
Blossom di depanku tidak pernah berhenti menghilang setelah aku menebasnya, dia berubah menjadi kelopak bunga dan lalu mengambil celah dari berbagai gerakanku.
Saat aku membalas dengan sihir secara otomatis mata ketiganya membuat pelindung untuk menangkisnya, lebih dari itu matanya juga dianugerahi kemampuan pembatuan.
Tangan kananku telah berubah menjadi batu bersama sebelah kakiku.
"Tidak bisa bergerak leluasa," katanya mengejek.
Aku ditendang hingga menabrak deretan bangunan yang sudah terselimuti akar. Karena inilah aku benci lawan yang menyulitkan seperti ini.
"Bukan waktunya bersantai."
Blossom memberikan sebuah tendangan yang aku hindari, ketika aku membalas dia kembali menjadi kelopak yang sama.
Bertarung dengan membatasi pandangan memang sulit dilakukan, ini memang bukan hariku untuk bermalas-malasan.
Aku merasakan pergerakan Blossom yang berlari padaku, aku mulai terbiasa bertarung selagi melihat kakinya karena itulah ketika dia memukul, aku berhasil menangkapnya dan ketika dia beralih pada tendangan aku sengaja menghantamkannya dengan tanganku yang sudah membatu.
Dia melompat mundur untuk menjaga jarak.
"Dengan keadaan seperti itu, apa kau masih mau belum menyerah, mudah bagiku untuk membunuhmu."
"Aku memiliki banyak kartu andalan di tanganku."
"Aku ingin melihat bagaimana kau mengatasi ini."
Blossom menebaskan tebasan angin dengan kecepatan tinggi, aku hanya bisa menebak hal itu.
Dia langsung terdiam saat sebuah gerbang setinggi 30 meter muncul untuk menahannya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Heh, apa kau baru melihat gerbang roh?"
Gerbang yang kutunjukan padanya merupakan gerbang roh Gemini, salah satu roh terkuat dari 12 gerbang roh bintang.
__ADS_1
Gerbangnya sendiri merupakan pahatan dua gadis yang saling membelakangi, saat gerbang terbuka dua sosok itu keluar sementara gerbangnya menghilang.
Mereka merupakan gadis kecil kembar yang masing-masing mengenakan gaun dengan rambut coklat masing-masing diikat ke samping, berbeda arah.
Kedua gadis tersebut melirik padaku lalu tertawa.
"Lihat itu, Udin babak belur hahaha kita harus memberitahukan semua orang di dunia roh."
"Menarik sekali, menarik, orang malas sepertinya pasti akan seperti ini, aku harap dia mati dan rohnya datang ke dunia kita, kita akan jadikan sebagai pembantu."
"Kelihatannya menarik."
Kalau aku tidak terluka sekarang aku akan meremas wajah mereka.
"Zaman sekarang namaku Rider."
Mereka kembali tertawa.
"Wajahmu terlalu pas-pasan untuk nama sebagus itu."
Mereka memang gadis bandel.
"Lupakan, kalian kembali saja aku akan memanggil yang lain."
"Kami hanya bercanda kau tahu, tolonglah jangan marah."
"Aku minta maaf."
Sungguh pusing saat mereka bicara, nama mereka Gemini, satu nama untuk dua orang.
"Jadi siapa lawan kami?"
Aku menunjuk ke arah Blossom.
"Ah, iblis kah, mari habisi dia."
__ADS_1
"Oke."
Masing-masing dari mereka memunculkan kapak besar sebelum menerjang padanya.
"Ini pertama kalinya aku melihat roh tapi rasanya aku tiba-tiba membenci kalian," kata Blossom.
Memang sudah sepantasnya roh dan iblis langsung bermusuhan walau baru pertama kali bertemu.
"Jangan khawatir nona muda, kami juga membencimu."
Mereka bertarung seperti orang gila, setiap tebasan menghancurkan tanah, memotong setiap akar seolah seperti sebuah kertas.
Blossom tidak begitu saja dikalahkan, dia balik membalas. Saat Gemini menyerang dengan kapak dari arah sampingnya secara bersamaan, ia menahan kapak itu masing-masing dengan tangan menciptakan hembusan angin kencang sebagai dampaknya.
Tak lama akar pohon bergerak untuk menjerat kaki keduanya, membawanya ke udara sebelum dihempaskan jatuh menciptakan semburan tanah di udara.
"Ayyyayaya... sakit sekali."
"Pantatku."
"Ini belum selesai."
"Kyaaa.. apa-apaan ini, dia bukan iblis biasa."
"Kuat sekali mungkin raja iblis."
"Kalian bertarunglah dengan baik atau kalian bisa mati."
"Sialan si udin... akan kubuat nasirudin nanti."
"Namaku Rider sekarang."
Jadi mata ketiga Blossom tidak bisa membatukan roh, ini sebuah pengetahuan baru.
Aku menggunakan sihir untuk mengembalikan keadaan tubuhku sedia kala.
__ADS_1