
Di depan jendela yang menampilkan panorama matahari terbenam, sang putri berdiri sedikit melamun.
Pada awalnya dia sedikit gelisah dengan keadaan yang menimpanya, kendati demikian itu sedikit melegakan bahwa ia berhasil membujuk Rider untuk membantunya.
Sebelumya ia sudah siap jika harus bunuh diri ataupun kehilangan kesuciannya untuk bebas dari ini, tapi sepertinya jelas dia tidak perlu melakukan salah satunya.
Benar.
Dia menyakinkan dirinya kembali sembari menyentuh dinding jendela tipis lewat jari-jarinya yang kecil.
"Aku hanya harus percaya tuan Rider bisa melakukannya."
Tepat saat itu seseorang telah mengetuk pintu kamarnya, dengan suara yang begitu akrab dengannya ia mempersilahkan masuk.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku tak apa, hanya saja ini terasa sangat berat bahwa di usia 9 tahun harus dipaksa menikah."
"Sesama perempuan aku bisa mengerti itu."
Alicia memiringkan kepalanya, bagaimana kamu melihat Rider adalah pria. Menyebut dirinya demikian itu akan membuat seseorang takut.
Rider menyadari satu hal
"Ah, maafkan aku... tapi aku ini bukan tuan Rider, aku adalah roh bintang Aquarius, kebetulan aku diminta oleh tuan untuk terus bersamamu, sementara tuan sedang menyelidiki hal yang sedang terjadi."
"Jadi begitu, kamu terlihat sangat mirip."
"Tolong jangan menarik-narik wajahku."
"Aku ingin melihat wujud aslimu."
"Apa boleh buat."
__ADS_1
Aquarius kembali ke wujudnya sedia kala dengan kaki yang merupakan sebuah ekor ikan.
"Kamu terlihat cantik, boleh aku memelukmu."
"Aku rasa aku tidak keberatan."
Dalam hati Alicia dia merasa senang lalu sedikit berkaca-kaca.
"Hm, tuan putri?"
"Maaf, ibuku sudah meninggal dan ayahku terus membawa wanita asing ke dalam kerajaan."
Aquarius bisa melihatnya.
"Apa Anda selalu kesulitan untuk tidur?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Tolong jangan membaca pikiranku jauh lebih dari itu."
Aquarius tersenyum kecil, dia meminta Alicia untuk berbaring di tempat tidur.
Aquarius menjentikkan jarinya dan di saat yang sama hujan turun hingga beberapa tetes air mengalir di jendela yang sebelumnya Alicia sentuh.
"Aku dengar hujan bisa membuat seseorang tidur nyenyak."
Aquarius duduk di sebelahnya lalu memegang tangan Alicia lalu melanjutkan.
"Semuanya akan baik-baik saja, tuan Rider ada di sini... walau telihat seperti itu, beliau orang yang tidak bisa mengabaikan siapapun di depan matanya."
"Kurasa itu benar, tolong jangan pergi sebelum aku tidur."
Aquarius mengangguk mengiyakan dengan pandangan seorang ibu.
__ADS_1
Sementara itu Gemini menyadari bahwa sesuatu yang aneh telah terjadi di langit, mereka segera berteduh lalu tiba-tiba saja hujan deras.
Aku yang terlambat menyadarinya langsung basah kuyup.
"Bukannya tadinya hari cerah," protesku demikian.
"Jelas sekali ini kekuatan Aquarius, dia mungkin menyukai hujan."
"Benar sekali."
Kalau sebentar aku tidak keberatan soalnya kami juga harus segera pergi sekarang. Dengan sedikit petunjuk kami telah sampai di dekat laut.
Gemini menyiagakan dirinya saat sebuah ledakan air terjadi di depan kami. Mengintip dari sana sebuah kepala naga naik ke atas.
Dia menatapku dengan pandangan permusuhan.
"Jika tidak salah kau adalah penguasa lautan, Leviathan," kataku memulai.
"Manusia, apa yang kau inginkan hingga datang kemari?" balasnya demikian.
"Aku hanya ingin menanyakan satu hal, beberapa bulan yang lalu ada kapal yang menyeberangi lautanmu, bisakah kau mengatakan apa yang terjadi di sini?"
"Kau cukup sombong untuk bertanya padaku, jelas aku menolak mengatakan apapun yang terjadi."
Kedua gadis loli menyeringai.
"Aku sedikit kesal karena gagal bertarung dengan iblis, tapi kurasa kita punya penggantinya."
"Hehehe tepat sekali, kita belum pernah melawan seekor naga."
Aku memasang wajah bermasalah.
"Jangan dibunuh loh," kataku lemas.
__ADS_1