
Aku membuang nafas panjang saat Armisa memeluk kakiku, adapun Claudia memilih agar dia dilepaskan saja.
"Kenapa tidak memaafkannya saja guru, lagipula seperti apa yang dikatakan nona Armisa, kota ini lebih dulu mempercayai iblis sebelum nona Armisa datang, ia hanya terpengaruh karena penduduk memaksanya memberikan kesempatan bagi mereka."
"Meski kau mengatakan itu, dia sudah tahu tentangku tapi berusaha mempenjarakanku apa ini balasan karena menolongnya dulu."
"Aku minta maaf, aku ingin menjelaskannya nanti padamu tapi hal seperti ini malah terjadi."
Fel terlihat sudah tidak mempedulikan hal yang telah terjadi dan Elina hanya akan menuruti perintahku, sementara untuk Cosetta lebih memilih ke arah lain.
"Mari gantung pendeta ini di tiang."
Orang ini jahat seperti yang aku kenal pertama kali.
"Aku mengerti, aku akan membiarkan hal ini berlalu saja."
"Terima kasih."
Aku mengalihkan pandangan ke arah Elina.
"Soal pedang suci bagaimana?"
"Kami menemukan bahwa pedang itu diambil oleh bangsawan di kota yang jauh dari sini."
"Jadi kita harus ke sana."
"Ah mungkinkah kalian mengatakan soal pedang yang dulu Udin jual," potong Armisa dan aku mengernyitkan alis.
"Namaku Rider."
__ADS_1
"Apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Fel yang dijawab anggukan kecil.
"Pedang itu aku beli kembali dan aku simpan di kota suci... dulu karena kemungkinan besar aku tidak akan bertemu lagi dengan Rider, aku membelinya agar bisa mengingatnya terus."
Cosetta dan Claudia mencondongkan tubuh mereka padanya.
"Jangan bilang kamu menyukai guru."
"Iya, Rider setahuku hanya suka pada gadis kecil."
"Aku tidak seperti itu," teriakku demikian.
"Tidak, tidak, Rider yang menyelamatkanku dan bahkan membawaku ke kota Suci aku hanya mencoba untuk tidak melupakan masa lalu hanya itu."
"Kalau begitu tak masalah."
"Um um."
Dengan informasi tersebut kami memutuskan untuk segera meninggalkan kota Osiana ke kota suci.
"Rider, bukannya kau terlihat sangat dicintai keduanya."
"Mereka hanya mencoba menjahiliku."
"Itu terasa mustahil, lalu saat ini apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya jadi pengangguran."
"Pengangguran?"
__ADS_1
Aku tidak ingin menjelaskan lebih dari itu, Elina dan Fel yang memimpin jalan menghentikan pergerakan kami sesaat setelah masuk ke dalam hutan.
"Kurasa kita menemukan makan malam."
"Benar sekali."
Kami sudah sangat terbiasa dalam hal memasuki hutan, ketika menemukan ular raksasa kami malah lebih menganggapnya sebagai bahan makanan.
Dengan satu tebasan Fel, itu membunuhnya sekejap mata.
"Kalau begitu biar hari ini aku yang akan memasak."
Kami menyetujui keinginan Elina.
Di depan api unggun kami menikmati daging ular yang dijadikan sebagai sate. Rasanya tidak buruk dan saos yang dia gunakan begitu enak di dalam mulut.
Semua orang bergantian bertanya ke arah Armisa khususnya soal dirinya yang menjadi awet muda dan panjang umur.
Walau sedikit ragu Armisa memilih mengatakannya.
"Di kota suci ada air yang bisa memanjangkan umur sebanyak 50 tahun, ketika kamu meminumnya kamu akan terus hidup selama itu dan apabila rutin itu akan terus memperpanjang selamanya, tolong rahasiakan ini pada orang-orang jika mereka tahu akan banyak orang yang berusaha untuk memasuki kota suci."
Jelas sekali akan seperti itu.
Saat itu Gabriella melarang manusia dan ras lain masuk pasti karena itu juga.
Aku bisa hidup panjang umur karena skill sementara Fel merupakan ras elf, tidak ada yang mungkin untuk melewatkan kesempatan jika seseorang bisa melakukan hal seperti kami.
"Cosetta kau ingin meminumnya bukan?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku ingin hidup cukup lama untuk menggodamu Rider."