
Sementara itu di kota semua staf serta para siswa akademi bersama-sama mengevakuasi penduduk ke tempat aman, dipimpin oleh Elina yang mengenakan seragam militer serta pedang salib di punggungnya semua orang bergerak dengan terampil.
Walau Elina sudah keluar dari militer ia masih akan diandalkan dalam situasi seperti ini.
"Kalian larilah."
"Terima kasih."
Tepat saat itu dari reruntuhan bangunan sosok pria tua bertanduk muncul, ia mengenakan pakaian longgar berwarna putih dengan jenggot yang sudah memutih pula.
"Yokai," kata singkat Elina.
"Larilah, kini aku mayat hidup aku tidak bisa mengendalikan tubuhku."
"Jangan khawatir, aku akan membunuhmu," tambah Elina dingin sebelum menerjang maju.
Pria tua itu mengirimkan sebuah tinju di udara yang mampu menembakan api. Elina menahannya dengan baik melalui pedangnya meskipun dia harus terdorong beberapa meter ke belakang menciptakan garis di bawah kakinya.
"Lumayan nona, tapi berhati-hatilah serangan berikutnya jauh lebih kuat."
Seperti apa yang dikatakan pria itu semburan api jauh lebih kuat menerkam keberadaan Elina hingga bangunan di sekelilingnya meleleh.
"Gadis yang malang, lebih baik untuk melarikan diri dibandingkan melawanku secara langsung."
Pria tua itu berbalik dan terhenti saat sebuah pedang telah menembusnya.
"Heh, pedang ini mampu membunuh mayat hidup."
Elina tidak mengatakan apapun lagi, saat pedangnya ditarik pria tua itu roboh lalu tubuhnya berubah menjadi debu.
Di sisi lain Cosetta telah masuk dalam pertempuran melawan dua puluh mayat hidup dari penduduk kota tertentu. Di belakangnya protagonis komedi Toma berteriak.
__ADS_1
"Kita harus melarikan diri Cosetta, musuhnya terlalu banyak."
"Bukannya semakin banyak semakin bagus."
"Kamu akan terluka, larilah jika pun ada yang harus terluka adalah aku.. paling tidak kamu harus selamat."
"Aku tidak mengerti kau ini ngomong apa, minggirlah jangan mengganggu."
Cosetta menarik kerah Toma lalu melemparkannya ke udara.
"Loh, uwaaaaa."
Toma menancap di genteng dengan kepala lebih dulu.
"Ini waktu yang tepat untuk mencoba senjata baruku, mari gunakan sihir dasar."
Cosetta tersenyum dengan caranya sendiri yang merupakan perpaduan dari senyum licik, kejam, sadis serta tanpa ampun, dia mengangkat ujung tongkat untuk menciptakan riak-riak air dari dalam tanah yang naik ke permukaan lalu membentuk diri mereka menjadi bola kelereng.
"Water Ball."
Setiap kelereng air menembus setiap tubuh mayat hidup kemudian berubah ke sihir tebasan angin, tubuh mayat hidup tercabik-cabik walau demikian mereka masih bisa bergerak.
Toma yang sudah kembali menjerit.
"Hii... mata mereka bergerak."
"Aku tidak memiliki sihir api tapi mari coba ini."
Uap dingin muncul dari sekitar tubuh Cosetta, hanya butuh waktu sebentar untuknya untuk membekukan mereka kemudian hancur menjadi debu kristal.
"Terlalu mudah, mari pergi Toma."
__ADS_1
Cosetta berjalan dengan tongkatnya, saat dia berbalik Toma sudah membeku di sana.
"Kau ini sangat lemah kah."
Dia dicairkan lalu baru bisa bergerak.
"Dingin sekali."
"Maaf soal barusan, kau sebaiknya berjemur atau berdiri di depan perapian."
"Mengejutkan sekali, ternyata kamu bisa baik juga Cosetta."
"Jika kau pergi, bebanku sedikit berkurang."
"Aku menarik kata-kataku barusan, kamu masih jahat."
Cosetta hanya menghela nafas tidak peduli.
Di tempat lain Claudia menyelimuti bilah sabit di tangannya dengan warna gelap sebelum menerjang maju untuk menjatuhkan seorang wanita Yokai pengguna tongkat.
Kedua senjata mereka saling berbenturan sebelum tertahan satu sama lain.
"Bagus sekali bocah, pertahankan... Dengan begitu kau bisa mengalahkanku."
"Kenapa Anda masih bisa memiliki kesadaran."
"Orang yang mengendalikan kami, ingin kami bertarung dengan semua kemampuan kami karena itulah dia mempertahankan kesadaran kami. Yah... walaupun aku tidak bisa mengendalikan tubuhku semaunya, jadi jangan sampai lengah."
"Baik."
Tak lama kemudian sebuah dorongan melempar Claudia jauh menabrak dinding.
__ADS_1