
Untuk sampai ke kota itu memerlukan waktu dua hari lagi, di dalam kegelapan malam kami duduk untuk menghangatkan diri di perapian selagi menikmati sup yang telah matang.
Adapun para pedagang mereka berada di kurumunan lain dengan makanan yang terbilang mewah. Mereka sempat menawari kami untuk bergabung namun kami lebih memisahkan diri sembari memeriksa sekitar.
Alasannya sederhana, bahwa kami bersama pahlawan Fel yang dikatakan sudah tidak terlihat beberapa abad lamanya.
Jika ada kabar bahwa pahlawan terlihat di wilayah manusia, itu akan menjadi sebuah kegemparan. Pada dasarnya dibandingkan aku dia lebih dicintai.
Cosetta yang baru menelan makanannya bertanya ke arahku.
"Nah Rider, kenapa kita harus pergi ke kota terdekat sebelum masuk ke wilayah selatan?"
Wajar bagi Cosetta yang belum pernah mengenal wilayah selatan selama hidupnya untuk bertanya.
Wilayah utara dan wilayah selatan sebenarnya terbagi menjadi dua bagian, masing-masing wilayah dipotong oleh tembok yang memisahkan keduanya, dan wilayah ini disebut sebagai Benteng Besar Union. Semua orang perlu izin untuk melewatinya karena itulah izin tersebut hanya bisa didapatkan di sana."
"Maksudmu benua ini dibelah oleh tembok raksasa."
Cosetta menunjukkan ketertarikannya.
"Begitulah, tembok itu dikatakan dibangun oleh seluruh penduduk benua untuk membatasi wabah yang terjadi di wilayah selatan."
Fel menambahkan pembicaraan.
"Saat itu karena kekurangan makanan setiap negara mulai berperang, yah perang akan terjadi walaupun alasannya sepele bahkan sampai sekarang. Karena Itu juga aku selama ini menyembunyikan diriku, manusia kebanyakan mengajakku untuk bergabung dalam pasukan mereka, aku tidak terlalu suka untuk membunuh manusia tanpa alasan masuk akal."
__ADS_1
"Dengan keberadaan pahlawan di satu negara itu memang senjata ampuh," Elina memberikan pendapatnya yang mendapatkan anggukan sepakat semua orang.
Felsia mengeluarkan pisau ke tangannya yang merasakan pergerakan jauh di sekeliling kami.
"Ada beberapa zombie yang berkeliaran di sini, kurasa biar aku saja yang mengurusnya."
"Sesuai yang diharapkan dari pahlawan," kataku memuji.
"Kau juga pahlawan tapi malah bermalas-malasan."
"Aku hanya ingin menjalani hidupku seperti itu."
Dalam sekejap sosok Fel menghilang digantikan dedaunan.
"Tentu saja nona bisa, asal latihan keras anda pasti dapat melakukannya."
"Walau kakiku seperti ini."
"Ada sihir yang serupa tapi aku akan mengatakannya saat kau benar-benar sudah terlatih," potongku demikian.
Cosetta mengembungkan pipinya.
"Padahal aku ingin bisa secepatnya menjadi kuat."
"Sihir bukan sesuatu yang bisa dipelajari waktu singkat bahkan ada yang perlu menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajari satu mantera."
__ADS_1
"Menyebalkan sekali."
Berhubung Fel pergi terlalu lama aku memutuskan untuk menyusulnya, di atas dahan aku bisa melihat dia yang telah membunuh banyak zombie seorang diri.
Jumlah mereka sangat banyak.
"Kau tak apa?"
"Tentu, jumlah mereka sangat banyak, aku pikir di dekat sini ada beberapa desa yang hancur atau sebagainya."
"Itu bisa saja terjadi, ketika zombie menyerang satu desa mereka bisa sekaligus menambah jumlah mereka dan kemudian menyerang desa lainnya," kataku mengambil waktu sejenak.
"Dari sini biar aku yang mengurusnya, kau kembalilah dan beristirahat."
"Kau mengejekku, mari kita berdua selesaikan ini."
Aku menghela nafas panjang lalu menciptakan pedang di tanganku yang kuberikan pada Fel.
"Walau tidak sebagus pedang suci, gunakanlah itu."
"Ini lumayan ringan."
Aku mengeluarkan pedang hitam untuk memulai pertarungan ini, saat tengah malam kami baru berhasil mengalahkan semuanya.
Aku juga bahkan menggunakan sihir suci.
__ADS_1