
"Berkat tuan Udin, kami hidup bahagia di sini dan mulai menambah populasi hingga sebanyak ini, setelahnya pahlawan Fel datang kemari juga."
"Kenapa kamu datang kemari?" aku bertanya pada Fel yang mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah.
Seingatku pedang suci telah ada sebelum dirinya.
"Kau tahu aku dan teman-temanku tertarik dengan kota air panas juga, di sana merupakan surganya air panas jadi paling tidak seseorang harus merasakannya walaupun cuma sekali."
Aku bisa mengerti itu.
"Benarkah itu Rider?"
"Guru?"
Walau penampilan mereka 15 tahun sebenarnya di dalamnya tetap 10 tahun.
"Begitulah, tapi kita akan langsung ke Pemukiman Dwarf tanpa mampir ke sana."
"Itu curang kami juga ingin merasakannya lagipula kapan lagi bisa pergi ke selatan."
"Guru?"
Jangan terus memanggilku guru untuk memaksaku.
Aku menggaruk kepalaku jengkel.
"Aku mengerti, mari pergi ke sana juga."
Mereka berdua saling berpelukan. Sudah kayak anak kembar saja.
"Kalau begitu kami akan melanjutkan perjalanan kembali."
"Kalian tidak mampir dulu ke bawah?"
"Aku ingin ras Pixy tetap ras yang tidak diketahui keberadaannya."
__ADS_1
"Kami mengerti semoga perjalanan kalian menyenangkan."
Kami tiba di kota air panas dalam setengah hari. Kotanya sendiri seperti pada umumnya dengan tembok besar mengelilingi bagian luar dan rumah tersusun rapih di dalamnya, untuk bangunan sendiri bisa dibilang sederhana yang lebih memusatkan fungsinya dibandingkan tampilannya. Dan di setiap jalan akan ada orang-orang yang dengan senang memberikan selembaran promosi air panas untuk para pelancong.
"Aku bingung harus pilih yang mana semuanya terlihat mengagumkan?"
Entah aku, Elina ataupun Fel berkata serempak.
"Pilih yang mahal."
Kedua muridku memiringkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku sempat pilih yang murah namun air kolamnya tidak pernah mencapai setengah tubuhku terlebih tidak ada sabun."
"Aku mengalami hal sama juga," tambah Elina dan aku menjelaskan lebih lanjut.
"Harga murah maka fasiltas yang diberikan juga minim, beginilah mereka melakukan bisnis di sini."
Aku berjalan maju untuk menemui seorang wanita yang memegang papan penanda. Bukan karena dadanya besar atau tubuhnya yang semok yang terus mengeluarkan feromon, aku hanya melihat bahwa inilah yang paling mahal.
"Kalau begitu tolong siapkah kamar untuk kami."
"Segera laksanakan."
Dia melompat gembira dan itu naik turun.
Semua orang menatapku dengan wajah sinis.
"Aku tidak memilihnya karena itu."
Percuma saja tidak ada yang mempercayaiku. Berhubung penginapan penuh kami menyewa satu kamar dengan beberapa futon di dalamnya.
Fel membaringkan tubuhnya dan lalu tertidur dalam hitungan tiga detik.
__ADS_1
"Nih, orang tidurnya cepat."
"Seharusnya dia mandi dulu."
"Kalian mandi dulu saja.. aku ingin berkeliling kota dulu sebentar."
"Dimengerti tuan."
Aku selalu merasakan firasat buruk saat datang kemari, sebelum memastikan semuanya aman sulit untuk merasa tenang.
Terakhir kali aku harus berhadapan bandit yang ingin mengambil kota ini dan kuharap tidak ada hal buruk yang menimpa tempat ini.
"Yo tuan, kulihat Anda dari luar mau bersenang-senang di dalam."
"Ogah."
Sebuah pekerja bar menawariku hiburan malam namun tentu aku menolaknya dan memilih untuk membeli teh di kedai biasanya.
Pelayannya dengan ragu menaruh gelas di depanku.
"Terima kasih."
"Anu, maaf tapi wajah Anda sangat familiar apa Anda sebelumnya pernah datang kemari?"
Wajah pas-pasan dibilang familiar, dia mau mengejek.
"Mungkin ratusan tahun yang lalu."
"Ratusan tahun, mungkinkah Anda orang yang dulu menyelamatkan kota ini."
Dia buru-buru mengambil sebuah buku gambar untuk anak-anak, di bagian sampulnya ada gambar wajahku.
"Tuan Udin?"
Bahkan setelah aku meminta agar tidak ada jejak tentangku, mereka malah menobatkan aku sebagai legenda.
__ADS_1
Tuan penyelamat kota air panas berwajah pas-pasan.
Kota ini mengejekku yah.