
Dalam perjalanan aku menemukan Cosetta dan Claudia terbaring di lantai batu dengan perut membuncit, dari mulut mereka menyemburkan air layaknya pancuran.
Fel di sebelah keduanya tampak memegangi wajahnya lelah.
"Mereka berdua?"
"Mereka meminum airnya sangat banyak, meski sudah diperingati."
Aku memasang wajah bermasalah.
"Kalian berdua terlalu gegabah, aku yakin bahwa Gabriella meminta kalian minum seteguk saja."
"Seteguk mana cukup, kami perlu minum sebanyaknya dengan ini kami bisa hidup sangat lama dibandingkan cuma 50 tahun."
"Jika begitu kalian bisa datang kembali nanti setelah 50 tahun bukan langsung meminumnya."
"Guru apa ada efek sampingnya?"
Aku menghela nafas panjang, pengaruh air ini sangat kuat tapi lebih dari itu jika kalian terlalu banyak meminumnya akan berakibat fatal.
Keduanya bersiap mendengarkan hal buruk yang akan aku katakan.
"Selamanya kalian akan jadi loli."
Mereka menunjukkan ekspresi datar.
"Apa? Ternyata cuma itu, bukannya Rider lolicon jadi ini keuntungan kita."
"Guru akan selalu menyukai kita."
"Kalian semua salah paham, aku suka wanita dewasa yang bahenol."
Keduanya malah terkejut karena itu.
"A-apa yang harus kita lakukan Cosetta?"
"Aku juga tidak tahu Claudia kita akan jadi loli."
__ADS_1
Fel memotong.
"Benar sekali, terlebih dunia ini sangat kejam pada loli.. banyak orang-orang yang membawa karung hanya untuk mengincar loli di kota-kota besar, kalian sudah tamat."
"Itu terdengar menakutkan."
Oi apa yang kau katakan pahlawan? Jika demikian bukannya sudah seharusnya ada lembaga perlindungan loli.
Sebaiknya aku tanya Armisa untuk mencari penawarnya.
"Hal seperti itu tidak ada."
Jawabannya cukup menghancurkan harapan kedua muridku ini, tapi dia menambahkan.
"Jika mau kalian bisa mendapatkan buah pertumbuhan, buah itu menjadikan gadis-gadis loli menjadi gadis 15 tahun tapi efeknya hanya sampai itu, dan sejak itu kalian akan berpenampilan demikian selamanya."
"Gadis 15 tahun tidaklah buruk."
"Saat itu dadaku pasti besar."
Kami sebaiknya pergi sekarang terlebih Fel juga sudah mendapatkan pedangnya Sleeping apaan namanya, kami pergi menuju ke arah lokasi yang ditunjukkan oleh Armisa, aku menatap Fel yang sejak tadi mengikuti kami.
"Jadi apa lagi yang kamu inginkan?" tanyaku.
"Itu, aku tidak punya tujuan dan juga kudengar Pride ada di wilayah Utara sampai aku mengalahkannya aku akan terus bersama kalian."
Masalah baru muncul.
"Aku yakin dia tidak ada di sana, lebih baik kamu pergi ke tempat lain."
"Tuan Rider bukannya bagus jika nona pahlawan ikut bersama kita."
"Aku juga setuju guru, sepertinya nona Fel kesulitan dan kesepian."
"Elf tidak pernah kesepian "
"Aku kesepian."
__ADS_1
Bantah sedikit napa perkataanku.
Elf terlampau jujur.
"Kalau aku tidak keberatan, dia sepertinya bisa dijadikan alat yang bagus untuk digunakan."
Orang baik tidak memperalat seseorang terlebih pahlawan yang telah menyelamatkan dunia ini.
Cosetta jahat sampai ke tulang-tulangnya.
"Terserah kau saja, sebaiknya tidak melakukan hal gegabah."
"Itu melegakan."
Aku pikir dia akan pergi setelah mendapatkan pedang tapi jelas berbeda dari yang aku bayangkan.
Kami sampai di sebuah kota besar tanpa ada seseorang yang menempatinya, bangunannya terawat baik namun tidak ada orangnya.
Lalu kenapa hal itu terjadi?
Cosetta dan Claudia saling berpelukan dengan tangan mungil mereka saat aku menjelaskannya.
"Sederhananya ini adalah kota mati yang dipenuhi hantu bergentayangan."
"Tidak, aku tidak suka cerita seram guru."
"Aku akan takut pergi ke toilet, Rider antar aku dan pastikan untuk melihatku pipis."
"Lu mau gue di penjara ye."
"Aye. Aye."
"Sekarang kau terdengar seperti kucing biru bersayap."
Elina tertawa kecil sementara Fel mendesah pelan.
"Mereka itu masih manusia, hanya saja saat siang hari tidak terlihat, itu adalah kutukan yang terjadi pada kota ini," katanya demikian.
__ADS_1