
Aku memegangi kepalaku saat tiba-tiba segelintir ingatan masuk ke dalam pikiranku, iblis wanita menunjukan wajah heran.
"Apa kau sudah menyerah sebelum aku menyerangmu?"
"Aku hanya baru mengingat sesuatu."
Pantas saja aku tidak asing saat melihat pendeta itu, ya ampun dia sudah tumbuh sebesar itu terlebih hidup ribuan tahun sepertiku.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi matilah."
Iblis wanita mengarah tangannya lalu menembakan sihir angin hingga seluruh bangunan di belakangku hancur menjadi serpihan kecil, di detik terakhir aku berhasil melewatinya lalu menebaskan pedangku di tubuhnya.
Bukan darah yang keluar dari iblis tersebut melainkan kelopak bunga sakura yang menyebar ke udara, di sisi lain iblis itu telah muncul di belakangku.
"Namaku Blossom, seorang yang akan menjadi raja iblis berikutnya."
Aku ternyata salah memilih orang, Fel mengatakan bahwa Lucifer sangatlah kuat ternyata dia lebih darinya.
Di belakang punggung Blossom, pohon sakura telah tumbuh menjulang tinggi, akar-akarnya mulai merambat lalu menghancurkan seluruh bangunan kota yang dilewatinya maupun tembok yang mengelilinginya, manusia juga tidak luput menjadi korban darinya. Mereka tertembus akar tersebut lalu tubuh mereka mengering seolah cairan mereka dihisap oleh tanaman tersebut.
Aku bisa memastikan seluruh orang-orang di kota Osiana telah mati.
__ADS_1
"Bukannya kau berniat untuk menjadikan mereka hewan ternak?"
"Aku berubah pikiran, peternakan bisa dibangun kapan pun, hal yang harus aku lakukan adalah membunuhmu."
Satu buah mata merah terang muncul di kening Blossom dengan pola hexagon, sementara kelopak bunga menyelimutinya dari sekelilingnya.
"Rasanya aneh melihatmu tidak merasa takut, manusia seperti kau benar-benar menarik."
Kelopak itu menyerangku dari segala arah, aku melompat dan beberapa berhasil menempel di bahuku sebelum akhirnya meledak hingga aku jatuh menukik trotoar.
Sudah lama sekali semenjak aku melawan musuh yang kuat.
***
Aku tidak begitu mengerti bagaimana orang-orang di kota ini bisa mempercayai iblis, apa yang mereka katakan hanyalah kebohongan bahkan ketika mereka bilang.
Tolong jangan bunuh aku, aku punya anak yang masih kecil.
Aku menebas seorang iblis yang baru saja membunuh seorang perempuan yang sedang hamil.
Salah satu iblis yang masih anak-anak terus mengatakan ibu-ibu, tapi jelas aku tidak peduli.
__ADS_1
Aku menembuskan pedangku di kepalanya hingga tubuhnya membusuk dan hancur. Ini adalah iblis terakhir yang aku bunuh sampai akhirnya iblis bernama Lucifer turun sendiri untuk menghadapiku secara langsung.
Dia tidak menolong iblis sebelumnya yang aku bunuh, itu sudah menandakan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki perasaan.
Mereka monster dan hidup dengan memakan manusia.
"Sesuai yang diharapkan dari seorang pahlawan yang mengetahui betul sosok kami, kau tidak menunjukkan simpati ataupun emosi saat membantai kami."
"Aku sudah tahu, bagaimana kita bersama ataupun usaha keras yang dilakukan, manusia dan iblis tidak akan bisa saling memahami satu sama lain, iblis memakan manusia dan manusia membunuh iblis, tidak lebih."
"Itu benar sekali.... orang seperti dirimu jarang ada di dunia ini."
Lucifer menarik sebuah pedang berjeruji dari tangannya, itu memiliki warna merah darah.
Dia melesat padaku dan aku menahannya hingga pijakanku hancur menjadi serpihan kecil.
Lucifer tidak menunjukan ekspresi apapun kecuali dia mundur untuk menghindari serangan balasanku, tak lama kemudian sebuah pohon tiba-tiba muncul secara mendadak lalu akar yang merambat darinya mulai menghancurkan apapun termasuk membunuh siapapun yang hidup.
Aku menebas mereka beberapa lalu melompat ke atas bangunan untuk menghindar, bisa kudengar teriakan orang-orang yang mati karenanya.
"Blossom sepertinya memilih untuk menghabisi semuanya. Sayang sekali pahlawan kau terlambat, seharusnya kau lebih dulu memperingatinya, kau marah, kecewa atau sedih?"
__ADS_1
Dia terus mengoceh sementara aku menatap datar padanya hingga dia terdiam. Angin berembus melewatiku, mengayunkan rambutku ke samping.
"Apa yang kau katakan? Sejak lama aku sudah membunuh hatiku."