Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 42 : Satu Pahlawan, Satu Pendeta Dan Satu Iblis


__ADS_3

Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah tubuhku sehingga luka yang kuterima telah disembuhkan.


"Aku tidak bisa melawannya seorang diri, kuharap kau mau membantuku."


Suara itu datang dari Armisa yang telah bertarung sesaat dengan iblis bernama Lucifer. Jadi pohon ini mempengaruhi sosoknya juga.


Aku memegang pedangku dan berdiri di sampingnya.


"Apa boleh buat dari awal aku juga sudah berniat melawannya," kataku lemas.


Aku melihat Lucifer yang telah berdiri kembali dari lubang, Armisa memiliki sihir suci yang kuat dan baru saja dia menembak Lucifer dengan sihirnya, walau begitu kerusakannya tidak terlalu banyak.


"Sudah waktunya untuk memperlihatkan kekuatanku," kata Lucifer, entah dirinya atau pedangnya telah diselimuti cahaya merah darah.


Jika saja aku memiliki pedangku hal seperti melawannya seorang diri bukan sesuatu yang mustahil, di tanganku sekarang hanya ada pedang yang diberikan oleh Rider padaku.


Ini kuat dibandingkan pedang yang lainnya tapi tidak cukup kuat untuk bisa kekuatan padaku.


Lucifer menebaskan pedangnya dan itu menciptakan tebasan api yang aku tangkis ke samping, atas dan bawah.


Di belakangku Armisa telah merapalkan sihir yang mirip sebuah lantunan doa, aku bisa melihat banyak pedang cahaya di atas langit yang mulai berjatuhan mengincar sosok Lucifer yang bergerak ke sana kemari selagi menangkisnya.


"Berpindah."


Tepat saat dia mengatakan itu tiba-tiba saja, aku maupun Lucifer telah berpindah tempat, kini aku yang dihujani pedang sementara dirinya telah melesat ke depan menebas Armisa sehingga dia menyemburkan darah ke udara.

__ADS_1


Aku tidak tinggal diam lalu menerjang padanya dengan gerakan tusukan, ujung pedangku jelas akan menghabisinya namun dia kembali berpindah tempat dengan Armisa. Aku berhenti tepat waktu.


"Gerakan yang bagus pahlawan, kau berhasil menghentikan seranganmu sendiri.. entah pohon ini yang membuatmu lemah atau tidak, kau bertarung tidak seperti dirimu, aah benar..


kau tidak memegang pedang sucimu."


Dia menyadarinya walaupun terlambat.


"Maaf merepotkanmu," kata Armisa.


"Tak usah dipikirkan, lebih dari itu bagaimana dengan kondisi tubuhmu?"


"Aku mencoba menyembuhkan lukanya sekarang."


Di atas langit sebuah bola raksasa telah jatuh menimpa kami membuat ledakan yang menghempaskan kami berdua jauh ke belakang.


Aku melindungi Armisa karena itulah bagian punggungku terbakar sebelum apinya menghilang.


"Yang barusan hampir saja."


Aku kembali memosisikan diriku dengan pedang di depan, Lucifer menggunakan cara licik ketika dia kalah dia akan mengubah tempat kami semaunya.


Jika aku tidak berhati-hati maka sudah jelas salah satu dari kami akan mati.


"Kurasa sudah waktunya mengakhiri ini, matilah."

__ADS_1


Sebuah tebasan merah terbang lurus padaku, itu tidak menembusku melainkan hancur saat menyentuh tanganku yang bersinar. Kurang tepat menyebutnya bahwa tanganku saja yang mengalaminya, seluruh tubuhku terselimuti cahaya dan rambutku bersinar terang.


"Ini?"


Aku melirik ke arah Armisa yang tersenyum kecil.


"Perlindungan dewi, aku memberikan seluruh sihir suciku padamu. Habisi dia dengan mengerikan."


"Akan kulakukan."


"Sihir suci, ini pertama..."


Srak.


Tangan kanan Lucifer telah terbang ke udara tepat saat aku telah melewatinya, aku berbalik untuk menebaskan pedangku demi memenggal kepalanya, seperti yang aku duga dia telah berpindah tempat dengan Armisa.


"Kau hanya akan membunuh temanmu sendiri."


Sayangnya apa yang dipikirkan Lucifer tidak demikian, aku sudah berada di belakangnya sementara kepalanya telah terpenggal ke udara.


"Mustahil?"


"Hanya ada kita yang berada di pertarungan ini, tidak sulit untuk menebak kemana kau pergi," kataku santai.


Aku melirik ke arah Armisa, sihir suci yang diberikannya hampir setara dengan pedang suci milikku.

__ADS_1


__ADS_2