
Yang bisa aku gambarkan dengan pemandangan ini adalah bahwa iblis dipekerjakan sebagai pelayan, mereka tampak mengikuti tuan mereka, seperti berbelanja serta membawa barang bawaan di tangan mereka.
"Guru apa iblis bisa seperti ini?"
"Tidak, iblis tidak seperti ini... iblis tidak mungkin mau mendengarkan manusia, mereka makhluk keji yang memangsa manusia tanpa alasan apapun seolah hal itu memang biasa untuk dilakukan, jika mereka mau melakukan ini hanya satu jawaban yang masuk akal... mereka sedang merencanakan hal mengerikan."
Fel yang terlihat mendingan turun dari punggung Elina, untuk dirinya juga yang melihat bagaimana iblis bertidak di masa lalu sudah mengerti apa yang aku katakan.
Iblis tidak memiliki hal seperti kasih sayang ataupun cinta, mereka adalah monster.
"Kurasa aku akan bersih-bersih kota ini."
"Aku juga."
Ketika aku dan Fel akan bergerak maju pedang cahaya menembus kami berdua hingga berlutut dengan darah menyembur dari mulutku.
"Rider?"
"Guru."
"Tuan Rider dan Nona Fel."
Di depan kami berdiri seorang wanita dengan pakaian pendeta serba putih dengan rambut panjang terjuntai sampai tanah.
Ia juga memiliki mata putih.
"Kalian baru saja berniat untuk membunuh, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
"Kalian mundurlah."
__ADS_1
Menanggapi permintaanku mereka segera mengambil langkah ke belakang.
"Siapa kau?"
"Namaku Armisa, pendeta tinggi yang membuat kota ini menjadi lebih baik."
"Kau mempekerjakan iblis."
"Benar, mereka bilang ingin berubah menjadi lebih baik karena itulah aku melakukan ini semua, lihat saja.... sebelumnya kota ini dipenuhi rumah perjudian, prostitusi dan kejahatan lainnya tapi sekarang kota ini menjadi lebih bersih dan indah."
Fel di sebelahku tertawa mengambil seluruh perhatian padanya.
"Apa yang sedang kau tertawakan?"
"Kau tidak mengerti seberapa mengerikan iblis itu, mereka menjadikan kita hanya makanan."
"Omong kosong."
"Apapun yang kau katakan aku tidak peduli, aku adalah seorang juru selamat.. akan aku ubah dunia ini menjadi lebih baik, paling tidak akan kubuat para iblis untuk melayani manusia."
Para penjaga mengerumuni kami, pedang yang sebelumnya menancap di tubuh kami juga telah menghilang.
"Aku memiliki tujuan yang mulia, kuharap kalian bisa memikirkan apa yang kalian akan lakukan di kotaku. Bawa mereka pergi."
Claudia dan Cosetta hendak menghentikan kami berdua namun Elina yang telah menyadarinya segera menarik tangan mereka.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan di kota ini?"
"Kami hanya ingin bertemu seseorang, setelah itu kami akan langsung pergi."
__ADS_1
"Baguslah, jika kalian berbuat macam-macam bersiaplah untuk mendapatkan hukuman."
"Kami mengerti."
Dari awal aku memang bisa mengandalkan Elina.
Kami dibawa ke penjara, di sana kami diikat dengan rantai yang terhubung dengan tembok sebelum ditinggalkan sendirian.
Aku tanpa sadar tertawa.
"Ini keduanya kalinya aku di penjara, bukannya ini terdengar lucu."
"Kau terlalu santai dalam posisi seperti ini."
"Bagiku hal untuk bebas bukan sesuatu yang sulit.. aku yakin Elina sudah mencari informasi yang kita butuhkan dan menunggu kita keluar, setelah ini mari pergi."
"Hah, apa yang kau katakan, apa kau ingin meninggalkan kota ini dalam bahaya? Sudah jelas iblis telah mencuci pendeta itu."
"Ini bukan wilayahku dan juga mereka sendiri yang memilih hal seperti ini, aku hanya akan membiarkan mereka menerima akibatnya."
"Benar-benar konyol, jika kau pergi pergilah sendiri. Aku akan menyelamatkan kota ini dengan kekuatanku sendiri."
Aku memasang wajah tidak enak ketika suara langkah terdengar dari bayang-bayang.
"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa bertemu dengan pahlawan dari selatan Felsia, bukan begitu."
Seorang yang mengatakannya adalah iblis pria dengan pakaian bangsawan, ia terlihat sekitar berusia 30 tahunan, dengan tanduk melengkung di atas kepalanya serta rambut mirip seekor singa.
Aku belum pernah melihatnya karena itulah dia tidak mungkin mengenalku.
__ADS_1