
"Tuan Rider, orang ini?"
"Benar Elina, dia orang yang pernah kita temui, saat baru pertama kali dia bilang akan menebasku untuk membuktikan bahwa dirinya lebih cepat dari peluru."
"Saat itu kau melarikan diri, tapi sekarang aku akan menebasmu."
Sebelum Homura mengayunkan pedangnya Harley menghentikannya.
"Tenangkan dirimu Homura, meski dia jelek bukan berarti kamu harus menebasnya."
"Benar sekali, tampang Rider memang pas-pasan," timpal Cosetta.
Permisi?
Bukan aku yang salah, standard dunia ini yang terlalu tinggi.
Homura menyarungkan kembali pedangnya.
"Akan terjadi keributan jika aku tidak sengaja membunuhnya."
Orang ini menyebalkan, hidup dijalan pembunuhan membuat otaknya jadi semplak.
Harley menatapku dengan mata menilai sedangkan Mosimosi berusaha mendekati keberadaan Fel.
"Aromanmu sangat enak, mau jalan bersama."
Dan tentu Fel memukulnya hingga terbang di langit lalu menabrak lonceng satu-satunya di kota ini, tudung yang menunjukkan keberadaan Fel terbuka hingga semua orang terkejut dengannya.
Penduduk mulai berbicara di antara mereka.
"Oi, oi, kamu pasti bercanda dia pahlawan pertama Felsia."
"Felsia masih hidup?"
"Kita memiliki dua pahlawan."
__ADS_1
Aku pikir Harley akan menjadi marah namun dia melompat untuk memeluknya.
"Aku sudah menduganya, nona pahlawan masih hidup."
Harley dipukul dan ia terbang seperti apa yang terjadi pada rekannya.
"Kau tidak ada ampun Fel."
"Aku selalu sensitif saat seseorang memelukku."
Homura tersenyum pahit.
Kabar tentang keberadaan Fel mulai menyebar seperti sebuah wabah, aku sudah mengetahuinya dari awal, pada akhirnya keberadaan Fel lambat laun akan terekspos juga.
Kami berkumpul di ruangan khusus untuk membicarakan soal keberadaan Big Turtle. Di sini juga Fel menegaskan bahwa dia tidak akan mengambil pekerjaan Harley dan bahkan dia siap jika harus dipanggil sebagai mantan pahlawan.
Bagi dirinya eranya sudah selesai dan itu tidak akan pernah berubah.
"Tapi?"
"Yang dikatakan Fel benar, memangnya apa yang kalian harapkan dari seorang nenek."
"Guru."
"Rider, jika kau dipukul kau akan jadi tambah jelek."
Muridku yang satu memang menyebalkan.
Aku kembali duduk di sofa dan diskusi pun dilakukan kembali.
"Material dari Big Turtle sangatlah banyak aku tidak keberatan jika kalian juga ikut menambang, bagaimana menurutmu Homura?"
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin bertarung dengan orang ini."
"Tidak biasanya kamu tertarik dengan hal seperti itu, dan Mosimosi?"
__ADS_1
"Banyak gadis cantik di sini, mari biarkan mereka bergabung."
"Seperti biasa dia lemah pada wanita, ia sempat diculik wewe gombel dan akhirnya otaknya semplak mohon pengertiannya juga."
"Dia ingin mencoba melupakannya," kata Fel datar.
Bukannya kau juga sama, apa ada wanita berpenampilan bunny suit berjalan-jalan di tempat umum seolah itu biasa.
Kurasa tidak?
"Lalu kapan dia muncul?" tanyaku.
"Kemungkinan besok pagi, para petualang juga akan turut menambang, lebih baik kalian juga segera memberi perlengkapan untuk melakukannya."
Kami menerima usulan tersebut dan pergi ke sebuah toko perkakas, kami membeli beberapa beliung untuk digunakan menambang.
Seorang pria tua pemiliknya tertawa.
"Jadi kalian juga akan mengambil biji Artel, tidak kusangka pahlawan pertama datang ke tokoku."
Selagi dia senang dengan itu, aku tidak masalah, lagipula mungkin dia mau memberikan diskon.
"Dua gadis ini tampak cantik, apa mereka bangsawan di suatu tempat?"
"Bisa dibilang begitu," balasku demikian lalu menambahkan.
Aura mereka memang memancarkan hal begitu.
"Walau begitu mereka hanya bangsawan kelas rendah yang tidak terlalu banyak uang."
"Aku mengerti, aku akan memberikan diskon untuk keduanya juga."
Dengan membandingkan umurnya, 15 tahun bisa disebut gadis kecil untuknya.
"Paman kau seorang lolicon?"
__ADS_1
Pria itu mengacungkan jempolnya.
Semoga seseorang menangkapnya nanti.