
Elf pengguna pedang suci Felsia.
Pendeta Irena.
Dwarf Gustav.
Penyihir Marlin.
Begitulah keseluruhan anggota dari party pahlawan, bisa duduk dengan mereka pasti akan membuat iri seseorang terlebih jika orang tersebut dikenal lemah seperti diriku.
Semua orang bersulang dengan gelas bir mereka, aku turut bergabung sayangnya seperti yang aku duga alkohol tidak akan pernah berpengaruh padaku.
Akan sulit jika mereka kehilangan kesadaran jadi aku menggunakan sihir untuk membuat mereka tetap sadar.
Irena melirik ke arahku seharusnya sihir ini juga dimiliki olehnya.
"Kamu bagaimana bisa melakukan sihir barusan?"
"Aku hanya belajar sendirian."
"Itu tidak masuk akal."
"Lebih dari itu apa yang kalian lakukan di sini? Aku kira party pahlawan akan pergi ke dungeon ular merah."
Fel yang menjawabnya.
"Karena itulah kami di sini, kami perlu seorang pemandu untuk sampai ke sana, beberapa dari kami selalu mengaktifkan jebakan."
"Aku tahu, aku minta maaf."
Irena mungkin orang yang dimaksud tapi jelas dwarf dan penyihir juga mengalami hal sama.
__ADS_1
"Tempat itu sangat menakutkan, aku lebih suka bertarung satu sama lain secara langsung."
"Dan aku tidak terlalu bisa mengandalkan sihir kuat di dalam labirin."
Mereka kesulitan karena tidak terbiasa.
Irena menyadari sesuatu hingga dia cenderung mencondongkan tatapannya ke arahku.
"Bukannya kamu terbiasa dengan labirin, kamu bisa keluar meskipun terjebak di tempat seperti itu."
"Bisa dibilang begitu."
"Kalau demikian bisakah kamu memandu kami masuk."
Aku diam memikirkannya.
Membantu pahlawan bukanlah pekerjaan buruk terlebih mereka bukan pahlawan kaleng-kaleng yang bisa omong doang.
"Berapa uang yang bisa kalian tawarkan?"
Uang tersebut tidak diberikan secara asal-asalan, tingkat dungeonnya sendiri memang sangat sulit.
Aku memutuskan untuk menerimanya dan kami berkumpul di lokasi tersebut keesokan paginya. Seperti namanya bagian depan dungeon itu berbentuk kepala ular.
"Kalian semua sudah di sini."
"Jangan basa-basi, cepatlah pandu kami."
"Dwarf selalu tidak sabaran."
Sementara aku di depan semua orang mengikutiku di belakang. Aku memperingati berbagai jebakan di lantai dan dinding dengan baik.
__ADS_1
Saat Irena hampir terpeleset aku memegangi tangannya, menariknya agar seimbang.
"Kau tak apa."
"Um... kukira kamu akan mengambil kesempatan barusan."
"Aku bukan orang seperti itu, aku hanya selalu membiasakan diri dengan lingkungan sekitar agar tidak terlalu mencolok."
Fel menutup sebelah matanya.
"Jadi kepribadianmu ini yang mana?"
Aku hanya menjawab dengan menaikan bahuku tidak tahu. Aku menghentikan semua orang lalu melemparkan krikil ke depan jalan kami dan dalam sekejap sebuah retakan muncul dan lubang tercipta di sana.
"Kita hanya bisa melompat dari sini."
"Kau-kau gila, di bawahnya ada banyak ranjau."
"Aku tidak masalah."
Tubuh Fel terselimuti cahaya, ia memegangi Irena sebelum melompat bersama. Dwarf dan Marlin melompat seperti biasa dan mereka hampir jatuh namun masih selamat.
Aku pun melakukan hal demikian dan mendarat tanpa kesulitan.
"Di depan mungkin kita harus bertarung jadi aku serahkan sisanya pada kalian."
Seperti yang aku duga mereka adalah kumpulan zombie di labirin ini, Fel dan lainnya melakukan tugas mereka dengan baik memungkinkan kami terus melanjutkan perjalanan.
Ketika sudah mencapai lantai 5, Irena menggunakan lingkaran suci miliknya dan membuat sebuah perlindungan agar kami bisa beristirahat di dungeon tanpa takut monster mendekat.
"Kuharap kamu tidak akan macam-macam dengan mereka."
__ADS_1
Marlin memperingatiku dan aku menjawab dengan oke saja. Sementara mereka tertidur aku duduk berjaga di atas batu. Bagiku tidak tidur beberapa hari tidak masalah.
Sekarang mari habisi monster di sekitar agar perjalanan ini jauh lebih mudah.