Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 58 : Big Turtle


__ADS_3

Seluruh petualang telah berkumpul di luar kota, matahari bersinar terang yang mana menjadikan hari ini akan cerah.


Sebuah hari yang cocok untuk perburuan, tentu saja bukan monster yang kami cari melainkan sebuah bijih material yang lebih berharga dari Mithril yang disebut Artel yang semuanya berada di punggung seekor kura-kura raksasa.


Semua orang tampak membawa beliung untuk mendapatkannya. Beliung ini dibuat khusus dengan mengambil mana penggunanya yang memungkinkan bisa menambah kekuatan dari alat tersebut. Singkatnya semakin banyak mana yang dialirkan maka semakin mudah untuk mengambil bijih tersebut.


Felsia kini tidak menyembunyikan lagi wajahnya dan banyak orang yang mengerumuninya hanya untuk sekedar berjabat tangan, hal itu juga tidak terkecuali party pahlawan Harley yang mendapatkan perlakuan sama, untukku sendiri.


Aku kesepian dipojokkan. Claudia dan Cosetta juga cukup menarik banyak kerumunan bersama Elina.


Ayolah kawan-kawan, apa tidak ada seseorang yang menyukaiku di sini?


Aku melirik para gadis dan mereka segera memalingkan wajahnya. Kurasa mereka lebih memilih pria seperti si rambut mangkuk dibandingkan aku.


Yang aku maksud Mosimosi, dia ini pria brengsek kalian pasti akan hamil setelah ini, aku mengatakannya bukan aku iri, aku hanya mencoba memberitahu mereka dengan hal semacam umpatan hati.


Tak lama sebuah getaran terasa di bawah kaki kami, dari kejauhan semua orang bisa melihat seekor kura-kura raksasa dengan punggung mengerucut telah berjalan tanpa hambatan, makhluk ini terlalu santai seolah dia tidak peduli.


"Akhirnya tiba waktunya untuk kita memanen, semuanya bergegas bergerak."


"Hooh."

__ADS_1


"Saatnya berburu."


"Mancing mania mantap."


Seorang veteran telah menggerakkan seluruh kawanan untuk maju. Perkataan yang terakhir itu sepertinya kurang tepat.


"Kita juga," disusul kelompok Harley dan kelompokku bergerak belakangan.


Beberapa orang melemparkan tali berkail lalu memanjat ke atas, mengikuti di belakang adalah para penyihir yang bisa terbang dan sisanya memanjat layaknya manusia laba.


Untuk Fel dan Elina mereka berlari untuk memanjat sementara aku harus naik menggunakan sihir angin dengan kedua tanganku dipegang Claudia dan Cosetta entah kenapa aku malah terlihat seperti lift.


Adapun untuk kura-kura, masih cuek.


Aku bisa memotongnya dengan mudah, yang lainnya sedikit kesulitan karena harus melakukannya beberapa kali baru bisa mendapatkannya, bahkan tidak sedikit yang kembali turun dengan hanya membawa satu kepalan.


Menambang selagi menyeimbangkan tubuh saat kura-kura ini bergerak memang sedikit sulit, aku melirik ke arah Homura ia dengan mudah menebas mereka dengan beliung serta dua orang lagi juga melakukan hal sama.


Fel mendapatkan banyak untuk dirinya begitu juga Elina, kecuali Claudia dan Cosetta kami lebih memilih untuk menjualnya nanti.


Setelah beberapa waktu kami menyadari bahwa kami telah bergerak semakin jauh dari kota, maka dari itu kami akhirnya turun bersama kelompok Harley dan mengucapkan selamat tinggal untuk Big Turtle.

__ADS_1


"Rider, jika kura-kura ini terus bergerak bagaimana dia bisa pindah ke selatan dan Utara walaupun sebenarnya ada tembok yang membatasinya?" tanya Cosetta.


"Jika soal itu Big Turtle mengambil jalur laut terkadang dia juga bisa menggali lubang walaupun jarang untuk melihatnya melakukannya."


"Jadi begitu."


Untuk sekarang kami memutuskan bergabung di guild yang telah menjadi sebuah perayaan besar.


"Mari minum, minum."


"Hoh."


Kehidupan petualang memang seperti ini, bekerja, mabuk-mabukan kemudian teler. Keesokan paginya lupa diri dan akhirnya barang-barang mereka raib.


Ngomong-ngomong orang yang sangat tega untuk merampoknya adalah aku.


"Aku kaya malam ini hahaha."


Semua orang menatapku dengan tatapan bermasalah.


"Selain 3 M, penganggur juga harus memiliki kemampuan seperti ini, mencuri ketika ada kesempatan... jika dari para pemabuk boleh."

__ADS_1


Mereka semua menatapku semakin pucat lalu pagi berikutnya aku dijebloskan ke penjara.


__ADS_2