Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 63 : Roh Bintang Taurus Adalah Onee-san


__ADS_3

Pemukiman Dwarf terdiri dari 30 rumah sederhana yang masing-masing terbuat dari kayu serta atap jerami, para dwarf muda akan dilatih sebagai pandai besi, ketika mereka sudah menginjak usia mapan dan mampu membuat senjata sendiri, mereka akan pergi ke kota-kota besar lainnya untuk membuka toko.


Begitulah siklus dari kehidupan Dwarf, mereka hidup untuk menempa dan pemukiman ini bisa disebut sebagai tempat latihan ataupun membesarkan anak.


Tentu beberapa dari mereka juga bisa dijumpai sebagai petualang.


Aku menjelaskan hal itu pada kedua muridku yang tidak tahu menahu soal dunia, dan mereka tertarik dengan hal itu.


"Lalu senjata seperti apa yang guru tawarkan pada kami?"


"Hal mudah dikuasai kalian, Claudia kamu akan membuat sabit sementara Cosetta kurasa tongkat saja yang seperti yang sering kamu gunakan."


"Itu bukan saran yang buruk."


Kami menuju ke arah rumah paling belakang yang seolah-olah terpisah dari rumah lainnya, pemiliknya bisa dibilang satu-satunya orang yang mampu menempa Artel yang kami bawa.


Ketika memasukinya ada kelompok Harley juga.


"Sudah kuduga kita akan bertemu lagi pahlawan Fel, sepertinya kami dulu yang harus dilayani dan kalian menunggu belakangan," kata Mosimosi yang mendapatkan teguran Harley.


"Jaga bicaramu, dia seorang pahlawan mari biarkan ia lebih dulu."


Fel mendesah pelan.


"Kami datang setelah kalian jadi kalianlah yang lebih dulu."


Di depan tungku seorang dwarf baru saja menyelesaikan sebuah pedang.


"Kelihatannya kalian ingin aku menempa bahan Artel bukan?"


"Benar."


"Haha jika tidak salah kau si Udin, dan gadis kecil itu kamu sudah besar."


Yang dimaksud adalah Elina yang membungkuk kecil bersama Fel.


"Kukira kau sudah mati," potongku.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu, lihat dirimu bahkan masih muda."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum masam.


"Jadi siapa dulu dari kalian yang harus didahulukan?"


Kami saling melemparkan jawaban.


"Mereka."


"Tidak mereka saja."


"Jadi kalian semua saling kenal."


Homura mengangkat tangannya.


"Bagaimana kalau kita bertarung dan melihat siapa yang lebih unggul untuk menentukannya?"


Dia hanya ingin bertarung toh.


"Sepertinya itu menarik, aku juga sudah lama ingin mencoba kemampuanku."


"Aku juga."


Fel dan Elina jelas tidak ingin bertarung dengan alasan konyol.


"Kalian mungkin merasa kuat, namun bagiku kalian ini masih lemah."


Homura maupun Harley tertarik padaku.


"Bahkan jika kalian bertiga menyatukan kekuatan kalian, itu tidak akan bisa mengalahkan satu roh bintangku."


Fel mengetahui apa yang aku maksud jadi dia tidak peduli.


"Jika mereka tidak mau duluan, kami saja."


"Nona Fel, hal yang barusan ia katakan tidak bisa bebas begitu saja. Kami seperti dihina barusan olehnya."


"Guru, Anda malah memprovokasi mereka."


"Kalau tidak percaya mari akan aku tunjukkan pada kalian semua."

__ADS_1


Kenapa rasanya dunia ini jadi semakin merepotkan.


Di depan semua orang, gerbang raksasa menyeruak naik dalam tanah, sebelumnya aku telah memanggil Gemini sekarang aku memanggil Taurus.


Gerbang dengan ukiran banteng tersebut terbuka dan dari sana Seorang wanita dengan dada besar muncul. Ia memiliki rambut pirang sebahu dengan tanduk di atas kepalanya serta mengenakan celana ketat panjang dan juga jaket panjang dengan bagian lengan berbulu.


Keseluruhan darinya bermotif sapi, hitam putih.


Dia menunjukan pose imut dengan gaya perdamaian.


"Yeah, Onee-san telah datang... tuan Udin? Sudah lama sekali kita tidak bertemu 🖤 Onee-san sangat kesepian 🖤"


Guakh.


Aku baru dijatuhkan.


Ini yang mereka bilang tertimpa durian runtuh.


Dia Onee-san tipe cabul serta seorang brocon yang tidak bisa tertolong lagi.


"Oi, hentikan Taurus... aku tidak bisa bernafas."


Dia melompat, menenggelamkan wajahku di dadanya selagi mengeluarkan nafas berat.


"Dia seekor sapi perah."


"Sapi perah."


"Sapi perah."


Mosimosi saja yang bersemangat.


"Ini pertama kalinya aku melihat yang sebesar itu, gaban sudah lewat."


Terlepas dari penampilannya dia sebenarnya roh yang kuat.


Aku melemparkannya ke atas langit dan membiarkannya jatuh ke tanah hingga dia berkunang-kunang.


"Onee-san pusing."

__ADS_1


Akhirnya dia bisa tenang.


__ADS_2