
"Kau membuang hatimu agar bisa menyelamatkan dunia?"
"Suatu hari aku dan teman-temanku bertemu dengan seorang iblis yang mengidolakan sebuah kedamaian, dia mengatakan bahwa impiannya adalah membuat manusia dan iblis hidup berdampingan.. saat itu kami terlalu naif karena mempercayai omongannya, hingga pada akhirnya saat kami meninggalkan kota tersebut kota itu dikatakan telah dihancurkan oleh iblis, tidak ada siapapun yang selamat bahkan orang-orang yang sebelumnya membantu kami tiada.. sejak saat itu entah kalian baik atau buruk, aku akan membunuh iblis tanpa memikirkan hal itu."
Lucifer memandangku dengan tatapan datar, aku sudah menduganya, baginya emosi manusia hanya sesuatu yang asing baginya.
"Aku sedang mengingat iblis seperti apa yang telah melakukannya, kurasa yang kau maksud pasti Veronica."
Aku melesat maju untuk memberikan tebasan beruntun, Lucifer melakukan hal sama hingga bisa dibilang ini menjadi pertarungan Epic yang mengandalkan pedang.
Trang, Trang, Trang. Dentrang.
"Iblis itu memang licik, kurasa dia juga sedang bersenang-senang di suatu tempat dan mengendalikan orang lain sebagai pionnya."
Kami saling membenturkan pedang hingga tertahan satu sama lain.
"Dia masih hidup, aku seharusnya sudah membunuhnya."
"Bagaimana kau membunuhnya?"balasnya demikian.
Aku terdorong ke belakang, tepat saat Lucifer menebaskan pedangnya aku menahannya, membuatku meluncur menabrak akar pepohonan yang selanjutnya menciptakan ledakan besar.
__ADS_1
Aku segera bangkit lalu kembali menyerang kembali.
"Aku memenggal kepalanya."
"Jadi begitu, itu tidak akan berhasil untuknya."
"Apa maksudmu?"
Trang.
Giliran Lucifer yang kulempar jauh.
Tepat saat aku hendak menancapkan pedangku dia berguling ke samping.
"Omong kosong, aku melihatnya sendiri bahwa tubuhnya telah membusuk."
"Tapi kau tidak yakin bahwa tubuh itu akan kembali bukan?"
Darah menyembur dari mulutku saat ujung pedang baru saja menembus perutku. Tak tinggal di sana Lucifer menendang perutku hingga kembali terlempar.
"Kau mungkin belum menyadarinya pohon ini memberikan kekuatan lebih pada iblis, sebaliknya jika rasnya berbeda mereka akan semakin lemah. Ini bukan cara yang bagus untuk mengalahkan seorang pahlawan namun di saat seperti ini aku tidak bisa pilih-pilih."
__ADS_1
Lucifer yang hendak mengayunkan pedangnya melompat mundur saat rentetan pedang cahaya mengincarnya.
Seorang Arch Priest Armisa yang seharusnya mati telah berdiri di antara kami berdua.
"Yang tadi cukup menyakitkan."
"Sungguh sulit dipercaya bahwa Anda masih hidup pendeta tinggi."
"Ini berkat sihir penyembuhanku, walau jantungku hancur aku bisa membuat jantung baru dengan 'mana' dan meletakkannya semestinya."
"Benar-benar merepotkan, coba perhatikan kota ini berkat Anda kini semua orang telah mati, orang-orang yang setiap harinya tampak bahagia kini sudah tidak ada lagi, semua ini karena kesalahanmu."
"Kau sangat senang sekali melihat ekspresi manusia."
Armisa menggigit ujung bibirnya.
"Sebagai penebusan dosaku, akan kubunuh kau secara mengerikan."
Aku bisa melihat bahwa orang di depanku benar-benar telah marah. Sejak mereka mempercayai iblis kematian mereka sudah ditentukan.
Aku sudah mengerti hal itu sejak lama, bahwa tidak ada jalan lagi untuk menyelamatkan kota ini.
__ADS_1
Ketika Rider mengatakan bahwa dia ingin meninggalkan tempat ini tanpa terlibat merupakan sebuah keputusan yang tidak salah juga, meski demikian aku berharap di masa depan tidak ada lagi kejadian yang serupa, karena itulah aku memilih untuk melibatkan diri.