
Si pelayan bertepuk tangan dengan semangat.
"Mungkinkah Anda sudah tahu dan mencoba menyelamatkan kota ini lagi?"
"Apa maksudmu?"
Selama ini aku selalu asyik menganggur aku nyaris tidak tahu apa yang terjadi.
"Ada segerombolan naga yang akan datang kemari dan akan menghancurkan kota ini, beberapa kota bahkan sudah mengalami dampaknya."
Sudah kuduga aku selalu merasa bahwa kota ini akan selalu memberikan hal-hal seperti ini, tepat saat aku memikirkannya suara kerusuhan telah terjadi di luar kedai, bunyi semacam pentungan mulai diperdengarkan memaksa semua orang untuk memperhatikan apa yang telah terjadi di sana.
Sekitar puluhan naga tengah melayang di atas langit hendak mengarah ke kota ini, Fel sudah tertidur dan kemungkinan hanya aku yang bisa bertarung saat ini.
"Apa ini akhirnya?"
Aku ingin menyuruh si pelayan untuk tidak mengibarkan bendera flag di sekitarku tapi sudah terlambat.
"Mundurlah akan aku atasi."
Aku berjalan maju selagi mengarahkan tanganku sehingga banyak mata yang mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Oi, oi, apa yang sedang dia lakukan? Jangan bilang bahwa ia ingin menembakan sihir pada mereka."
Seperti apa yang salah satu penduduk katakan aku memang ingin menembak mereka dengan sebuah sihir.
"Fire Bolt."
Semua orang berteriak.
__ADS_1
"Sihir dasar toh."
Tergantung siapa penggunanya sihir dasar sangatlah menakutkan, bola api menghantam salah satu naga meledakannya hingga musnah menjadi debu. Aku melakukannya terus menerus tanpa henti hingga naga musnah seluruhnya.
Semua orang membuka mulutnya seolah tidak mempercayainya.
"Muke gile, nih orang ngalahin banyak naga tapi wajahnya datar banget."
Lu malah lebih terkejut karena wajah gue, teriakku dalam hati.
Bagiku melawan naga sesuatu yang tidak terlalu sulit, jika ada julukan si pembunuh naga legendaris kurasa aku termasuk orangnya.
Semua orang menangis karena suka cita.
Ketika si pelayan hendak membeberkan tentangku aku menutup mulutnya dan mengatakan bahwa dia tidak perlu untuk memberitahu mereka tentangku.
Ia juga malah menangis.
"Terserah kau saja."
Setelah kembali ke penginapan semua orang telah tertidur, Claudia dan Cosetta saling menindih satu sama dan Elina maupun Fel tidur secara normal.
Kami telah melakukan perjalanan jadi sudah sewajarnya kami sangat kelelahan. Sebaiknya aku juga mandi dulu sebelum beristirahat.
Aku membuka pintu dan di sana seorang gadis baru saja hendak melepaskan pakaiannya.
Tangannya terhenti saat ia menarik pakaian dalamnya selutut.
"Ah, kupikir tidak akan mandi jam segini... maaf menunjukan hal memalukan padamu."
__ADS_1
Dia adalah orang yang mengangkat papan penanda sebelumnya.
Saat berkunjung ke kota air panas aku juga sering melihat adegan seperti ini.
"Mau berendam bersama?"
"Um."
Dia mengangguk mengiyakan. Aku sudah melihat seluruh tubuhnya jadi adil jika ia juga melihat milikku.
Walau kami saling bersebelahan kami hanya menikmati kolam air panas selagi menatap langit malam berbintang tanpa melakukan hal aneh apapun.
"Malam ini terasa damai."
Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan, Fel berjalan di depan bersama Claudia disusul Elina serta Cosetta dan aku di belakang mereka mengikuti.
Aku terlalu lama berendam karena itulah aku sedikit mengantuk. Beberapa jam berikutnya Cosetta membuka mulutnya.
"Apa kau sangat bersenang-senang berendam bersama pemilik penginapan, bagaimana rasa tubuhnya?"
Dia jelas marah.
"Meski kalian mengabaikanku aku sama sekali tidak melakukan apapun, sudah kukatakan ketika kau hidup sangat lama nafsu seperti itu kau tidak akan miliki lagi."
"Apa Fel juga seperti itu?"
"Kurang lebih seperti itu juga, karena itulah elf jumlahnya sedikit karena kami tidak terlalu memproritaskan berkembang biak."
Kini mereka menatapku dengan wajah kasihan.
__ADS_1
"Oi, hentikan itu... lihat di depan kita sudah sampai."
Seperti yang aku katakan kami sudah tiba di Pemukiman Dwarf.