
Sepuluh tahun sebelum kekalahan raja iblis.
"Jadi ini dunia lain, benar-benar mantap abis!"
Setelah memilih berbagai skill yang ditawarkan dewi, kini aku telah berada di sebuah kota di wilayah selatan. Aku tidak terlalu tahu tentang nama kotanya sendiri akan tetapi pemandangan yang disajikan di sini terlihat seperti di abad pertengahan.
Selain aku memiliki kemampuan over power, aku juga meminta dewi membiarkanku memiliki satu barang untuk kenang-kenangan dari dunia sebelumnya, aku pikir selama ada benda itu aku akan bisa menjalani semuanya.
Aku telah sampai di tempat bernama guild, tulisannya sendiri tidak menggunakan bahasa Indonesia yang aku kenal meski begitu aku masih bisa membacanya.
Alasan aku datang kemari hanyalah untuk mendapatkan identitas saja, kartu guild memungkinkanku bisa masuk ke dalam kota mana pun tanpa dicurigai. Jika itu menyangkut uang di dunia ini masih banyak hal bisa dilakukan selain menjadi petualang.
Ketika aku memasukinya tampak orang-orang menatapku tajam, di antara mereka ada yang terlihat mewaspadaiku seolah aku makhluk asing.
"Yo onii-chan apa kau datang dari luar kota?" salah satunya bertanya ke arahku.
"Iya, apa kota ini tidak menerima orang luar."
"Bukan begitu, belakangan ini di sekitar luar wilayah kota ada seekor naga, aku yakin tidak ada yang bisa datang kemari tanpa bertemu dengannya."
"Aku baru mengingatnya, saat datang kemari aku memang bertemu naga... aku berhasil mengalahkannya."
Aku mengatakan hal itu dan semua orang menertawainya.
"Tolong jangan bercanda, party dengan beberapa orang saja tidak mampu mengalahkan naga apalagi kau seorang diri."
"Jika kau tidak percaya maka tak apa."
Aku berjalan melewati pria tersebut untuk menghadap loket yang diisi wanita resepsionis cantik.
"Aku ingin bergabung dengan guild."
__ADS_1
"Dimengerti, tolong isi formulir ini dan Anda bisa mengikuti ujiannya besok."
"Heh ada ujiannya juga."
"Kami harus menjaga kualitas petualang di guild kami, mohon untuk mengikuti prosedur, terlebih Anda juga harus membayar biaya pendaftaran."
"Harus bayar juga."
Aku menggaruk kepalaku bingung.
Satu hal yang lupa tidak kuminta pada dewi yang menyebalkan itu, adalah uang.
"Aku tidak memiliki uang, apa kalian menerima monster sebagai gantinya?"
"Kami bisa melakukan itu, kami akan menaksir harganya lalu memotong biaya untuk pendaftaran."
Sesaat resepsionis melihatku dari atas ke bawah lalu ia sesaat melihat formulir yang kuberikan padanya.
"Mas Udin, nama Anda sedikit unik."
"Ngomong-ngomong Anda terlihat tidak membawa apapun."
"Tidak, aku membawa naga."
Aku menjentikkan jariku untuk menciptakan lubang hitam di atap guild, dari sana seekor naga raksasa telah dijatuhkan.
"Guakh."
Semua orang berteriak seolah mereka sedang kesakitan.
"Ka-kau mengalahkan naga?" teriak salah satu petualang sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah kubilang barusan kan."
Tiba-tiba seorang pria tua dengan hanya mengenakan celana boxer muncul.
"Apa ada yang berkata naga?"
"Guild master tolong kenakan celana Anda dulu."
"Sejak kapan celanaku tidak ada?"
Ini orang cabul kurasa.
"Siapa kau anak muda?"
"Udin, aku ingin menjadi petualang namun tidak memiliki biaya untuk pendaftaran jadi aku ingin menjual naga ini, apa cukup."
"Bakayaro... ini bukan lagi cukup, naga ini sangat mahal, bagaimana kau mengalahkannya?"
"Dengan sihir."
"Kau mage?"
"Bukan, aku sword master?"
"Aku baru tahu ada sword master yang bisa menggunakan sihir, terlebih jika kau mage kau tidak membawa tongkat dan sementara sword master kau tidak membawa pedang."
"Jika pedang aku menyimpannya di dalam sihir penyimpanan," kataku ringan.
"Kepalaku benar-benar pusing, sihir penyimpanan begitu langka tidak kusangka aku bisa melihatnya secara langsung. Tolong siapkan uangnya."
"Baik, dan tolong guild master pakai celana Anda dulu."
__ADS_1
"Kemana lagi celanaku?"
Ini orang kenapa?