dimulai."