Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran

Penyihir Terkuat Di Dunia Menjadi Pengangguran
Chapter 96 : Pemberian Hadiah


__ADS_3

Dentrang.


Sabit milik Claudia memblokir pisau yang terbang ke arahnya.


"Kau cukup menjanjikan, senjata apa yang kau gunakan itu."


"Ini dibuat dari bahan yang dibawa kura-kura raksasa, kekuatannya jauh dari baik dibanding senjata manapun."


"Tidak aneh."


Estropedia mengeluarkan pisau kembali lalu melemparkannya begitu saja, Claudia menghindarinya dengan sedikit memiringkan kepalanya walau demikian tiba-tiba pisau itu berbalik dan menancap di bahunya.


"Kenapa bisa?"


Dia memperhatikan dari mana pisau terlempar dan melihat bahwa sebuah cermin yang menampilkan sosok Estropedia ada di sana, tidak hanya satu tetapi ada banyak dari mereka lalu mengelilingi keberadaan Claudia.


"Bagaimana? Inilah kemampuan sihir cerminku."


Claudia memutar sabitnya untuk menangkis pisau yang kini telah banyak mengincar dirinya.


Ia menghempaskannya seolah bukan hal sulit walaupun dari mereka masih mampu mengenainya.


"Sekarang matilah gadis kecil."


Estropedia yang berada di dalam cermin mulai bermunculan, ini bukan ilusi semuanya benar-benar nyata seolah cermin tersebut memang berfungsi untuk memperbanyak diri.


Ketika Estropedia percaya diri akan kemenangannya dia tergagap, sabit yang dipegang oleh Claudia berubah bentuk menjadi sebuah makhluk mengerikan dengan mulut dipenuhi gigi berjeruji, mulut itu memanjang seperti kepala ular menggerogoti seluruh tubuhnya.


"Apa-apaan ini? Sihir kegelapan."


"Ini memang sihir kegelapan, aku tidak ingin menunjukannya tapi sekarang giliranku."

__ADS_1


Langit yang cerah telah berubah gelap gulita dan dari sana sebuah mata mengerikan terbuka.


"Ini tidak nyata, ini pasti ilusi."


"Entah ini ilusi atau nyata hasilnya tetap sama."


Sebuah sabit telah menembus tubuh Estropedia hingga akhirnya dia mati.


"Kau monster."


Aku yang memperhatikan dari kejauhan hanya bisa melihat bagaimana kedua muridku bertarung, mereka berdua masih berumur 9 tahun namun setelah membunuh untuk pertama kalinya mereka cuek-cuek saja.


"Guru... kami sudah selesai."


"Aku sudah siap menerima pujianmu Rider."


Tanpa harus aku yang melakukannya mereka telah dibanjiri pujian dari semua orang petualang yang masih hidup, dan di saat seperti ini, Cosetta mulai melakukan hal yang buruk.


"Kami ikut."


"Aku juga... ayo hancurkan kerajaan mengerikan ini."


Dalam sekejap Cosetta telah memiliki pengikut.


"Kau tidak menghentikannya."


"Biarkan saja, lagipula dari awal memang itu yang diinginkannya."


Beberapa hari setelah kemenangan kami, Claudia dan Cosetta telah dibawa ke singgasana raja, aku ikut bersama keduanya sebagai pelayan.


Cosetta dan Claudia membungkuk dengan patuh, sebaiknya aku juga melakukan hal sama.

__ADS_1


Di singgasana ada raja, Putri Alicia dan satu lagi kakaknya putri Orca.


Seperti namanya dia mirip ikan paus dalan segi mengintimidasi, rambut hitam bergelombang serta selalu berbicara dengan kipas di bentangkan di wajahnya.


Aku tahu karena giginya seperti ikan hiu.


"Ini sebuah pencapaian tinggi bahwa kalian bisa mengalahkan dua komandan dari kerajaan musuh, bahkan kami yang sudah membentuk aliansi dengan kerajaan lain tidak dapat melakukannya."


Dari awal dia tidak menaruh harapan pada kami, jelas dia terkejut.


Karena menguntungkan dia berusaha menutupi semuanya.


"Lalu sebaiknya hadiah seperti apa yang harus kuberikan pada kalian berdua."


"Sebagai putri dari bangsawan Viscount saya tidak mempunyai keinginan apapun, ini hanyalah tanggung jawab hamba."


Aku berkata dalam hatiku tentang sikap Claudia sekarang.


Kau siapa?


Kemudian dilanjutkan Cosetta.


"Saya sudah bersekolah di akademi di sana saya mendapatkan perlakuan yang buruk karena terlahir sebagai rakyat biaya, kalau bisa saya ingin diangkat sebagai bangsawan kecil."


Perlakuan buruk apanya, aku ingat dia mengirimkanku surat tentangnya yang telah mengambil alih kekuasaan kelas dua dan tiga di tangannya.


"Aku biasanya tidak akan memberikan gelar dengan seenaknya tapi melihat kamu telah bersekolah di akademi itu, maka aku memberikan gelar Baron padamu dan memberikan wilayah yang bisa kamu kelola mulai dari sekarang."


"Terima kasih atas kebaikan yang mulia."


Walau Cosetta menundukkan kepalanya aku tahu bahwa dia tersenyum iblis.

__ADS_1


__ADS_2