Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 44 : Gemini


__ADS_3

Si kembar kini mulai berlarian ke sana kemari menghindari akar yang terus mengejarnya seperti sebuah telapak tangan raksasa, berkat mereka aku memiliki waktu untuk mempersiapkan berbagai sihir pendukung, kecepatan dan kekuatan hanya segelintir hal yang kutambahkan, yang paling menyusahkan dari musuh adalah kemampuan dari mata ketiganya, karenanya aku kini menyelimuti diriku dari efek kutukan.


Setelah selesai aku hendak maju namun kuputuskan untuk sedikit menunggu lebih lama, pada dasarnya Gemini adalah roh yang suka bertarung, wajah polos mereka hanyalah tipuan semata.


Gemini memotong rentetan akar tersebut melalui kapak besar mereka, salah satunya menghantamkan kapak ke tanah dan itu menciptakan tebasan kehancuran yang menjalar ke arah Blossom.


Blossom berubah menjadi kelopak bunga, ketika kelopak bunga membentuk tubuhnya kembali Gemini satu lagi telah bersiap di belakangnya.


Dia membacok hingga membelah bagian tubuh Blossom dua bagian, seperti sebelumnya itu hanya berubah menjadi kelopak bunga kembali.


Gemini yang telah kehilangan momentum terhantam akar dari pijakan mereka hingga menembus tubuh sampai terbawa ke langit.


Itu cara yang mengerikan untuk mati.


Tentu saja roh tidak mati begitu saja, tubuh mereka menjadi serpihan cahaya dan akhirnya kembali ke dunia roh.


Nantinya mereka juga akan kembali hidup.


Aku mengacungkan jempol ke arah keduanya yang melirikku penuh permusuhan, jelas sekali mereka marah karena digunakan untuk melawan monster yang tidak bisa mereka menangkan.


"Main-mainnya sudah selesai, waktunya untuk kau mati."


Dari sekelilingku akar menyeruak ke luar, tidak perlu menghindarinya aku memilih menebas mereka membuat potongan kayu berjatuhan dengan mudahnya.

__ADS_1


Dari mata ketiga Blossom memunculkan petir berwarna merah terang yang perlahan membentuk dirinya menjadi trisula, dia menangkapnya lalu melemparkannya padaku seolah itu ringan.


Trisula menciptakan jalur kerusakan luar biasa sebelum berbenturan langsung dengan pedang milikku, akibat dari benturan tersebut, petir menyebar ke segala arah bersamaan bunyi memekakkan telinga.


Blossom sudah mulai menyadari tentang perubahan yang telah aku terima. Khususnya soal mata ketiganya yang sudah tidak aktif denganku.


"Apa yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri?"


"Aku menggunakan sihir pendukung, bukannya tidak aneh penyihir mampu melakukannya."


"Apa kau bercanda, kau menggunakan lebih dari sepuluh sihir pendukung pada dirimu sendiri dan tubuhmu tidak hancur bahkan membebani dirimu."


Sungguh mengejutkan bahwa Blossom mampu melihatnya, mata ketiganya memang bukan hanya isapan jempol saja.


Kecepatanku sangatlah luar biasa hingga hanya terlihat debu di belakangku.


Blossom terus mencari keberadaanku, saat dia menyadarinya pedangku sudah menebas mata ketiganya.


"Mustahil?"


Aku tidak segera menyerangnya dengan serangan berikutnya melainkan langsung meluncur ke arah pohon yang selalu ia jaga sejak lama, pada dasarnya kemampuannya berasal dari pohon tersebut, apa jika aku menghancurkannya dia bisa melakukannya kembali? Jawabannya tentu saja tidak.


Tepat setelah aku memotong pohonnya, aku menebas Blossom hingga darah menyembur ke udara sementara tubuhnya mulai terjatuh ke belakang tak berdaya.

__ADS_1


"Sudah berakhir."


"Jadi aku kalah juga."


"Ini pertarungan yang luar biasa, kau lebih kuat dari raja iblis. Saat melawannya aku tidak sampai harus menggunakan gerbang roh."


"Jadi benar, kau pahlawan yang tidak dikenal itu."


Tubuh Blossom mulai membusuk menjadi kepulan asap bersamaan dirinya yang menjadi tulang berulang, di saat yang sama pepohonan miliknya juga mulai layu menyisakan dedaunan yang tersapu angin kesunyian.


Kota ini tidak memiliki penduduk lagi jadi bahkan jika dia kalah, tidak ada yang bagus dari pertarungan ini.


Dia kalah namun di waktu yang sama dia juga menang.


Armisa hanya berlutut dengan wajah memucat saat aku menginterogasinya, sementara Elina, Claudia, Cosetta dan juga Fel memperhatikan dari belakang.


"Sebaiknya kau menjelaskan semuanya atau aku akan memukul pantatmu."


"Ugh, aku sudah dewasa tolong jangan lakukan itu."


"Bagiku kau masih seperti anak kecil."


"Maafkan aku."

__ADS_1


Ia sedang berdoa atas nyawanya.


__ADS_2