
Lima tahun tujuh bulan sebelum kekalahan raja iblis.
"Tuan Udin, aku sangat berterima kasih Anda menyelamatkanku serta melatihku, tapi kenapa aku harus pergi ke tempat ini?"
"Bukannya kau ingin mengalahkan iblis yang menghancurkan kotamu, jika kau ingin melakukannya, maka Pemukiman Dwarf adalah tempat yang tepat untukmu."
"Aku baru mendengarnya."
Dalam perjalananku kini aku telah berpetualangan bersama seorang gadis bernama Elina, sebelumnya aku menyelamatkannya dan sekarang aku mengajaknya berpetualang.
Sama seperti apa yang aku lakukan pada Armisa aku paling tidak ingin membuatnya bisa mandiri. Singkatnya aku hanya jadi pengasuhnya untuk sementara waktu saja.
Sesampainya ditepi tebing, aku dan Elina melihat seberapa tinggi tempat ini. Ada kabut yang menutupi bawahnya dengan ikan yang berterbangan di sekelilingnya.
"Kelihatanya enak tuan, apa mereka bisa ditangkap."
"Tentu saja bisa, mari kita pancing mereka."
"Yattaa."
Kami membuat pancingan sederhana lalu melempar kail ke dalam jurang, tak lama kemudian aku menarik sesuatu dari sana.
Itu bukan seekor ikan melainkan seorang peri kecil dengan wajah marah-marah.
"Sialan, kenapa kau memancingku? Apa kau belum pernah merasakan ditusuk kail."
"Tuan sepertinya Anda dapat ikan langka, apa rasanya enak?"
"Tentu saja enak, enak jidatmu... aku bukan makanan aku Pixy," teriak peri tersebut.
Peri yang aku tangkap memegangi kerah Elina selagi memukul-mukul dengan tangan mungilnya.
"Sepertinya enak."
__ADS_1
"Dengarkan aku, aku bukan makanan."
"Kita rebus saja."
"Rebus pala mu.. aku seorang janda yang harus membesarkan banyak anak-anak sendirian, tolong kasihani aku."
Kurasa sudah cukup menjahilinya.
"Kami tidak akan melakukan hal itu, lalu kenapa kau malah memakan pancinganku?"
"Mau bagaimana lagi aku lapar di bawah sana tidak cukup ada makanan untuk semua orang."
"Kalau tidak ada makanan kamu bisa mencarinya di tempat yang lain," balas Elina.
"Kalau kalian bisa turun ke bawah aku akan menunjukannya."
"Kurasa kami bisa melakukannya."
Aku menggendong Elina kemudian turun perlahan ke dasar jurang. Kabut yang kami lihat sekarang berada di atas kepala kami, aku berfikir bahwa dasar jurang akan gelap gulita namun sesungguhnya itu terang dengan bebatuan yang bersinar indah. Semuanya diisi rumah-rumah kecil serta banyak bunga-bunga yang berwarna cerah yang mengitarinya.
Para Pixy yang sejak tadi bersembunyi mulai bermunculan.
"Tak apa semuanya, manusia ini akan membantu kita untuk mendapatkan makanan."
Ada peri-peri kecil yang memeluk Pai.
Dia seorang janda.
Para Pixy mulai berbisik-bisik.
"Benarkah itu? Menganggumkan."
"Ada manusia yang kau membantu kita."
__ADS_1
"Ada ikan kalian tidak mau menyantapnya?"
"Kami vegetarian."
Aku mengerti itu. Pai mulai menjelaskan kenapa dia tidak bisa pergi dari sini termasuk penduduknya, tempat ini adalah satu-satunya tempat yang mereka anggap aman.
Dahulu kala ras Pixy telah berpegian ke berbagai pelosok negara, terkadang mereka ditangkap dan terkadang mereka juga menjadi makanan hewan liar.
Tempat ini satu-satunya kediaman yang nyaman bagi mereka khususnya tidak ada yang melewati jalur ini, jika pun ada mereka tidak akan repot-repot untuk ke dasar jurang untuk memeriksanya.
"Karena itulah tolong bantu kami."
"Apa ada yang bisa kita bantu, untuk mereka tuan?"
"Ada satu hal bagaimana kalau rute ini menjadi rute yang aman dilalui banyak orang."
"Kalau begitu kami akan diburu manusia lagi."
"Tidak begitu juga, aku akan membuat sebuah jembatan yang menghubungkan jurang, siapapun yang menggunakannya diharuskan untuk melemparkan makanan ke bawah sini seperti buah-buahan dan biji-bijian dengan begitu kalian akan mendapatkannya dengan mudah, tentu kalian juga harus mencoba untuk menghemat dan menyimpan makanan layaknya seekor semut."
"Mungkin itu akan berhasil."
"Rute ini memang jauh dari Pemukiman Dwarf tapi dekat dengan kota air panas. Rute ini akan jadi populer."
"Kalau begitu kami sangat mengandalkanmu, ngomong-ngomong siapa kalian berdua?"
"Harusnya kau menanyakannya sejak awal."
Aku dan Elina mulai membangun jembatan dan tak terlewatkan untuk memberikan penanda di depan jembatannya.
"Jika tidak membuang setengah dari makanan milikmu, siapapun yang lewat akan ditimpa kemalangan."
"Apa ini akan berhasil tuan?"
__ADS_1
"Tentu saja, manusia paling tidak bisa mengabaikan hal-hal seperti ini."
Aku ingat tentang surat berantai yang sering terjadi di dunia lamaku, mereka mau-mau saja menurutinya karena takut kemalangan.