
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan arahan pemimpin karavan ini, kebanyakan dari mereka mungkin menganggap bahwa kami dikirim sebagai pasukan untuk membantu garis depan namun sebenarnya kami hanyalah sebuah umpan.
Cosetta dan Claudia sudah menyadarinya jadi aku hanya puas memberikan mereka nilai bagus dalam hal menganalisa.
Beberapa hari berikutnya kelompok kami sampai di titik pertemuan, tak hanya kami beberapa guild di kota lain juga memberikan bantuannya.
Hanya guild dari kota labirin saja yang tidak diperbolehkan untuk bergabung, itulah yang membuat kami bertiga sampai ke dalam kesimpulan bahwa kami hanya dijadikan alat saja.
Kota labirin memberikan banyak penghasilan ke kerajaan dari sistem jual beli material monster, jika para petualang di sana berkurang maka pemasukan kerajaan juga akan berkurang.
Walau mengecewakan, beginilah cara raja ini melakukan keinginannya.
Anggap saja tidak ada hal baik yang dapat dilihat darinya. Kami beristirahat dua hari kemudian kembali bergerak setelah pasukan utama dari kerajaan sampai, itu hanya sekitar 10 orang lengkap dengan zirah besi dan kuda.
Satu orang petualang memprotes.
"Kenapa pasukan kalian cuma sedikit? Aku diberitahu bahwa ada ratusan pasukan yang turut ambil bagian dari ini."
"Pasukan sebelumnya sudah mundur dan sekarang kita menjadi pasukan kedua menggantikan mereka."
"Jangan bercanda kami bukan..."
Sebelum pria itu melanjutkan perkataannya sebuah anak panah telah menembus lehernya, disusul serangan berikutnya.
__ADS_1
Harusnya mereka curiga saat kita diberikan beristirahat. Seharusnya kami bergegas jika benar-benar digunakan sebagai bala bantuan.
Para kesatria yang menggunakan kuda mulai memutar dirinya untuk menjauhi peperangan, tentu aku tidak membiarkannya aku menggunakan sihir angin untuk memotong tubuh mereka hingga berjatuhan tanpa melukai kudanya.
"Salahku," aku jelas terlalu berlebihan.
"Sial, mereka menjadikan kita umpan setelah menggiring musuh datang kemari, mereka menumbalkan kita," kata salah satu petualang wanita berambut biru ekor kuda dengan celana pendek dan bra.
Kalau tidak salah namanya Quina.
Aku yang bersandar di pohon sebelahnya bertanya.
"Apa kau kesal?"
"Tentu saja, aku punya adik-adik yang perlu diberi makan. Jika aku mati aku tidak tahu bagaimana nasib mereka ke depannya."
"Nyaris saja."
Dia hendak menarik pisau kembarnya namun aku segera menghentikannya.
"Lebih baik kau tidak usah bertarung, serahkan semuanya pada muridku."
"Maksudmu dua gadis muda itu?"
__ADS_1
Aku mengiyakan, mereka berdiri di tengah-tengah hujan panah dengan wajah santai, Claudia memutar-mutar sabitnya untuk menangkis setiap serangan padanya, untuk Cosetta ada dinding es yang mampu memblokir sisanya.
"Kalian semua mundurlah atau kalian ingin mati."
"Ba-baik."
Para petualang yang hanya berjumlah 50 orang lagi bergerak mundur meninggalkan mayat-mayat para petualang yang ada di tanah.
Claudia menghentakkan ujung sabitnya ke tanah dan itu menciptakan ledakan sekitar satu kilometer jauhnya.
Di sisi lain Cosetta menciptakan naga es yang bergerak hanya dengan pikirannya, naga itu meluak-liuk di antara pepohonan yang hancur menerkam siapapun yang bersembunyi di antaranya.
Ini jelas sebuah pembantai yang hanya dilakukan oleh dua orang aja.
"Hebat, bagaimana mereka bisa sekuat itu?" tanya Quina.
"Aku juga terkejut yang jelas mereka monster."
Quina memicingkan mata ke arahku.
"Jika muridmu monster maka bukannya kau jauh dari kata monster, ayah monster."
"Aku hanya manusia biasa."
__ADS_1
"Aku jelas meragukannya."
Embusan angin secara berulang-ulang menyapu daerah sekitar kami, dari kejauhan dua muridku berdiri masih ditempat yang sama dan lalu dua orang yang bisa dibilang pemimpin musuh muncul.