
Kota yang kami kunjungi merupakan kota yang tidak terlalu besar ataupun kecil namun memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi pesat, mereka mampu membayar dengan harga cukup tinggi dibandingkan di kota lainnya khususnya guild sendiri.
Giant Bear yang aku bawa dihargai 7 koin emas, yang cukup banyak untuk kami.
Aku membeli dua permen kapas yang salah satunya aku berikan pada Elina yang duduk di kursi panjang bersamaku.
Layaknya seorang gadis kecil dia memainkan kakinya.
"Tuan Udin, rasanya sangat manis."
"Apa ini pertama kalinya kau memakannya?"
"Hm.. setelah kita tiba di kerajaan Hermione, apa kita akan berpisah?"
"Benar, meski begitu aku akan sering memberikan surat untukmu."
"Terima kasih banyak, sejujurnya aku tidak keberatan untuk ikut dengan tuan, tapi jika aku mengganggu aku tidak keberatan untuk pergi juga."
"Bukan itu alasannya, aku ingin Elina tumbuh bersama anak seumuranmu.. di sana memiliki sebuah tempat akademi untuk melatihmu jadi seorang yang luar biasa, kau bisa menjadi seorang murid elit di sana bergabung menjadi kesatria ataupun militer serta kehidupanmu akan terjamin."
"Meski Anda bilang begitu bukannya aku ini iblis sekarang."
"Karena itulah Akademi Rosenary tempat yang cocok untukmu, dengan bergabung di sana kau tidak akan diburu ataupun dijadikan sebagai musuh kerajaan, orang-orang tidak akan takut padamu. Meski tujuan dibentuknya untuk mengalahkan raja iblis jika aku berhasil mengalahkannya kau seharusnya tidak perlu pergi ke medan perang nantinya."
Elina meneteskan air mata.
"Ah, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
"Bukan, hanya saja tuan melakukan semua ini untukku. Terima kasih banyak."
Aku hanya ingin membuat Elina bisa diterima siapapun di manapun dia berada. Tepat aku memikirkannya seorang wanita berkimono telah muncul selagi mengayunkan pedang padaku.
__ADS_1
"Aku Homura, aku akhirnya menemukanmu, bertarunglah denganku."
Aku memasang wajah bermasalah.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
"Lebih tepatnya kita sama-sama dikirim oleh dewi Iris, aku ingin membuktikan bahwa tebasanku lebih cepat dari peluru jika aku bisa melawanmu."
"Itu tidak masuk akal."
"Bagiku masuk akal."
Orang ini saraf.
"Tunggu, apa dewi Iris masih membaca buku-buku ero seperti yang aku ingat dan dia bilang bahwa kau akan mati jika pindah ke tempat ini."
"Tidak, bagiku dia dewi sesungguhnya."
"Lupakan soal itu, cepatlah bertarung denganku.. pedangku siap membelahmu."
Apa dia ini anak gangster.
"Dengar, jika kita bertarung sekarang kau tidak akan mampu menebasku, jika kau ingin melawanku sebaiknya berlatihlah lebih kuat lagi."
"Kau mencoba membodohiku."
Pada akhirnya aku menunjukkan bagaimana aku mengatakan hal sesungguhnya. Di dalam gang yang sepi yang cukup lebar aku membiarkan Homura berdiri jauh di depanku.
Dia bilang dia ingin bisa menebas peluru karena itulah aku mengambil sebuah krikil lalu melemparkannya padanya dengan kecepatan tinggi tentu saja itu dua kali lipat dari senjata sesungguhnya, setara dengan senapan sniper berkaliber 50 lebih.
Homura hanya bisa diam mematung.
__ADS_1
"Apa?"
"Lihat kan, kau belum cukup cepat untuk bertarung denganku."
Sejak saat itu Homura selalu datang kemana pun aku berada, di kamar mandi.
"Bertarunglah denganku?"
Di kedai.
"Bertarunglah denganku?"
Hal itu terus terjadi dan gagal, hingga suatu hari ia memutuskan sesuatu yang nekat.
"Ada metode cepat untuk membuatku jadi semakin kuat, aku akan memakan iblis."
Sejak saat itu aku tidak melihatnya lagi karena itulah aku menganggapnya sudah mati.
"Aku merasa kasihan padanya tuan."
Elina sudah tahu bahwa lemparan batu itu hanya sebuah trik saja.
"Tak perlu kasihan, dia adalah seorang yang melewati jalan kekuatan sejati."
"Seharusnya Anda bertarung saja dengannya," balasnya lemas.
Dia juga dikirim oleh dewi itu, kemungkinan dia memiliki skill cheat juga.
Dilihat sekilas dia pasti ingin membunuhku. Aku bisa membayangkan sosok dewi yang tersenyum ke arahku.
Kau masih hidup meskipun di kirim ke dunia sana, apa boleh buat aku akan mengirim pembunuh untuk melakukannya, dan Homura orangnya.
__ADS_1
Pasti seperti itu.