
Kami telah berada di bawah pulau yang melayang di atas langit, bisa dibilang ini pulau yang sama yang pernah aku kunjungi bersama Armisa kecil.
Sejujurnya ada yang ingin kupastikan di tempat ini, saat itu Gabriella berniat membuat patungku, aku ingin melihatnya bahwa hasilnya tidak mengecewakan.
Melalui sihir Armisa kami diterbangkan menuju kota suci dan semua malaikat berkumpul untuk memperhatikan kami.
"Bukannya ia pahlawan yang selama ini kita lihat patungnya."
"Benar sekali."
Aku sedikit bangga mendengarnya.
"Rider jangan sampai bagian bawahmu berdiri."
Seharusnya dia mengatakan hidungmu memanjang untuk menggambarkan situasi.
"Kau? Bisakah berhenti melakukan Tsukkomi, terlebih candaanmu terlalu vulgar novel ini bisa-bisa jadi ranting dewasa."
"Bukannya itu yang diinginkan semua orang."
"Semua orang jidatmu."
Armisa memiringkan kepalanya.
"Abaikan saja mereka, mereka sudah jadi pelawak profesional," kata Fel.
"Siapa yang pelawak!" teriakku hampir bersamaan dengan Cosetta.
"Sudah aku bilang kan."
Ketika aku ditunjukkan patungku wajahku memucat hingga merosot ke bawah, aku mirip ikan mati yang ditemukan keracunan oleh sianida di toko gelap.
Cosetta tertawa puas selagi memegangi perutnya.
"Guru Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Tuan Rider terlalu shock menerima kenyataan."
Terima kasih Elina, kamu sudah menjelaskan situasinya, adapun Fel dia menyembunyikan dirinya untuk tertawa.
Mau bagaimana lagi patungku bukan seperti patung pahlawan pada umumnya, aku terlihat seperti berlutut sementara patung dewi yang mengirimku ke dunia ini menginjakku dari belakang layaknya penyiksa dan si mesum.
Apaan coba?
Bahkan setelah waktu berlalu dia seenaknya.
Ngomong-ngomong penampilan dewi di sini terlalu bagus dibandingkan aslinya. Aku melirik ke arah Armisa yang memalingkan wajahnya.
"Dewi datang kemari dan bilang untuk merubahnya jadi seperti itu, dia bilang kau selalu mengejeknya jadi ini balasan untukmu, bersyukur karena aku tidak memberikan hukuman ilahi padamu."
Perkataannya seperti sebuah mantera mengerikan.
Kurasa aku tidak ingin terlibat lagi dengannya.
Kami dibawa ke sebuah kolam dengan pancuran air.
Semua orang mengangguk mengiyakan.
Untuk kedua kalinya aku kembali bertemu dengan Gabriella. Seperti yang dulu aku ingat penampilannya juga tidak berubah kecuali kepribadiannya saja.
"Senang bisa melihatmu lagi tuan Udin, untuk patung."
"Tolong hentikan, aku sudah mendengarnya... dan namaku adalah Rider sekarang."
Gabriella melirik ke arah Armisa yang dijawab dengan anggukan kecil.
"Kalian pasti lelah dalam perjalanan, mari siapkan tempat untuk kalian beristirahat."
Gabriella terlihat lebih anggun daripada dia sebelumnya.
"Soal itu bisa menunggu, tolong berikan dulu pedang suci milikku."
__ADS_1
"Kamu?"
Fel melepaskan tutup kepalanya menampilkan wajahnya dengan jelas.
"Pahlawan Felsia."
"Itu aku."
"Rasanya tidak enak karena sebelumnya pedangnya saya serahkan pada nyonya, tapi saya pikir untuk memberikannya kembali pada pemiliknya yang asli."
"Pedang itu hanya pedang panjangan, lebih baik jika digunakan semestinya."
Fel buru-buru memeluk pedang miliknya yang ada dalam etalase kaca.
"Sleeping in The Florest, kau baik-baik saja."
"Kau memberinya nama juga kah!" teriakku padanya.
Dia benar-benar menyukainya atau tidak aku tidak tahu? Alih-alih mencarinya dia malah mencariku coba.
Untuk sekarang aku benar-benar ingin tidur. Aku menemukan Cosetta dan Claudia memelukku dari samping.
"Mereka benar-benar seenaknya."
Fel mengintip dari pintu selagi menatapku dengan tatapan mengejek.
"Dasar menjijikan, lolicon."
"Oi, aku juga tidak tahu apa yang terjadi? Dan sepertinya keperawananku masih selamat."
"Kau bertingkah seperti korban."
Lama-lama elf ini juga menyebalkan.
Aku melihat ke jendela dan sepertinya hari sudah pagi, mari jalan-jalan sebentar untuk mengisi waktu.
__ADS_1