Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter Bonus


__ADS_3

Ledakan Di Tengah Kota.


Rider sedang duduk meminum teh saat Cosetta masuk dengan pakaian Sexy, dia menancapkan tiang besi kemudian memanjat dengan erotis.


Ia juga berulang kali menunjukkan pahanya selagi mendesah dengan bergairah.


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa pertunjukan seperti ini membuatmu tegang, aku ingin memastikan bahwa bagian bawahmu berdiri."


Dengan wajah bermasalah Rider mengulurkan tangannya.


"Api pencucian."


"Gwhaaaaaaaaaaah."


Ledakan menggema di kota hingga bisa terlihat dari kota lainnya.


Pahlawan Bertemu Pahlawan.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Di jalanan kota yang cukup ramai Fel bertanya ke arah Rider yang menyibukkan dirinya dengan saluran air.


"Ada koin emas di dalam sana aku ingin mencoba mengambilnya."


"Maksudmu 3M."


"Kau mengerti juga, kau yakin tidak ingin menjadi pengangguran sepertiku Fel?"


"Jelas sekali aku tidak ingin."


"Sayang sekali, kau punya bakat menganggur."


Rider mengikat tali di sebuah magnet kemudian menurunkannya ke dalam saluran air.


Fel diam untuk memperhatikan.


"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa emas murni tidak akan tertarik oleh magnet."


"Kenapa kau baru mengatakannya."


Bahkan setelah 1000 tahun masih ada hal-hal yang terlewatkan oleh Rider.


Guru dan Murid.

__ADS_1


Di depan air terjun di dalam hutan.


"Nah Claudia ini latihan khusus untukmu."


"Aku tidak sabar guru, apa yang harus kulakukan, mengalahkan banyak musuh, monster atau membelah batu."


"Menahan diri, berikan sabitmu."


"Sabitku? Tapi aku tidak pernah jauh darinya.. aku bahkan memberikannya nama Kuro."


"Anggap saja ini latihan, jadi ketika senjatamu jatuh kamu bisa melawan musuhmu dengan baik."


"Jika guru bilang begitu apa boleh buat."


Rider meletakan sabit tersebut jauh di depan Claudia, hanya dalam waktu singkat dia langsung melompat untuk menerkamnya.


"Tidak, jangan pisahkan aku dengannya, aku tidak bisa melakukannya."


Rider memasang wajah suram sembari bergumam dalam hati.


Orang ini sudah tidak tertolong lagi.


Cemilan Malam.


Dia membawa sebuah bungkusan berisi makanan manis yang dia dapatkannya dengan cara mengemis.


"Aku mencium aroma enak."


"Aku juga."


"Apa ini puding."


Hidung ketiga gadis kampret mendeteksi dengan baik.


"Menjauhlah kalian, dasar hewan buas.. pergi, pergi!" teriaknya demikian.


Rider naik ke atas sofa selagi menahan ketiganya dengan kursi seperti di dalam sirkus.


Membetulkan Rumah Sesuatu Yang Membuat Malas.


"Hey Rider, atapnya bocor cobalah untuk memperbaikinya."


"Kau lupa, harusnya aku dilayani bukannya itu kesepakatannya."


"Tapi soal itu dan ini beda."

__ADS_1


"Sama saja."


Setelan dari Rider, Cosetta bertanya ke arah Fel.


"Fel atap kita bocor, bisakah kamu memperbaikinya."


"Ah, aku lupa ada janji... minta Claudia, dadah."


Cosetta memasang wajah bermasalah, ketika dia menanyakannya pada Claudia ia tiba-tiba mengerang kesakitan.


"Tangan kiriku terkilir, aku tidak bisa melakukannya."


"Bukannya kau bilang tadi kaki kanan."


"Karena terlalu sakit aku melupakannya."


Ketika turun hujan semua orang hanya diam mematung dengan ember di segala tempat.


"Mari besok kita perbaiki bersama-sama."


"Sepertinya begitu."


Keseharian Rider.


"Kalian pergi saja, hari ini aku hanya ingin bermalas-malasan dengan berbaring di lantai."


"Jika kamu bilang begitu apa boleh buat."


Pagi berikutnya.


"Kalian pergi saja, hari ini aku hanya ingin bermalas-malasan dengan berbaring di sofa."


"Aku mengerti."


Pagi berikutnya.


"Kalian pergi saja, hari ini aku hanya ingin bermalas-malasan dengan berbaring di genteng."


"O-oke."


Beberapa hari berikutnya wajah Rider membeku, lantai, sofa dan atap genteng semuanya hilang.


"Sekarang bagaimana kau bisa bermalas-malasan?"


"Dasar Iblis," teriaknya demikian.

__ADS_1


__ADS_2