Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 32 : Perpisahan Tanpa Air Mata


__ADS_3

Sepuluh tahun sebelum kekalahan raja iblis.


Aku memunculkan lingkaran sihir yang masing-masing menembakan berbagai elemen untuk menjatuhkan seekor naga, tak perlu untuk menunggu melawan seranganku, karena aku telah membuatnya menjadi tukang berulang.


Sepertinya aku memang harus menahan diri, dengan ini sulit menjual materialnya.


Seorang prajurit yang baru aku selamatkan mendekat.


"Terima kasih banyak, naga ini benar-benar merepotkan."


"Tak masalah, kalau begitu aku pergi."


"Tunggu dulu, boleh aku tahu nama Anda?"


"Namaku Udin."


"Pedang itu?"


"Aku berniat untuk menjualnya di kota."


"Kalau demikian saya sarankan ke kota Osiana, di sana rumah bagi penjudi dan orang-orang kaya berkumpul."


"Sepertinya itu menarik, beritahu aku arahnya."


"Tentu."


Waktu saat ini.


Aku meminta Claudia untuk duduk di batang kayu sementara aku berdiri di depannya selagi mengarahkan tanganku, selain aku semua orang telah mundur sejak lama.


"Berjuanglah Rider, ingat kau harus benar-benar menyelamatkannya."


"Kalau ingin memberikan dukungan lebih baik mendekatlah," kataku pada Cosetta.


"Hah? Kita tidak boleh mengambil resiko bagaimana kalau kutukannya keluar dan mengenaiku."


"Aku bisa mengerti hal itu, lalu Elina dan Fel?"


"Kami bersiaga jika terjadi sesuatu."


"Aku juga tuan Ardhi, ada beberapa monster yang datang lagi jadi biarkan aku yang mengatasinya."


Bilang saja mereka takut.


Aku kembali menatap Claudia.


"Maaf merepotkan, jika ini berbahaya mari jangan lakukan."


"Apa yang kau katakan, bukannya kau ingin menggunakan sihir."

__ADS_1


"Tapi?"


"Jangan khawatir dibandingkan ini, aku pernah menemui kesulitan mengerikan khususnya saat di kota Osiana."


"Kota Osiana?"


"Aku tidak ingin mengatakan kota seperti apa itu yang jelas sebaiknya kita menjauhinya."


Lingkaran sihir muncul di telapak tanganku lalu aku mulai berkonsentrasi.


Aku bisa membayangkan sosok Claudia yang dirantai di sekujur tubuhnya. Rantai itu perlahan hancur satu persatu dan akhirnya lepas darinya.


"Aku rasa sudah selesai."


"Aku tidak merasakan hal berbeda guru?"


"Tubuhmu sekarang dialiri mana, pertama mari kita lihat kecocokanmu dengan sihir apa."


Ketika aku memberikan hal sama yang aku lakukan pada Cosetta sebelumnya, aku menyadari bahwa ia memiliki dua kecocokan sihir kegelapan dan cahaya.


Itu seperti biasanya cukup mengejutkan.


Fel maupun Cosetta mendekat.


"Cahaya dan kegelapan, benar-benar kekuatan special... tidak aneh jika para bangsawan iri dengan itu."


Selain masing-masing elemen tersebut sangat jarang dia juga malah memiliki keduanya, entah Cosetta atau Claudia sepertinya aku telah memiliki murid berbakat.


"Mari coba tunjukkan kekuatanmu Claudia," kata Cosetta.


"Apa tidak apa-apa?"


Aku menjawab.


"Cobalah, kau hanya harus membayangkannya dengan baik, buatlah masing-masing di tanganmu sebuah sabit dari sihirmu."


"Aku mengerti."


Seperti yang aku katakan di kedua tangan Claudia tercipta sabit, di tangan kirinya sabit hitam dari bayangan dan sabit lain terbuat dari cahaya di tangan lain.


"Kalian mungkin memang akan jadi orang yang hebat," kata Fel yang entah kenapa belakangan ini banyak memuji.


"Aku juga bersyukur, jika Cosetta jatuh dalam kegelapan ada Claudia yang akan menyelamatkannya," kataku.


"Itu terdengar seperti aku ini orang yang akan berubah jadi jahat di masa depan."


"Maaf mengecewakanmu, tapi aku merasa demikian, anggap saja untuk berjaga-jaga."


"Kak Cosetta tidak akan begitu, ia akan selamanya jadi orang baik."

__ADS_1


"Benar yang dikatakan Claudia.. imutnya."


"Tolong jangan memelukku."


Aku jelas meragukannya.


Elina sudah selesai mengalahkan monster yang tersisa dan sudah seharusnya kami melaporkannya untuk mendapatkan uang lebih.


Mari rampok uang ibunya sekarang.


Si pencuri pakaian, si penyibak rok legendaris dan si pemungut makanan, berterima kasih di gerbang kota saat matahari sebentar lagi tenggelam.


Mereka akan pergi.


"Terima kasih sebelumnya, kini aku bisa bebas dan mencuri jemuran lainnya."


"Aku juga, aku rasanya akan menyibak banyak rok di masa depan."


"Kalian ternyata nggak ada kapok- kapoknya, lakukan saja sesuka kalian."


Si pemungut makanan menyodorkan kue muffin padaku.


"Ambilah."


"Jangan bilang ini baru jatuh."


"Tentu saja tidak, aku menjaganya agar tidak jatuh."


Aku menerimanya dan ia melanjutkan.


"Aku memutuskan untuk ikut dengan mereka berdua, aku yakin kami bisa hidup sebagai petualang di kota terpencil bersama-sama."


"Kami akan jadi yang terkuat."


"Benar, selamat tinggal."


"Kuharap kalian baik-baik saja, selamat tinggal."


Kalau saja mereka bertiga bukan penjahat ini akan jadi adegan menyentuh, aku serius.


"Tuan Ardhi, apa mereka teman-temanmu?" tanya Claudia yang baru datang.


"Bukan."


"Begitu."


"Mari pura-pura saja tidak pernah melihatnya."


Claudia hanya memiringkan kepalanya dengan tanda tanya muncul di atas kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2