
Akademi Rosenary merupakan sebuah akademi elit dengan bangunan mewah menjulang tinggi ke atas, itu menyerupai sebuah bangunan besar dengan celah jam besar di tengahnya. Aku tidak tahu apa yang ditakutkan dari akademi seperti ini yang jelas pemandangan di depan pagarnya juga terasa tidak terlalu buruk.
Mereka memiliki seragam merah muda untuk perempuan dan seragam hitam untuk laki-laki, semua itu ditutup kembali dengan mantel yang menandakan kamu sebagai seorang penyihir.
Aku rasa beberapa juga membawa pedang di pinggangnya.
Karena aku menggunakan tongkat untuk berjalan maka itu hanya menyusahkan karenanya aku tidak mengenakannya, singkatnya hanya aku satu-satunya yang tidak mengenakan jubah.
Di sebelahku Claudia berjalan dengan mulut ternganga, bisa dipastikan dia sangat senang untuk berada di sini, ia bahkan meletakan sabit raksasa di belakang punggungnya seolah itu sengaja dipamerkan.
Semua pandangan tertuju padaku. Kebanyakan dari mereka hanya berfikir bagaimana orang cacat bisa masuk ke sekolah ini terlebih bersama gadis yang terkenal tidak kompeten sebelumnya.
Aku tidak terlalu memikirkannya pada dasarnya aku akan mengendalikan sekolah ini dan berperan sebagai bos dari sebuah buku novel.
Tiga orang laki-laki telah mencegat kami untuk bisa masuk ke bagian aula.
"Tempatmu bukan di sini, pulanglah."
"Aku akan pulang setelah lulus dari sini."
__ADS_1
"Aku memperingatimu maka jangan sampai."
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya aku menusukkan tongkatku di perutnya hingga ia terduduk di depanku, aku menatap ke arah matanya yang intens, di saat yang sama dua rekannya hendak bergerak namun ketika mereka tahu bahwa Claudia telah menempatkan tangannya di sabitnya dengan niat membunuh mereka berdua mundur.
"Sekolah ini sangat menarik, aku akan mengampunimu jika kau mau menjilat sepatuku, bukannya itu mengagumkan bahwa senior di akademi menyambut juniornya seperti itu, lihat! Semua orang menatap ke sini.. pastikan melakukan dengan baik."
"Da-dasar iblis."
Aku menembuskan tongkatku di bahu dan siswa itu berteriak kesakitan. Lihat siapa yang menjadi mangsa sekarang.
"Dua belas siswa elit di sini tidak akan membiarkannya begitu saja."
"Kalau begitu apa mereka akan membiarkan bahwa kau akan mati."
Tatapannya tidak lemah, ia bisa dibilang terlihat seperti seorang pejuang sesuai dengan pedang yang dipegangnya.
Dari penampilannya dia seorang siswi di sini.
"Kau berani membuat onar di akademi ini, apa menurutmu aku akan membiarkannya."
__ADS_1
"Frizt Fulsa," orang-orang memanggilnya demikian.
"Kau yakin menahan tongkatku begitu saja."
Tongkatku membeku, hingga ia melompat mundur.
"Sihir es? Aku sedikit penasaran seorang yang bisa masuk ke akademi tanpa ujian ternyata seperti ini."
"Kau akan melihat banyak hal nantinya," aku menyinggungkan senyuman iblis dengan meletakkan kedua tanganku di tongkat yang menancap di tanah.
Sebelum aku ingin menyerangnya sebuah pukulan mengenai kepala Claudia dan aku.
"Apa-apaan kalian berdua, kalian mau mencoba menjadi pembunuh sekarang."
"Gu-guru."
"Rider, kau datang juga."
"Tentu saja, mulai sekarang aku juga menjadi seorang pengajar di sini, sebaiknya kalian pergi ke kelas kalian."
__ADS_1
Rider mengusir semua tatapan ia juga menyembuhkan siswa yang aku lukai dan berjalan seolah tidak terjadi apapun.
Bahkan ketika dia aku seorang monster ia tidak pernah mencoba menjauhiku, aku juga tidak bisa membaca apa pikirannya. Ia seperti sebuah kotak yang tidak pernah diketahui isinya.