
Perlahan wajah Pride mulai kembali muda bersamaan rambutnya yang memutih. Dia menghela nafas sebelum berdiri selagi menyilangkan tangannya di belakang.
"Memainkan peran seperti ini hal yang baru untukku, mereka menyuruhku untuk membunuh siswa-siswa berprestasi di tempat ini."
"Di mana kepala sekolah?"
Greace memotong dengan menarik sebuah pisau di tangannya. Suaranya terdengar panik serta gelisah.
"Ah, pria itu sudah lama mati.. aku menjadikannya sebagai mayat hidup."
"Sialan!"
Greace melompat maju namun serangan darinya ditahan oleh Frizt dengan pedang di tangannya.
"Tidak akan aku biarkan."
"Frizt, kau?"
Dia menendang Greace hingga terlempar melewatiku sebelum menembus pintu lalu menghantam tembok. Hanya satu tendangan darah menyembur dari mulutnya.
"Apa dia bersengkongkol dengannya juga?"
"Secara harfiah dia memang Frizt tapi yang ada di dalamnya bukan, jika tidak salah ada sebuah benda yang disebut cermin jiwa yang mampu memindahkan jiwa seseorang agar bisa berpindah tempat, aku yakin jiwanya merupakan seorang dari kerajaan Astrea."
Pernyataanku membuat Frizt tertawa.
"Tidak kusangka, seorang sepertimu akan ada di sini. Kau jelas sangat berpengetahuan. Hey Pride bisakah kau serahkan orang ini padaku. Kau bisa menghancurkan tempat ini sebagai balasan."
"Itulah yang selama ini aku inginkan, akhirnya aku bisa menggunakan koleksi Yokaiku yang diperkuat menjadi mayat hidup."
__ADS_1
"Memangnya akan aku biarkan."
Aku mengarahkan tanganku untuk menciptakan lingkaran sihir api, sebelum bola yang kulesatkan mengenainya Frizt memantulkan ke samping hingga ledakan terjadi di sana.
Untuk Pride dia memecahkan jendela selanjutnya melompat keluar bangunan akademi.
Seharusnya Fel ada di sana jadi aku serahkan dia padanya.
"Nah guru baru, aku akan memberikan tiga kesempatan untuk bertanya padaku, aku akan menjawabnya dengan jujur dan sebaliknya aku juga akan mengutarakan tiga pertanyaan yang sama, bagaimana?"
"Itu tawaran yang bagus, sebelum itu akan aku pukul wajahmu."
Aku melakukan seperti apa yang aku katakan hingga tubuh Frizt terlempar ke luar lalu menukik jatuh ke tanah. Aku mengikutinya dan terbang melayang sebelum mendarat di depannya.
"Aku pikir pukulan seperti itu tidak akan membuatmu mati."
"Nama asliku Udin, tapi sekarang namaku Rider."
"Begitu... satu pertanyakanku berakhir, giliranmu."
"Apa tujuan kerajaan kalian menyerang kerajaan ini?"
Estropedia mengangkat kedua bahunya sembari menjawab.
"Tentu saja untuk menguasai wilayah ini, setelah melakukannya akan mudah menguasai kerajaan lainnya."
"Karena tempat ini cukup berperan penting di benua ini."
"Tepat sekali."
__ADS_1
"Giliranmu."
"Aku merasakan kekuatanmu cukup kuat, kenapa kau malah melindungi kerajaan ini? Jelas sekali kau tidak punya hal-hal mempertaruhkan nyawa ataupun seorang yang suka mengabdikan diri."
"Hanya kebetulan, ada seseorang yang membuat kesempatan denganku dan akhirnya berakhir seperti ini."
"Begitu, sepertinya ada kaitan dengan dua gadis yang baru masuk denganmu."
Sudah kuduga orang ini memang jenius.
"Lalu pertanyaan terakhirku, siapa yang memimpin kerajaan Astrea? Aku yakin jika salah satu dari kita berbohong sihirmu akan aktif dan membunuh jiwanya."
"Kau menyadarinya, sungguh kenapa ada orang yang berbakat di tempat ini."
"Jawab saja pertanyaanku," desakku demikian.
"Veronica, dialah yang memimpin Astrea dan aku adalah pengikutnya."
"Jadi dia kah."
Seorang yang selama ini dikejar Fel bersembunyi di kerajaan lain.
"Giliranku, dibandingkan bergabung dengan kerajaan ini bagaimana kalau kau bergabung dengan kami? Apapun yang kau inginkan kami akan kabulkan."
"Aku tidak tertarik dengan itu."
"Sayang sekali, kalau begitu matilah."
Estropedia melangkah maju selagi mengayunkan pedangnya yang aku tahan baik oleh pedang hitam milikku.
__ADS_1