Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 39 : Kenangan Dari Masa Lalu


__ADS_3

Sepuluh tahun sebelum kekalahan raja iblis.


"Jadi ini kota Osiana."


Aku mengatakan hal itu di depan gerbang depan saat para penjaga mendorongku masuk.


"Kau menghalangi jalan, cepatlah masuk."


Benar-benar orang yang tidak ramah, aku sedikit mengumpat hal demikian saat melihat bangunan kota ini yang dipenuhi dengan berbagai kasino, bar, dan juga hiburan dewasa.


Aku menghela nafas panjang.


Orang-orang kaya tidak pernah berfikir bahwa mereka akan mati nantinya, hingga seenaknya begitu saja menghamburkan uang dengan hal tidak berguna. Lupakan itu, tujuanku hanya ingin menjual pedang ini setelah itu meninggalkan kota ini secepatnya.


Ketika aku hendak pergi aku melihat seorang gadis kecil dengan rambut putih dan mata yang sama meringkuk di trotoar.


Ketika aku dekati dia menunjukan kewaspadaan.


"Kau pasti lapar, apa kau makan sesuatu?"


Dia balik bertanya.


"Apa kau berniat memperkosaku?"


"Dengar anak kecil, manusia tidak selalu jahat beberapa dari mereka juga merupakan orang baik."


"Tapi tidak di kota ini."


"Aku mengerti, aku akan per.."


Sebelum aku hendak pergi gadis itu memegangi tanganku.


"Tolong berikan aku makan."


"Tentu."


Aku membeli makanan dari sebuah kedai dan memakannya bersama gadis itu di trotoar. Aku tidak mau mengatakannya tapi tempat ini tidak cocok untuk anak-anak sepertinya.


Banyak pria dan wanita melakukan asusila di tempat umum, pencurian, penjabretan, pemukulan dan hal buruk lainnya.

__ADS_1


"Jangan terburu-buru makannya."


"Minum!"


Aku memberikan apa yang dia inginkan.


"Jika kau masih lapar makanlah jatahku juga."


"Ka-kau serius?"


"Tentu."


Dia melahap seperti orang yang tidak pernah makan tiga hari, aku menyempatkan diri untuk bertanya padanya.


"Namamu?"


"Armisa, kau?"


"Udin."


"Nama yang aneh."


"Jadi kenapa gadis kecil datang ke tempat ini?"


"Aku tadinya tinggal di sini, sayangnya ayahku banyak berhutang pada bar dan ia akhirnya dibawa pergi untuk bekerja di tambang, hingga akhirnya seperti ini, semua orang yang pergi ke sana tidak pernah kembali."


Itu artinya mereka akan disuruh bekerja sampai mati.


"Begitu, sepertinya kau menjalani hidupmu sangat sulit... aku tidak keberatan membawamu ke sebuah tempat yang lebih baik dari ini, jika kau punya suatu tempat yang ingin kau kunjungi aku akan mengantarmu."


"Kenapa kau begitu baik?"


"Sudah aku katakan manusia tidaklah selalu jahat, di luar sana masih banyak orang yang baik."


"Dan kau sendiri?"


"Biarkan aku pikir, kurasa aku bukan orang baik dan jahat juga... mungkin abu-abu."


"Jawabanmu aneh seperti namamu."

__ADS_1


"Ugh."


Aku menghela nafas panjang.


"Jika ada tempat yang ingin aku kunjungi mungkin Kota suci, aku ingin menjadi seorang Arch Priest terkuat kemudian mengubah tempat ini dan tempat-tempat lainnya yang memiliki kesamaan menjadi lebih baik."


"Itu impian bagus."


Aku bangkit selagi mengulurkan tanganku.


"Sebelum aku mengantarmu ke sana, aku perlu menjual pedang ini. Apa kau tahu di mana aku bisa melakukannya?"


Armisa mengangguk kecil, setelah ia selesai memakan makanannya ia mulai tanpa ragu menarik tanganku.


"Kurasa hanya tempat itu yang bisa membantumu."


Aku dibawa ke rumah pelelangan, ketika aku menunjukkan pedangnya pemiliknya tersenyum puas.


"Ini pedang yang bagus, hari ini para bangsawan ikut datang... aku yakin ini bisa dijual sangat mahal, setiap penjualan akan dikenakan biaya 5 persen untuk tempat pelelangan, apa tidak masalah?"


"Tidak apa, kuharap itu masih keuntungan yang besar."


"Tentu saja, aku akan menulisnya dibuku nanti juga akan ada catatan siapa yang membelinya."


"Selagi aku bisa mendapatkan uangnya aku tidak masalah."


"Aku mengerti."


Setelah menunggu beberapa jam aku mendapatkan 100.000 koin emas.


"Itu uang yang banyak paman Udin."


"Bisakah kau tidak menyebutku paman."


"Kakek?"


"Aku tidak setua itu."


Pada akhirnya kami bersama-sama keluar kota.

__ADS_1


__ADS_2