
Untuk sementara kami akan tinggal di kota terdekat atau lebih tepatnya kediaman Vira. Di sini mereka memiliki halaman luas serta mansion yang setara dengan besar stadion bola, tak hanya itu ada beberapa pelayan wanita di dalamnya yang dipimpin oleh seorang Yokai bernama Corna.
Corna memiliki rambut biru panjang dengan satu tanduk di keningnya sementara tanduk lain telah patah seolah telah tertebas oleh sebuah pedang.
"Selamat datang di kediaman nona Vira, sebagai tamu tolong jangan suka untuk meminta apapun dari saya."
Nada bicaranya terkesan lembut dan lambat, aku senang dia sangat sopan namun di tangan Cosetta merupakan kesalahan.
"Apapun?"
"Nona, Anda tersenyum jahat."
Dan aku memukul kepalanya.
"Sakit, Rider apa yang?"
"Orang ini sesat, aku ingin kau tidak terlalu menuruti perkataannya."
"Saya mengerti."
Cosetta mengembungkan pipinya.
"Kalau begitu mari saya tunjukkan kamar semuanya."
Sementara mereka mengikuti Corna aku menghela nafas panjang, Vira yang ada di belakangku tertawa.
"Hidupmu pasti jadi kacau balau sekarang."
"Seperti yang kau lihat, aku pikir setelah kematian raja iblis kedamaian akan terus bisa dipertahankan namun setelah 1.000 tahun malah kembali dari awal."
__ADS_1
"Menurutku 1.000 tahun waktu yang lama, jadi tidak aneh jika manusia harus kembali meraih kedamaiannya sendiri."
Bertambahnya umur membuat seseorang semakin dewasa.
Pagi berikutnya di kediaman mansion Vira, aku meminta Cosetta untuk berlatih dengan Fel sementara Claudia melawan Elina, Elina menggunakan pedangnya juga untuk melatihnya.
Mereka sudah dilatih dasar-dasar dari pertarungan sekarang hanya harus menambah pengalaman mereka.
Corna merasa takjub saat melihat bagaimana sebuah bongkahan es mirip bukit menyeruak ke udara.
"Sihir es, tidak disangka ada yang bisa menggunakannya."
"Cosetta memang luar biasa."
"Dan juga nona Claudia."
"Kegelapan dan cahaya, siapapun yang memiliki kemampuan seperti itu selalu menjadi orang besar di kemudian hari."
"Tidak ada yang dibanggakan dariku, sebelum ini aku hanya melawan naga dan iblis sebagai olahraga pagi."
"Tidak ada yang mengatakan itu sebagai olahraga."
Aku seharusnya tidak mengatakan sesuatu yang seperti itu.
"Lalu bagaimana denganmu, kau malah bekerja di rumah ini?"
"Nona Vira sudah menyelamatkan saya saat berada di hutan kegelapan, saya hanya akan mengabdikan diri untuk beliau."
"Hutan kegelapan?"
__ADS_1
"Para Yokai hidup di sana namun ada seseorang yang mencoba merekrut kami, kami menolak hingga pada akhirnya kami dibunuh, hanya aku yang berhasil selamat."
Yokai tidak mudah untuk dikalahkan, jika seseorang maka itu bukan iblis.
"Seperti apa orang yang melakukannya?"
"Pria berambut putih serta bermantel hitam."
Pride.
Satu nama yang aku pikirkan.
"Apa jasad penduduk kampung halamanmu ditemukan?"
"Saat nona Vira mengeceknya tidak ada apapun."
Orang itu jelas menyimpan kartu truf dibalik lengan bajunya.
Aku bisa membayangkan bahwa Pride akan menggunakannya untuk menyerang kerajaan ini.
Aku kembali mengalihkan pandangan ke arah muridku yang sama-sama terlempar ke udara dan terbaring menatap langit.
"Capek sekali."
"Aku juga, guru kenapa kami harus melakukan latihan ketat seperti ini?"
"Sekolah yang kalian tuju merupakan sekolah elit, jika kalian tidak benar-benar berlatih kemungkinan kalian akan kena bully."
"Kami dibully?"
__ADS_1
"Nanti kalian akan tahu, yang jelas hal ini diperlukan agar kalian bisa bertahan."
Aku melihat senyuman tipis di wajah Cosetta, ketika seperti itu aku tahu ia memiliki niat jahat.