Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 56 : Seseorang Dengan Kekejaman Mengerikan


__ADS_3

Enam tahun sebelum kekalahan raja iblis.


Namaku Homura Sasaki, Homura adalah nama keluargaku sementara Sasaki merupakan namaku, aku tinggal di cabang keluarga yang menakutkan yang sering ditakuti semua orang.


Keluarga kami tidak menunjukan cinta seperti apa yang dimiliki semua orang, kami hanya ada untuk memastikan bahwa jalan dari keluarga utama terus lancar dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Dengan kata lain.


Kami semua pembunuh.


Di ruangan yang luasnya sekitar 10 tatami, aku duduk berseiza, saat ini aku berumur delapan tahun dan di sebelahku adalah sebuah katana.


Aku sudah dilatih sejak kecil karena itulah aku sangat akrab dengan itu. Ibuku berkata ke arahku tanpa menunjukan ekpresi apapun bahkan dalam balutan kimono mewahnya dia hidup layaknya sebuah boneka dan ayahku juga sama.


Mereka hanya sebuah alat saja.


"Sasaki-san keluarga ini sangat bergantung padamu, tolong bunuh kami."


Aku sudah tahu alasannya, kami semua sudah lelah untuk hidup terus menerus seperti ini, sementara kalangan atas hidup tanpa mengotori tangannya kami hidup seperti ini.


"Aku mengerti."


Aku menarik katanaku dan selanjutnya, semua orang sudah tahu apa yang aku lakukan.


Tanpa ekspresi, tanpa kesedihan dan tanpa amarah aku keluar dari pintu geser selagi menyeka darah di wajahku, semua orang berjas hitam telah berbaris membungkukan badan mereka.

__ADS_1


"Ojou-sama."


"Kita pergi, paling tidak kita akan membunuh keluarga atas."


"Kami mengerti."


Itu adalah sebuah pemberontakan yang terjadi 15 tahun silam, dan sekarang aku menyadari bahwa aku telah berada di ruangan serba putih tanpa apapun kecuali seorang yang duduk dengan sikap elegan.


Selama hidupku aku berfikir setelah kematian aku akan muncul di neraka kurasa ini di luar bayanganku.


"Kamu hidup dengan mengerikan, apa kau ingat bagaimana kau mati?"


"Tidak buruk, semua orang memberontak dan aku dihujani tembakan."


"Benar sekali, kamu berusaha membunuh seluruh keluargamu mereka mungkin melakukan hal tepat."


Aku menyeringai.


"Jadi apa yang kau inginkan dariku, aku yakin kau orang yang dipanggil dewi atau apapun itu?"


"Namaku Dewi Iris. Kami hanya bertugas untuk membimbing jiwa-jiwa ke tempat seharusnya."


"Dengan kata lain ke neraka dan surga?"


"Kurang tepat mengatakannya demikian tugasku hanya memindahkan jiwa seseorang dari dunia satu ke dunia lain, bisa dibilang bahwa dunia itu membutuhkan sosok yang disebut pahlawan, ataupun sebagai penebusan bagi orang-orang sepertimu yang suka berjalan dalam kejahatan."

__ADS_1


"Singkatnya aku diberi kesempatan."


"Sejak hidupmu kau tidak berniat melukai orang-orang tidak berdosa."


"Aku hidup dijalan penuh darah bukan berarti aku harus melakukan hal sama pada orang-orang yang tidak terlibat."


"Tepat sekali, aku berfikir jika mengirim pahlawan yang hidup baik masih gagal maka bagaimana jika aku mengirim sosok sepertimu."


"Sebuah rencana yang tergesa-gesa, aku tidak ingin menjadi pahlawan."


"Jangan khawatir, selama kamu bisa membunuh semua iblis di dunia itu, aku tidak keberatan."


Sebuah jendela layaknya pengaturan game bermunculan.


"Pilihlah yang kamu sukai, sebelumnya pahlawan yang aku kirim mengambil sangat banyak untuknya... aku sengaja bersikap tidak sopan padanya agar bisa membuatnya tetap hidup di dunia itu, dan sekarang aku senang bahwa dia baik-baik saja."


"Dunia yang terdapat sihir kah, kalau saja aku bisa menebas melebihi kecepatan senjata api, aku pasti tidak akan mati melawan mereka. Tapi bagaimana untuk membuktikan kekuatan tersebut?"


Aku mengambil waktu sejenak untuk melanjutkan.


"Ngomong-ngomong siapa yang kau kirim?"


"Namanya Udin."


"Jika dia kuat maka aku harus melawannya dan mengalahkannya. Itu sama dengan bahwa aku bisa menebas peluru."

__ADS_1


Dewi Iris hanya tersenyum masam ke arahku.


__ADS_2